Fenomena “Gus-Gus-an”: Ketika Gelar Tak Lagi Sejalan dengan Akhlak
KhazanahOleh: Ahmad Luqman Hakim
Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik
Dalam beberapa tahun terakhir, jagat media sosial kita diramaikan oleh munculnya sosok-sosok pendakwah muda yang mengaku keturunan kiai—atau populer dengan sebutan “Gus-gus-an”. Mereka tampil dengan gaya khas santri: bersarung, berkopiah, dan bersorban, seolah mewakili citra Nahdlatul Ulama (NU) di ruang digital. Namun di balik semangat dakwah yang mereka gaungkan, ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan: mengapa semakin banyak yang membawa nama “Gus”, tapi semakin sedikit yang menampilkan adab seorang Gus sejati?
Fenomena ini menarik sekaligus memprihatinkan. Gus sejatinya bukanlah gelar formal, melainkan panggilan kehormatan untuk putra seorang kiai yang lahir dan tumbuh dalam tradisi pesantren. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar garis keturunan. Ia mengandung nilai adab, kesantunan, ilmu, dan tanggung jawab moral. Seorang Gus idealnya menjadi teladan — bukan hanya karena darah yang mengalir dalam tubuhnya, tapi karena akhlak dan kedalaman ilmunya.
Kini, sebagian orang menggunakan gelar Gus untuk meningkatkan popularitas, membranding diri, bahkan menjadikannya tiket menuju panggung dakwah yang sensasional. Tak jarang, dalam ceramah atau konten digital, mereka menyelipkan sindiran keras, bahasa kasar, bahkan menjatuhkan sesama ulama. Padahal, yang diwariskan para kiai bukanlah lidah yang tajam, melainkan hati yang teduh.
Seorang kiai sejati tidak membesarkan dirinya dengan merendahkan orang lain. Ia justru menundukkan kepala ketika dipuji, dan menasihati dengan kelembutan ketika melihat kekeliruan. Akhlak inilah yang seringkali hilang di tengah gemerlap dunia digital dakwah masa kini. Dunia yang memberi mikrofon kepada siapa saja, tetapi tidak selalu menuntun kepada kebijaksanaan.
Dalam tradisi pesantren, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Seseorang belum dianggap alim jika belum beradab. Santri diajarkan untuk mencium tangan kiai bukan karena kultus, tapi karena penghormatan terhadap ilmu. Diajarkan untuk berbicara seperlunya, mendengarkan sepenuhnya, dan tidak menghakimi siapa pun tanpa ilmu yang kokoh. Maka, ketika seorang Gus melupakan nilai-nilai itu—menggunakan panggung dakwah untuk menyerang atau menebar kebencian—ia sejatinya telah kehilangan ruh pesantren.
Sebagai bagian dari warga Nahdliyin, kita tentu bangga melihat generasi muda yang berani tampil di ruang publik. Mereka adalah wajah baru dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di era digital. Namun, semangat tanpa akhlak hanya akan menjadi bara yang membakar diri sendiri. Menjadi Gus bukan soal nama atau keturunan, tetapi tentang bagaimana meneladani jejak para masyayikh yang sabar, lembut, dan istiqamah dalam mendidik umat.
Ada ungkapan yang indah dari KH. Hasyim Asy’ari:
“Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa cahaya.”
Artinya, pengetahuan dan keturunan mulia tak berarti apa-apa bila tak diiringi akhlak. Banyak yang bisa berbicara tentang agama, tapi tak semua bisa menghadirkan keteduhan di hati pendengarnya. Dan inilah tantangan bagi para pendakwah muda NU hari ini: bagaimana berdakwah dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai Ahlussunnah — moderat, santun, dan penuh kasih sayang.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih bijak. Jangan mudah terpesona oleh gelar, pakaian, atau gaya bicara seseorang. Ukur seorang pendakwah bukan dari keturunannya, tetapi dari akhlaknya. Apakah ia menyatukan atau memecah-belah? Apakah ia menyejukkan atau memprovokasi? Sebab, sebagaimana nasihat ulama terdahulu: “Lisan yang baik lebih berharga dari ribuan nasihat yang kasar.”
Kini, saat banyak “Gus-gus-an” bermunculan dengan berbagai gaya dan platform, kita perlu kembali menegaskan bahwa kehormatan bukanlah warisan, tapi hasil perjuangan. Menjadi Gus sejati berarti menjaga nama baik para leluhur dengan perbuatan, bukan sekadar dengan klaim atau simbol.
Akhirnya, mari kita jadikan gelar Gus sebagai pengingat, bukan kebanggaan kosong. Pengingat bahwa di balik setiap panggilan itu ada tanggung jawab besar untuk membawa kedamaian, bukan perpecahan; keteladanan, bukan kesombongan. Sebab gelar hanyalah huruf, tapi akhlak adalah makna. Dan di hadapan Allah, yang diingat bukanlah nama kita, melainkan amal dan budi kita.

