(Sumber : kemenag.go.id)

Kesalehan Sosial Versus Kesalehan Individual

Opini

Ibn Muljam merupakan seorang ulama dari golongan Khawarij. Ia adalah seorang alim, ahli al-Qur’an dan ahli ilmu fikih. Di sisi lain, ia adalah manusia yang tega membunuh Sayyidina Ali Karramahullahu Wajhah yakni khalifah keempat dalam jajaran Khulafaur Rasyidin. Selain itu, Sayyidina Ali adalah adalah menantu Rasulullah yang dijuluki bab al ilm, orang yang mulia wajahnya, sebab tidak pernah sekalipun menyembah patung-patung berhala di Mekkah. Beliau adalah seorang pemuda yang menggantikan posisi tidur Rasulullah pada malam keberangkatan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan hijrah ditemani Sayydina Abu Bakar

  

Inilah dunia keyakinan tentang tafsir kebenaran berbalut dengan politik, sehingga seorang yang alim sekelas Ibn Muljam pun tega melakukan pembunuhan dengan keyakinannya tersebut.  Sama halnya dengan pembunuhan kepada Sayyidina Hussein di Padang Karbala di saat Sayydina Hussein akan kembali ke Persia, yang juga berbasis keyakinan tafsir agamanya ketika berbalut dengan politik. Baik kaum Khawarij maupun pemburu kekuasaan pada saatnya akan tega membunuh orang-orang dekatnya, sahabat-sahabatnya dan orang yang dikasihinya. Semua bisa terjadi karena keyakinan akan tafsir agamanya yang cenderung membenarkan terhadap tafsirnya atau pemahaman keagamaannya. Ada individu yang memuja keyakinannya sebagai kebenaran dan melakukan hal-hal yang terkait dengan keyakinannya, tidak memberikan ruang untuk yang lain yang berekspresi berbeda, sementara itu juga terdapat individu yang berkeyakinan total terhadap agamanya dan mengamalkannya, tetapi masih menyisakan ruang untuk menghargai dan memberikan toleransi atas kebenaran keyakinannya untuk hidup dalam ruang yang sama. Inilah yang disebut sebagai kesalehan dalam sifat dan ekspresi yang  berbeda. 

  

Berdasarkan peristiwa semacam itu, maka di dalam dunia ilmu sosial keagamaan dikenal konsep kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual disimbolisasikan dengan pemahaman dan pengamalan agama yang tinggi tetapi hanya sebatas untuk kepentingannya sendiri. Sedangkan kesalehan sosial merupakan simbolisasi dari kesalehan diri dan berkontribusi untuk kepentingan orang lain. Ada orang yang hanya saleh individual tetapi tidak saleh sosial. Sekelompok orang yang meyakini hanya tafsir agamanya saja yang benar dan yang lain salah termasuk dalam kategori saleh individual. Artinya tidak peduli terhadap dunia keyakinan dan ekspresi keyakinan orang lain.

  

Tuhan sebenarnya  telah mengajarkan bahwa dunia ini dibangun di atas varian-varian dalam banyak aspek. Ada orang berkulit berwarna, ada yang berkulit putih, ada yang berkulit kuning atau berkulit cokelat, ada yang berkulit hitam atau berkulit kemerah-merahan. Semua diciptakan Tuhan sebagai hiasan di dunia, bahwa memang diciptakan manusia dalam bersuku-suku bangsa dan bergolongan-golongan. Bukan warna kulit yang menjadi substansi kebaikan dan kemaslahatan tetapi adalah ketakwaannya atau pemahaman dan ekspresi pemahamannya yang bersearah dengan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling baik. 

  

Seirama dengan perubahan zaman, maka terdapat banyak manusia yang dapat dikategorikan dengan labelling saleh individual, yaitu mereka yang menganggap bahwa “Sang Liyan” itu harus dinihilkan. Mereka yang berbeda keyakinan dianggap sebagai musuh dan harus dimusnahkan. Bahkan sesama beragama Islam tetapi berbeda dalam menafsirkan ajaran ritual, juga harus dikafirkan. Dan bagi  mereka yang kafir wajib dibunuh. Ini bagian dari konsekuensi atas tafsiran agamanya. Inilah wajah destruktif agama yang diakibatkan oleh doktrin agama yang ditafsiri hanya sebagai kebenaran tunggal atas tafsir agama. 

  

Sebagaimana kaum Khawarij yang menghalalkan darah lawannya, maka begitu pulalah keadaaan sekarang. Bahkan tidak hanya darah lawannya tetapi juga darahnya sendiri, yaitu untuk melakukan bom bunuh diri dalam mencapai keinginan kelompoknya. Begitu kuatnya pengaruh ideologi agama itu, maka apa saja yang dianggapnya benar akan dilakukannya termasuk juga menjadi pengantin bunuh diri. Dewasa ini sedang terjadi Gerakan New Khawarij yang memiliki kesamaan ideologis dengan konsepnya yang sangat mendasar: “la hukma illah lillah”. Makanya UUD, Pancasila, dan semua regulasi yang diciptakan oleh manusia dianggap sebagai thaghut atau sesuatu yang bisa mengarahkan kepada kekafiran. 

  

Di tengah gejolak semakin melemahnya kesalehan sosial dan semakin menguatnya kesalehan individual, maka survey yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI melalui Puslitbsng Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK), yang dinyatakan bahwa: “Indeks Kesalehan Sosial (IKS) Nasional 2021 berkategori sangat baik atau 83,92 persen.  Survei ini menyatakan bahwa masing-masing variable independen yaitu habitus, pengamalan ritual agama, pengetahuan agama, dan program kementerian agama berkorelasi positif dan signifikan terhadap kesalehan sosial”. Hanya saja bahwa IKS ini baru mengukur terhadap enam agama, dan belum memetakan terhadap aliran kepercayaan atau kebatinan yang terdapat di Indonesia. Seminar hasil survey ini dihadiri oleh pemuka-pemuka agama di Indonesia. (Kemenag.go.id).

  

Kesalehan sosial memang merupakan pemahaman dan tindakan yang dilakukan oleh individu dalam relasinya dengan kehidupan sosial. Sebagaimana di dalam survey ini maka yang menjadi variabelnya yaitu pengetahuan agama, ritual keagamaan, habitus dan program kemenag. Saya percaya bahwa di dalam variable ini tentu sudah terdapat indicator-indikator yang memberikan gambaran  tentang indeks dimaksud. Sebagai hasil survey tentu kesimpulan yang didapatkan adalah data tentang potensi, maka ketika dinyatakan bahwa IKS tersebut sangat baik, maka berarti masih ada potensi besar masyarakat Indonesia untuk berkesalehan sosial. 

  

Melalui hasil survey ini juga sekaligus memberikan penegasan bahwa asumsi potensi untuk berkesalehan individual semakin menguat tentu bisa direduksi oleh data dimaksud. Dan harapan kita tentu saja bahwa ke depan IKS masyarakat Indonesia akan semakin baik, seirama dengan peningkatan religiositas yang juga berpotensi meningkat.

  

Wallahu a’lam bis al shawab.