Kala Pendidikan di Barat Kembali ke Sistem Konvensional
OpiniMasih ingat lagunya Bang Haji Rhoma Irama, yang berjudul “Kegagalan Cinta.” Pada orang yang berusia 60-an tentu masih ingat. Tetapi generasi mileneal tentu sudah tidak tahu. Generasi milenial lebih cenderung pada lau-lagu pop ketimbang lagu dangdut. Di dalam syair lagu itu terdapat potongan bait yang berbunyi: “kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang berjanji kau yang mengingkari.”
Lirik lagu ini rasanya cocok untuk menggambarkan tentang dunia pendidikan di Barat yang sekarang berkecenderungan untuk kembali ke masa lalu, pendidikan yang tidak mengutamakan penggunaan Artificial Intelligent (AI) dan digitalisasi, akan tetapi lebih cenderung ke pendidikan dengan sistem konvensional, dengan memperbanyak pendidikan baca dan tulis secara manual. Di masa lalu Barat yang memulai sistem pendidikan modern dengan sistem AI dan digitalisasi dan sekarang kembali ke masa lalu. Kala institusi pendidikan pada negara berkembang, termasuk Indonesia bergegas menerapkan program pendidikan berbasis AI dan digitalisasi, maka akhirnya Eropa kembali ke masa lalu. Kau yang memulai dan kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji bahwa sistem pendidikan modern begitu menjanjikan, tetapi sekarang kau yang mengingkari.
Secara sosiologis, maka perubahan sosial itu mengandung tiga pola, yaitu perubahan yang cenderung berbeda dengan masa lalu, dan ada yang berkecenderungan untuk kembali ke masa lalu. Tampaknya, Eropa yang direpresentasikan dengan Swedia dan Jerman ternyata memilih kembali ke masa lalu. Pendidikan yang berbasis pada sistem modern dengan instrumen AI dan digtalisasi kemudian diubah dengan kebijakan baru yang lebih ramah dengan pendidikan sistem konvensional.
Kita sekarang sedang hidup pada Era revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi, seperti artificial inteleligent (AI), big data dan internet of thing. Di antara kemajuan di dalam dunia pendidikan adalah dengan diterapkannya AI dan digitalisasi. Perubahan ini telah merasuki dunia pendidikan sedemikian mendalam. Terutama pada era Covid-19, maka penggunaan media daring dalam sistem pendidikan sedemikian kuat. Pada saat terjadi pembatasan pertemuan atau social distancing, maka salah satu yang kemudian menjadi mengedepan di dalam dunia pendidikan adalah sistem pendidikan berbasis daring. Hanya inilah yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar di era social distancing.
Bahkan berdasarkan penjelasan yang dikemukanan oleh Clayton Christenson, Professor Bisnis dari Harvard University, bahwa yang akan bertahan di era artificial intelligent dan digitalisasi adalah perguruan tinggi yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai program pendidikannya. Berdasarkan prediksinya, bahwa di Amerika Serikat akan terjadi penurunan kuantitas institusi pendidikan dalam kurun 10-15 tahun ke depan sebesar 50%. Melalui prediksi ini, maka dapat dinyatakan bahwa hanya perguruan tinggi yang mengembangkan dirinya menuju ke arah smart university saja yang akan bertahan, sementara itu institusi pendidikan yang tetap mempertahankan konvensionalitasnya maka akan mengalami stagnasi. Christenson tentu saja benar, sebab berdasarkan pengamatan atas program pendidikan yang berbasis teknologi informasi semakin banyak diminati.
Masyarakat di dunia ketiga dengan susah payah berusaha untuk memasuki dunia pendidikan modern dengan penggunaan internet dan pirantinya untuk program pembelajaran, banyak lembaga pendidikan yang berlabel lembaga pendidikan unggul dengan bangga mengampanyekan bahwa program pembelajarannya based on information technology. Di Jakarta, lembaga pendidikan yang berstatus unggul sudah sama sekali tidak menggunakan paper. Lembaga pendidikan tersebut sudah paperless. Semua bisa diakses melalui teknologi informasi. Siswa tidak perlu menggunakan buku dan alat tulis, sebab semuanya sudah menggunakan teknologi canggih. Tidak hanya sekolah yang bangga akan tetapi juga orang tuanya. Seakan-akan lembaga pendidikan yang benar adalah lembaga pendidikan yang sudah semuanya menggunakan internet atau serba internet. Buku bisa diakses lewat internet, tugas bisa dikerjakan dengan menggunakan instrumen internet, semuanya bisa diselesaikan dengan internet. Siswa tidak lagi perlu menulis. Siswa tidak perlu lagi menggambar atau melukis, siswa tidak lagi perlu menulis halus, dan tidak perlu segala hal yang terkait dengan kerja tangan untuk melakukannya.
Akibatnya siswa lembaga pendidikan tersebut benar-benar internet minded. Semua bisa diselesaikan dengan penguasaan teknologi informasi. Ternyata bahwa sistem pembelajaran seperti ini akan menghasilkan manusia yang hanya bisa berpikir dan bekerja dengan bantuan teknologi. Pendidikan seperti ini akan menghasilkan individu yang serba tergantung. Mereka menjadi tidak mandiri. Mereka tidak akan mampu bekerja tanpa instrumen internet. Kemampuan intelektualnya akan tereduksi dengan internet, jiwa sosialnya juga akan tereduksi dengan interet dan emosinya juga sangat tergantung pada internet. Dengan demikian sistem pendidikan yang fully internet akan dapat menghasilkan individu yang tidak memiliki kemandirian, dan dapat bekerja di dalam suasana apapun. Pendidikan seperti itu akan menghasilkan manusia mesin yang sangat tergantung dengan keberadaan piranti teknologi.
Manusia dibekali Tuhan dengan empat kecerdasan sekaligus. Manusia memiliki rational intelligent, emotional intelligent, social intelligent and spiritual intelligent. Empat kecerdasan ini tidak boleh direduksi menjadi kecerdasan teknologis yang berbasis pada rational intelligent semata. Manusia harus memaksimalkan otak kiri dan kanan dalam program pembelajaran, dan program ini tidak boleh direduksi dengan membangun kecerdasan instrumental belaka.
Manusia cerdas seperti Plato, Aristoteles, Kant, Einstein, Beethoven, Picasso, Michael Angelo di dunia Barat bisa memaksimalkan kecerdasannya dengan tidak menggantungkan pada kecerdasan instrumental. Demikian pula para ilmuwan polymath, seperti Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Ibnu Khaldun, Imam Ghazali, Imam Syafi’i, adalah individu yang bisa memaksimalkan kemampuannya dengan tidak bergantung pada kecerdasan instrumental. Para akademisi dan intelektual muslim tersebut memaksimalkan empat kecerdasan sekaligus sehingga menjadi terkenal dan diakui oleh kaum akademisi dan kaum intelektual di seluruh dunia.
Berdasarkan artikel “Hadapi Pendidikan di Era AI, Swedia dan Jerman Pilih Kembali ke Buku dan Tulisan Tangan”, dinyatakan bahwa di dunia Barat, Swedia dan Jerman sedang memelopori kembalinya pendidikan konvensional dengan menerapkan kembali ke buku dan teks cetak. Sebagaimana kebijakan di Swedia bahwa institusi pendidikan PAUD tidak lagi menggunakan gawai sebagai piranti pendidikan, akan tetapi kembali kepada pendidikan konvensional dengan buku cetak dan siswa harus menulis di dalam pekerjaan kelasnya. Demikian pula di Jerman juga menerapkan hal yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karin James dari Indiana University bahwa pembelajaran dengan menggunakan gadget atau gawai ternyata memiskinkan kreativitas. Demikian pula penelitian di Universitas Princeton dan UCLA juga menghasilkan temuan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang materi kuliah dibandingkan yang menggunakan komputer. (inilah.com diunduh 21/09/23).
Oleh karena itu, kiranya harus dicari formula yang tepat dalam program pembelajaran, misalnya dengan mengembangkan program pendidikan yang menuju ke arah masa depan, tetapi juga tidak meninggalkan torehan bagus yang sudah dihasilkan dari program pendidikan di masa lalu. Kiranya diperlukan kajian mendalam untuk menentukan kebijakan mana yang akan dipilih berdasarkan pilihan yang cerdas dan relevan bagi masyarakat Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

