(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Kompetisi Literasi Keagamaan Kementerian Agama (Bagian Satu)

Opini

Salah satu program strategis Kementerian Agama (Kemenag) adalah kompetisi Literasi Keagamaan, yang dihelat oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Agama. Ada banyak jenis kompetisi yang dilakukan di dalam serangkaian kegiatan literasi keagamaan. Sesuai dengan sambutan Prof. Dr.Phil. Kamaruddin Amin, MA, maka program ini merupakan program unggulan Kemenag dalam rangka untuk menunjukkan Kemenag Berdampak. 

   

Hadir dalam acara puncak ini adalah Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Staf Penasehat Ahli Menag, Prof. Nur Syam, Sekjen Kemenag, Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis, Prof. Suyitno, Staf Khusus Kemenang, Dr. Ismail Cawidu, Prof. Salman Manggalatung, Para Dirjen agama-agama, para pejabat pada Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama, Prof. Nyayu Khadijah, Dr. Siddik Sisdiyanto, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Muhammad Zain, Kastolan,  Dr. Thobib Azhar, Hj. Lubenah, para Kepala MAN Insan Cendekia, Para Kankemenag se DKI Jakarta, dan para pejabat di Kemenag lainnya. Acara diselenggarakan di Aula HM. Rasyidi Kemenang di Jl. Thamrin Jakarta, 20/11/2025. 

  

Kemenag memiliki Asta Protas atau Delapan Program Prioritas, yang salah satunya adalah Kementerian Agama Berdampak. Untuk memahami dampak Kemenag adalah melalui berbagai kompetisi untuk mengukur tingkat keberhasilan Pendidikan dan keterlibatan Kemenag dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Tanpa melakukan program kompetitif dalam berbagai program Kemenag, maka tidak akan diketahui sejauh mana ukuran keberhasilan dimaksud.

  

Di antara program yang diselenggarakan adalah: 1) Lomba Literasi Keagamaan yang terdiri dari menulis cerita pendek bertemakan “Nilai Keagamaan, Akhlak Mulia dan Kisah inspiratif. Membuat poster bertemakan “Pesan Moral, Nilai Keagamaan dan Akhlak Mulia”, Membuat Video Kreatif bertemakan “Keimanan, Akhlak Mulia, Persaudaraan dan Cinta Tanah Air”. 2) Bedah Buku yang ditulis oleh Ahmad Suaidi yang berjudul “Ayat-ayat Monogami Buya HAMKA”. Acara ini diselenggarakan bekerja sama dengan PTIQ Jakarta dan Workshop Literasi yang bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan tentang menulis artikel pendek yang bermuatan nilai-nilai keagamaan. Dan yang tidak kalah penting adalah Talk Show Literasi Keagamaan, yang menghadirkan tema “Pencegahan Bullying dalam Perspektif Literasi Keagamaan” dalam semangat “Menebar Cinta dan Menjaga Semesta”. Kemudian Pemutaran film pendek dengan tema “Moderasi Beragama” di Sembilan titik Provinsi di Indonesia. Pada Acara Puncak Literasi Keagamaan dilakukan di Aula HM. Rasyidi dengan menghadirkan para pemenang lomba dalam berbagai kategorinya, Penganugerahan Tokoh Literasi Keagamaan tahun 2025 dan penampilan karya dan pertunjukan Seni Literasi Keagamaan.

  

Mengukur keberhasilan, khususnya tidak hanya melalui ujian-ujian yang dilakukan sesuai dengan regulasi yang dimiliki oleh kementerian dan dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam berbagai jenjangnya, misalnya jenjang Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi. Salah satu ukuran adalah untuk memahami tentang kemampuan siswa dan mahasiswa dalam mengekpresikan kreativitasnya. 

  

Di tengah semakin semaraknya media sosial dengan berbagai kontennya, maka banyak juga memantik anak-anak sekolah dasar dan menangah untuk berkreasi. Banyak wadah untuk mengekspresikan kreativitasnya, misalnya di Youtube, TikTok, FaceBook, Instagram dan media sosial lainnya. Semuanya membutuhkan kreativitas. Melalui ajang ekspresi kreativitas tidak hanya pada level local dan regional tetapi nasional, maka akan menunjukkan betapa Kemenag sungguh peduli dalam ekspresi kreativitas dimaksud. 

  

Lomba kreativitas poster, di masa lalu misalnya dilakukan dengan cara yang konvensional, akan tetapi di era teknologi informasi maka dapat menggunakan berbagai aplikasi yang sudah disediakan oleh penyedia jasa di bidang ini. Lomba menulis artikel dalam berbagai tema, maka sekarang dengan mudah dibantu oleh Kecerdasan Buatan atau AI. Tema-tema apapun dapat diselesaikan oleh AI. Apa yang kita tanya dengan mudah akan dijawabnya dalam hitungan detik, bukan menit. Oleh karena itu, penggunaan AI secara totalitas tentu akan berbahaya bagi pengembangan penalaran kawula muda. Itulah sebabnya memberikan bimbingan menulis artikel bagi para kawula muda menjadi sangat mendasar. Mereka harus cerdas dulu dalam kapasitas intelektualnya dan baru kemudian memanfaatkan AI sebagai supporting  system atas tulisan artikelnya.

  

Di tengah semaraknya media sosial maka dalam pergaulan sering terdapat bullying yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Makanya, memberikan bekal mental pada kawula muda untuk memahami efek bullying pada dimensi psikhologis bagi para korbannya menjadi sangat penting. Akibat bullying dapat berpengaruh secara signifikan pada mentalitas seseorang yang dibully. Jadi memang harus ada upaya untuk mencegah bullying, terutama pada generasi muda. 

  

Puncak acara sesungguhnya adalah pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dipilih berdasarkan selektif yang dilakukan oleh Tim Kemenag. Dari seleksi secara ketat yang dilakukan, maka ditentukanlah tokoh yang dinyatakan memiliki kontribusi dalam Gerakan Moderasi Beragama (GMB), dan alhamdulillah saya terpilih menjadi salah satu tokoh yang berkontribusi dalam menggerakkan moderasi beragama di Indonesia. Makanya, Penghargaan yang saya terima adalah “Penggerak Literasi Moderasi Beragama.” 

  

Sungguh merupakan sesuatu yang beyon believe, bahwa tulisan-tulisan yang tersebar di Blog Pribadi saya melalui nursyam.uinsa.ac.id dan nursyamcentre.com ternyata menjadi salah satu penilaian akan aktivisme saya dalam GMB.  

  

Alhamdulillah, menulis tiada henti, tanpa ingin diakui, akhirnya berbuah rekognisi. Pengakuan terhadap eksistensi NSC. Kepada tim dan kolega, saya sampaikan rasa terima kasih tidak terhingga. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.