Jadikan Agama Sebagai Perekat Cinta: Prof. Nasaruddin Umar (Bagian Kedua)
OpiniManusia, sebagai makhluk yang diyakini ciptaan Allah SWT, tentu sudah sepantasnya jika manusia itu bersyukur telah diciptakan Allah sebagai sebaik-baik ciptaan. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa melakukan kebaikan di dalam kehidupannya. Manusia yang di dalam dirinya terdapat rasa cinta dan kasih sayang berbasis pada ajaran agama yang terkait dengan humanitas. Cinta dan kasih sayang yang tidak membedakan asal usul, warna kulit, ras dan golongan social, yang dapat mengejawantah di dalam kebaikan perilaku yang diekspresikan.
Semua agama mengajarkan kebaikan. Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Ajaran keadilan, persamaan, dan nirkekerasan merupakan inti dari semua agama. Jika kemudian ada manusia yang beragama dengan melakukan ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan, maka sesungguhnya manusia tersebut tidak memahami makna agama. Nilai agama sebenarnya bersearah dengan keharmonisan, kerukunan dan keselamatan. Menurut Prof. Nasaruddin Umar, Menag, bahwa inilah yang disebut dengan beragama berbasis pada cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia hakikatnya adalah kasih sayang dan cinta kepada Allah SWT.
Ada tiga hal yang dijelaskan oleh Prof. Nasaruddin Umar di dalam taushiyahnya pada saat acara Halal bi Halal yang diselenggarakan di Aula HM. Rasyidi, dan diikuti secara luring dan daring, pada Hari Rabo, 09/04/2025. Pertama, visi Kemenag yang dituangkan dalam misi dan program apapun, sesungguhnya adalah Upaya untuk mendekatkan agama dengan pemeluknya. Agama harus semakin fungsional di dalam kehidupan. Agama itu full pedoman untuk kehidupan, makanya dengan menjadikan agama secara fungsional, tentu akan menghasilkan produk perilaku yang baik, misalnya anti kekerasan, anti korupsi, anti diskriminasi, anti pembunuhan karakter dan sebagaianya. Bisa dinyatakan bahwa apapun program yang dilaksanakan oleh Kemenag, maka produknya adalah kerukunan dan harmoni di dalam kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita kembangkan beragama yang mengedepankan cinta dan kasih sayang antar sesama umat beragama dan umat manusia. Hilangkan rasa saling curiga, rasa saling bermusuhan, dan saling ingin berkuasa dan seterusnya.
Kedua, keyakinan tentang pertolongan Tuhan itu penting di dalam kehidupan. Di dalam cerita tentang Isra’ dan Mi’raj, maka di kala dinyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ dan Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan kemudian Mi’raj untuk bertemu dengan Allah SWT., maka Sayyidina Umar bin Khattab tidak langsung percaya. Akalnya tidak menerimanya. Tetapi Abu Bakar As Shiddiq langsung mempercayainya karena perasaan religiusnya yang tajam untuk menerimanya. Sayyidina Ali dengan kecerdasannya yang komplit tentu menerimanya. Akhirnya semua yakin bahwa yang dilakukan oleh Nabi tersebut benar.
Nabi Muhammad SAW memiliki sahabat yang lengkap. Sayyidina Abubakar memiliki talenta beragama dengan rasa, Sayyidina Umar beragama dengan akal, Sayyidina Ali beragama dengan kecerdasannya dan Zaid bin Tsabit dengan kecerdasan bahasanya. Di kala terjadi Perang Badar, di mana umat Islam dalam jumlah yang sedikit dan akan melawan sejumlah kabilah yang dipimpin oleh Suku Quraisy dan mereka adalah para pimpinan kabilah-kabilah, maka Nabi Muhammad bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sedemikian tingginya dalam mengangkat tangan dalam berdoa tersebut sampai ketiaknya kelihatan. Nabi Muhammad SAW memohon kepada Allah untuk memenangkan peperangan, sebab jika umat Islam kalah, maka tamatlah agama Allah. Melalui bantuan tentara yang dikirim oleh Allah, maka pasukan berkuda itu dengan gesit menyerang terhadap musuh umat Islam, sehingga kaum Quraisy dan sekutunya kalah. Banyak kuda musuh berjatuhan, banyak pohon kurma beterbangan dan umat Islam memenangkan pertempuran. Musuh-musuhnya yang masih hidup kemudian diborgol di masjid. Lalu Umar usul agar mereka yang laki-laki dibunuh dan yang perempuan dijadikan budak. Maka Nabi Muhammad SAW tidak setuju. Nabi justru berkeinginan agar para tawanan itu dibebaskan dengan tanggungjawab. Mereka memiliki berbagai keahlian, misalnya ada yang ahli tata rias, ahli perkebunan, ahli pertanian, ahli membuat senjata dan bahkan ahli strategi perang, serta ada ahli bahasa. Zaid bin Tsabit adalah ahli dalam berbagai Bahasa, misalnya Bahasa Ibrani, Bahasa Parsi, Bahasa Semitis dan sebagainya. Masing-masing diminta Nabi Muhammad SAW untuk mengajari 10-20 orang untuk dibina dan ditraining dengan keahlian-keahlian tersebut. Begitulah Nabi Muhammad memanfaatkan tawanan perang untuk kepentingan umat Islam.
Ketiga, jadikanlah perbedaan sebagai kekayaan. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan antar golongan yang menempati wilayah Indonesia yang sangat luas. Oleh karena itu jangan sampai perbedaan dijadikan sebagai ajang untuk saling prejudice, syakwasangka, bahkan konflik social. Bangsa Indonesia sudah teruji untuk berbinneka tunggal ika. Kita sudah memiliki pengalaman merajut perbedaan menjadi kekuatan. Dengan demikian, ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah harus diperkuat. Islam juga mengajarkan bahwa orang bisa masuk surga dengan berbagai pintu masuk. Min abwabi mutafarriqah.
Di sinilah makna pentingnya beragama dengan kasih sayang dan cinta. Jadikan semua aktivitas dalam kehidupan dengan prinsip tersebut. Di tempat ibadah, di lembaga pendidikan, di mana saja hendaknya menerapkan agama yang berbasis cinta dan kasih sayang.
Oleh karena itu, harus dirumuskan cara beragama yang memenuhi standart cinta dan kasih sayang, termasuk rekonstruksi kurikulum cinta dan kasih sayang dalam pendidikan. Ke depan harus dihasilkan produk orang beragama yang menerapkan cinta dan kasih sayang berbasis humanisme sebagai pedoman dan aktivitas kehidupannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

