Kelas Menengah: Tekanan Ekonomi dan Perilaku Digital
OpiniSudah agak lama saya dikirimi artikel oleh Cak Hasanuddin Ali dari Alvara Research Center, tanggal 20 Maret 2025. Dan sesungguhnya sudah terdapat keinginan untuk menulis dengan tema Kelas Menengah Indonesia, akan tetapi ada banyak tema yang juga menarik dan harus segera ditulis, maka artikel dengan tema seperti ini baru bisa dihadirkan. Tema artikel yang dikirim berjudul “Kelas Menengah Turun, lalu Harus Bagaimana? Sebuah artikel menarik yang membahas secara komprehensif mengenai kelas menengah Indonesia.
Artikel dimaksudkan untuk memberikan ulasan mengenai kelas menengah Indonesia, yang pada awal tahun 2025 memang sedang mengalami “goncangan” secara ekonomi karena beberapa variable yang di tulisan ini saya sebut sebagai “tekanan ekonomi.” Berdasarkan artikel tersebut dinyatakan bahwa data BPS menunjukkan kelas menengah Indonesia memang mengalami penurunan sebesar 9,48 juta dari tahun 2019 sejumlah 57, 33 juta menjadi 47, 85 juta pada tahun 2024. Tren menurun tersebut dapat dilihat dari data jumlah kelas menengah yang mengalami penurunan secara signifikan, yaitu 2019 (57,33 juta), 2021 (53,43 juta), 2022 (49,51 juta), 2023 (48,27 juta) dan 2024 (47,85 juta).
Di antara variable yang penting adalah pengaruh Covid-19, yang tentu saja memiliki sejumlah pengaruh bagi perkembangan ekonomi Indonesia, termasuk kelas menengahnya. Physical distancing dan social distancing yang menjadi kebijakan pemerintah tentu saja memiliki pengaruh atas keterbatasan pengembangan ekonomi. Padahal kelas menengah inilah yang sesungguhnya menjadi pemicu perkembangan ekonomi masyarakat. Kaum kelas menengah merupakan kelompok yang sangat penting di dalam pertumbuhan ekonomi karena memiliki kemampuan daya beli yang cukup signifikan.
Kebanyakan kelas menengah adalah mereka yang bekerja di sektor industry manufaktur, dan dengan banyaknya industri manufaktur yang terbengkelai pada saat Pandemi Covid-19, maka jumlah kelas menengah menjadi berkurang. Mereka kebanyakan makan simpanan, sehingga status sebagai kelas menengah menjadi menurun. Daya beli menjadi melemah dan akibatnya tentu berpengaruh atas pertumbuhan ekonomi. Sebagai akibat lebih jauh adalah semakin meningkatnya keluarga rentan miskin. Data menunjukkan bahwa kelompok rentan miskin dari 54,97 juta tahun 2019 menjadi 67,69 juta pada tahun 2024. Akibat lebih lanjut dari menurunnya daya beli masyarakat akan berdampak pada sektor keuangan, properti, otomotif, pariwisata, dan ritel.
Ada banyak hal yang dibahas di dalam artikel ini, antara lain adalah tentang penurunan IHSG yang diakibatkan ekonomi global yang tidak menentu oleh kebijakan ekonomi Trump. Namun demikian situasi ekonomi domestik juga terlibat serta di dalam penurunan IHSG yang mencapai angka 4 persen. Akan tetapi catatan menarik dari artikel ini bahwa kebijakan Prabowo belum menghasilkan sentimen positif atas perekonomian Indonesia. Selain ini juga dibahas tentang perilaku liburan, yang juga berkecenderungan turun, yang disebabkan oleh penurunan kelas menengah yang selama ini identic dengan rekreasi dan perilaku hiburan.
Kemudian tentang perilaku belanja yang juga menurun. Selama ini kelas menengah memiliki anggaran yang jelas dalam belanja. Namun seirama dengan penurunan jumlah kelas menengah, maka daya belinya juga menurun. Kelas menengah merupakan factor peningkatan pertumbuhan ekonomi, sehingga penurunan jumlah kelas menengah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Di antara yang sangat penting juga terkait dengan perilaku digital. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa pengguna internet di Indonesia tahun 2024 sebanyak 221 juta orang atau 79,5 persen. Artinya penggunaan internet sudah tidak lagi didominasi oleh kelas menengah ke atas. Internet tidak lagi didominasi orang perkotaan tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara umum. Berdasarkan survey Alvara diketahui bahwa dalam bulan terakhir pengguna internet sebanyak 94,4 persen dengan kecenderungan semakin tinggi kelas social ekonomi semakin banyak mengakses internet.
Survey ini juga menegaskan bahwa dari rentang usia 15 tahun ke atas, maka didapatkan gambaran bahwa kelas atas 97% memanfaatkan internet, kelas menengah atas dengan prosentase sebesar 96,7% dan kelas menengah sebesar 95,1%, kelas menengah bawah sebesar 95% dan kelas bawah sebesar 84,7%. Data ini menjelaskan bahwa semakin tinggi kelas social ekonomi ternyata semakin tinggi pendayagunaan internet.
Namun demikian ada hal yang menarik, bahwa kelas atas lebih dominan menggunakan internet untuk kepentingan pendidikan, entertainment dan inspirasi, dengan prosentase sebesar 31,6%, 19,7% dan 18,4%. Kelas menengah atas untuk kepentingan pendidikan dan entertainment yang nyaris seimbang dan inspirasi dengan prosentasi sebesar 16,5%, 25,7%dan 17,8%. Kelas menengah untuk entertainment, pendidikan dan inspirasi dengan prosentase sebesar 30,7%, 22,7%dan 14,4%, kelas menengah bawah untuk entertainment, pendidikan dan Inspirasi dengan prosentase sebesar 31,6%, 24,% dan 31,6%, kelas bawah untuk entertainment, pendidikan dan inspirasi dengan prosentasi sebesar 36,0%, pendidikan 25,9% dan inspirasi 15,1%.
Data ini memberikan gambaran bahwa penggunaan internet ternyata masih untuk kepentingan yang positif. Dari data di atas ternyata penggunaan internet di kalangan kelas menengah ke atas dominan digunakan untuk pendidikan dan baru untuk entertainment. Sementara itu untuk kelas menengah ke bawah internet dominan digunakan untuk entertainment dan kemudian pendidikan. Dapat dinyatakan bahwa internet bagi masyarakat masih memiliki makna positif. Selain itu juga internet digunakan untuk informasi dan live streaming.
Jika kemudian kelas menengah turun kuantitasnya, maka juga dipastikan bahwa penggunaan internet juga akan mengalami perubahan, namun demikian yang tetap menggembirakan bahwa internet masih memiliki makna positif bagi masyarakat. Sebagai survey tentu hanya akan menjelaskan tentang data permukaan, sebab kita juga meyakini bahwa internet juga banyak digunakan untuk judi online atau judol dan bahkan untuk mengakses hal-hal negative lainnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

