(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Kompetisi Literasi Keagamaan Kementerian Agama (Bagian Dua)

Opini

Kala saya dikontak melalui WhatsApp oleh Cak Sugeng Riyanto (Kasubag TU Pusat Penilaian  Buku Agama, Lektur dan Literasi Keagamaan)  dari Sekretariat Jenderal  Kemenag atas petunjuk Dr. M. Sidik Sisdiyanto, tentang undangan ke Jakarta dalam acara Festival Literasi Keagamaan, 2025, maka saya menyatakan bahwa saya masih harus berada di Tuban karena sedang dalam nuansa wafatnya Emak, Hj. Turmiatun, 10/11/2025, maka saya menyatakan: “saya masih harus konsentrasi di rumah Tuban, sebab malam Jum’at ada acara tahlilan sebagaimana tradisi di desa saya.”

    

Dua  hari berikutnya, saya diminta untuk membuat video pendek tentang profil saya. Maka saya meminta Mevy Eka Nurhalizah untuk membuat video tersebut. Maklum saya tentu tidak bisa membuatnya. Ini urusan anak muda. Begitulah pikiran saya.  Akhirnya, video pun jadi dan saya kirimkan ke Cak Sugeng. Mungkin penting video itu. Dan akhirnya saya baca sekali lagi surat elektronik itu, ternyata memberitahu bahwa saya menjadi pemenang nominasi Literasi Keagamaan Kementerian Agama 2025. Saya lalu membicarakan hal ini dengan  keluarga, dan mereka mengizinkan saya untuk ke Jakarta, “Tahlilan masih banyak yang ngurus.” Begitulah ucap Indah, Istri saya. 

  

Ternyata acara ini memang disiapkan secara memadai sebagai puncak Festival Literasi Keagamaan. Banyak yang diundang. Para pejabat dan juga Kepala Madrasah dan para siswa yang memenangkan berbagai kompetisi yang diselenggarakan oleh Kemenag. Inilah saatnya mereka bisa berfoto dengan Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Sekretaris Jenderal Kemenag, Prof. Dr.Phil. Kamaruddin Amin, MA, Kepala Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur dan Literasi Keagamaan  Kemenag.,  Dr. Muchamad Sidik Sisdiyanto, Prof. Nur Syam, dan dua tokoh literasi keagamaan dan para pejabat lainnya.

  

Ada tiga orang yang memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Literasi Keagamaan 2025. Saya diberikan pengakuan sebagai “Penggerak Moderasi Beragama Tahun 2025”. Saya dinyatakan layak untuk menjadi Tokoh Literasi Keagamaan 2025. Di dalam penilaiannya, maka yang diutamakan adalah kontinuitas dalam gagasan dan pemikiran tentang moderasi beragama serta tindakan untuk menyebarkan moderasi beragama lewat berbagai institusi  yang bervariasai yang plural dan multicultural. Lalu, Prof. Dr. Dra. Hj. Kembong Daeng, M.Hum dalam Kategori “Pelestari dan Pengembang Literasi Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal”, dan Dr. Greg Sutomo, MA, MHum., Kategori “Penggagas Dialog dan Literasi Lintas Iman.”

  

Cara untuk melacak tentang aktivitas saya di dalam menggerakkan moderasi beragama tentu bisa dilihat dan dianalisis dari berbagai tulisan saya yang semenjak lama telah banyak menelorkan tulisan tentang pluralitas, multikulturalitas, kebinekaan, dan moderasi beragama. Banyak buku saya yang bertajuk multikulturalitas dan pluralitas, seperti: “Tantangan Multikulturalisme di Indonesia: Dari radikalisme menuju kebangsaan” (Kanisius, 2008),  “Demi Agama, Nusa dan Bangsa” (Prenadamedia, 2018), “Menjaga Harmoni Menuai Damai (Prenadamedia, 2017), “Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Solusi Moderasi Agama (Fatawa Publishing, 2018), “Upacara Liminalitas di Indonesia” (NSC Publishing, 2023), “Perjalanan Etnografi Lima Benua (LKiS, 2016), “Perjalanan Etnografi Spiritual” (Diantama, 2018), “Moderasi Beragama di Indonesia, Narasi Tokoh, Islam Wasathiyah dan Islam Indonesia” (NSC, 2023), “Islam itu Indah” (NSC, 2024), “Kepemimpinan Kolektif Kolegial dalam Menyelesaikan Masalah Keagamaan Melalui FKUB di Indonesia (NSC, 2024)  dan sejumlah artikel yang berisi gagasan moderasi beragama. 

  

Selain itu, cara melacak gagasan saya tentang Moderasi Beragama tentu dengan mudah didapatkan. Melalui tulisan-tulisan saya di Blog yang berafiliasi ke UIN Sunan Ampel tentu tidak susah. Blog tersebut adalah nursyam.uinsa.ac.id yang menyajikan banyak sekali tulisan tentang moderasi beragama. Kelebihan blog ini adalah berisi artikel dari hasil  aktivitas saya dalam bidang moderasi beragama, yang saya sampaikan dalam banyak forum lintas agama, misalnya Agama Buddha, Hindu, Kristen, Katolik dan Konghucu dan tentu Islam. Ada acara seminar,  pendidikan dan pelatihan serta ceramah-ceramah dengan tema moderasi beragama. Melalui blog ini, maka aktivitas saya terpantau dan materi aktivitas tentang moderasi beragama juga dipahami. Tulisan di Blog ini berjumlah 2394 artikel (16/11/2025) dengan berbagai topiknya. 

  

Selain itu juga terdapat tulisan di nursyamcentre.com yang menjadi tempat untuk menuangkan gagasan tentang moderasi beragama. Di dalam nursyamcentre.com terdapat sebanyak 2.123 artikel dalam berbagai rubrik, misalnya rubrik Riset, Horizon, Khazanah, Opini, Daras, Kelas Milenial dan Informasi. Kebanyakan tulisan berada di dalam framing moderasi beragama. Ada  sebanyak 780 artikel saya (17/11/2025). Artikel ini kebanyakan berisi atas respon sosial, budaya, politik,  agama dan moderasi beragama. Artikel-artikel ini merupakan pemaduan antara respon sosial dan religious dan juga terkait dengan aktivitas saya dalam Gerakan Moderasi Beragama (GMB). 

  

Dengan demikian, terdapat sebanyak 3.174 artikel yang sudah saya tulis di dua website tersebut. Selain itu, saya juga mengajar dan menguji puluhan disertasi di UNISMA dalam judul yang terkait dengan Pendidikan Islam Multikultural. Pengalaman-pengalaman saya sebagai dosen, birokrat dan aktivis masyarakat tersebut menjadi guru yang terbaik bagi saya dalam menuangkan gagasan tentang moderasi beragama. Pada tahap awal pencetusan gagasannya adalah moderasi agama, tetapi kemudian diubah sesuai dengan yang sesungguhnya terjadi menjadi Moderasi Beragama. Saya bersyukur termasuk orang yang pertama kali menggagas konsep moderasi beragama tersebut. 

  

Saya sungguh tidak mengira bahwa tulisan-tulisan saya yang selama ini terpublis di website tersebut memantik untuk dianalisis oleh Kemenag. Melalui tim  khusus,  maka tulisan tersebut dinilai layak untuk dijadikan sebagai upaya untuk menyebarkan moderasi beragama. Meskipun tulisannya  dalam Bahasa Indonesia, akan tetapi artikel ini sudah diakses oleh orang dari 147 negara. Warga Negara Amerika Serikat termasuk peringkat kedua dalam mengakses artikel-artikel dimaksud. Prinsip kehidupan saya yang dipengaruhi oleh pepatah dalam Bahasa Latin “Verba Volant Scripta Manent” ternyata membuahkan rekognisi dari para ahli yang kompeten.

  

Sebagaimana dinyatakan oleh Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA bahwa literasi keagamaan merupakan salah satu yang penting dalam penyebaran gagasan tentang tugas dan fungsi Kementerian Agama. Melalui literasi keagamaan, maka Masyarakat diedukasi tentang paham, sikap dan perilaku yang sesuai dengan keindonesiaan dan kemoderenan. Selanjutnya dinyatakan: “Tema Literasi Keagamaan yang berbunyi “Merajut Keragaman Menebar Cinta” hakikatnya sejalan  dengan kebijakan nasional Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan  Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di dalam Asta Cita. Pada Asta Cita ke delapan dinyatakan: “memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.”

  

Lebih lanjut, Prof. Nasaruddin Umar menyatakan: “literasi beragama akan menuntun kita untuk memahami perbedaan tanpa menihilkan, mengajak tanpa mencaci dan berdialog tanpa menjatuhkan.” Terhadap Tokoh Literasi Keagamaan, dinyatakan: “perjalanan panjang Bapak dan Ibu menjadi inspirasi bagi generasi setelah kita. Anda semua telah menyalakan lilin pengetahuan di tengah kegelapan zaman. Juga dinyatakan bahwa “ke depan kita harus menyerasikan antara literasi klasik dan digital." Generasi sekarang belajar dari layar dan bukan belajar dari lembar. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.