(Sumber : OSC Medkom)

Integrasi Psikoterapi Barat dan Spiritualitas Islam

Riset Sosial

Artikel berjudul “Islamic Integrated Cognitive Behavior Therapy: A Shari’ah-Compliant Intervention for Muslims with Depression” ditulis oleh Zuraida Ahmad Sabki, Che Zarrina Sa’ari, Sharifah Basirah Syed Muhsin, Goh Lei Kheng, Ahmad Hatim Sulaiman, dan Harold G. Koenig. Artikel ini diterbitkan dalam Malaysian Journal of Psychiatry Vol. 28 No. 1 (2019). Tulisan ini berupaya membangun jembatan antara pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang telah mapan dalam psikologi Barat dengan nilai-nilai Islam Sunni berbasis Al-Qur’an dan Hadis. Kajian tersebut berangkat dari kesadaran akan meningkatnya angka depresi di dunia Muslim serta keterbatasan pendekatan psikoterapi konvensional yang sering kali abai terhadap dimensi religius pasien. 

  

Penulis berargumen bahwa umat Islam membutuhkan model terapi yang tidak hanya ilmiah tetapi juga sesuai dengan prinsip syariah. Maka dari itu, muncul gagasan Islamic Integrated Cognitive Behavior Therapy (IICBT) sebagai adaptasi dari model Religiously Integrated CBT (RICBT) karya Pearce dan Koenig, namun disusun ulang agar sesuai dengan konteks Sunni dan nilai-nilai Islam Malaysia. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, signifikansi integrasi psikoterapi Islam. Kedua, landasan teologis dan etika dalam psikoterapi Islam. Ketiga, struktur dan prinsip dasar IICBT. Keempat, kontribusi dan relevansi terhadap psikologi Islam kontemporer. 

  

Signifikansi Integrasi Psikoterapi Islam

  

Pada bagian awal, penulis menjelaskan tingginya prevalensi depresi di Asia, termasuk di kalangan umat Islam. CBT diakui efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku maladaptif, tetapi belum memadai bagi pasien yang menempatkan agama sebagai sumber makna hidup. Bagi banyak Muslim, penderitaan dan kesedihan tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga spiritual. Oleh karena itu, pendekatan terapeutik yang mengabaikan aspek iman dianggap tidak mampu menyentuh akar persoalan eksistensial.

  

Penulis menyoroti bahwa dalam tradisi Islam, refleksi diri (muhasabah), kontemplasi ciptaan Tuhan, dan dzikrullah telah lama digunakan sebagai sarana penyembuhan spiritual. Malik Badri, dalam karyanya Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study, menyebutkan bahwa pemurnian jiwa (tazkiyah al-nafs) dapat mengubah pikiran negatif menjadi kesadaran spiritual yang lebih sehat. Dalam konteks ini, IICBT berupaya mengembalikan prinsip tersebut ke dalam terapi modern. Dengan menggabungkan dimensi tauhid dalam CBT, pasien didorong untuk menafsirkan penderitaan bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai bentuk kasih sayang Allah yang mengandung hikmah dan peluang untuk tumbuh secara spiritual.

   

Landasan Teologis dan Etika dalam Psikoterapi Islam

  

Penulis mengacu pada Ethics Code of the American Psychological Association (APA) yang menekankan pentingnya persetujuan pasien dan kompetensi klinis terapis ketika memasukkan unsur keagamaan ke dalam terapi. Dalam konteks Islam, prinsip ini diterjemahkan melalui model RRICC (Respect, Responsible, Integrity, Competence, Concern) agar terapis tidak memaksakan nilai-nilai religius, melainkan membantu pasien menemukan jalan spiritualnya sendiri.

  

Selain itu, penulis menekankan bahwa pendekatan berbasis syariah harus berlandaskan prinsip tawhid, yaitu kesatuan antara keyakinan, pikiran, dan tindakan dalam beribadah kepada Allah. Terapis diwajibkan memahami perbedaan antara spiritualitas yang sehat dan rasa bersalah patologis. Misalnya, pasien yang menganggap penyakit sebagai hukuman Tuhan harus dibimbing untuk melihatnya sebagai ujian yang mengandung rahmat, bukan kutukan. Etika Islam juga menekankan keseimbangan antara tanggung jawab manusia dan ketundukan kepada kehendak Ilahi, sehingga pasien diajak mengubah pandangan negatif menjadi penerimaan yang penuh harapan.


Baca Juga : Profesor, Gelar dan Komitmen Keilmuan

  

Struktur dan Prinsip Dasar IICBT

  

Bagian inti artikel ini menjelaskan secara rinci konsep dan struktur Islamic Integrated Cognitive Behavioral Therapy (IICBT). Terapi ini dirancang dalam 10 sesi utama yang berlangsung selama 5–10 minggu, dengan setiap sesi berdurasi sekitar 60 menit. Meskipun berbasis kerangka CBT klasik, IICBT menambahkan unsur spiritualitas Islam, seperti doa (du‘a), tadabbur Al-Qur’an, dan mindful solat.

  

Struktur terapi dibangun berdasarkan konsep tazkiyah al-nafs (pemurnian jiwa) dari Al-Ghazali yang mencakup tiga tahap: takhalli (mengosongkan diri dari sifat negatif), tahalli (menghiasi diri dengan sifat positif), dan tajalli (penyingkapan cahaya Ilahi dalam diri). Tiap tahap diadaptasi ke dalam proses psikoterapi:

  

Sesi 1–3 menekankan kesadaran diri dan identifikasi pikiran negatif (takhalli),

Sesi 4–8 membangun kembali perilaku positif melalui rasa syukur, kedermawanan, dan refleksi spiritual (tahalli),

Sesi 9–10 diarahkan pada pertumbuhan spiritual, penerimaan, dan harapan terhadap rahmat Allah (tajalli).

  

Penulis menunjukkan bahwa setiap sesi mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang relevan. Misalnya, dalam sesi “Dealing with Loss”, pasien diajak memahami kehilangan sebagai bagian dari ujian hidup melalui kisah Nabi Ayyub, sedangkan sesi “Gratitude” menggunakan latihan syukur berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan aspek kognitif, emosional, dan spiritual secara terpadu.

  

Kontribusi dan Relevansi Terhadap Psikologi Islam Kontemporer

  

Artikel ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan psikoterapi berbasis Islam yang terstandar dan dapat diuji secara empiris. Selama ini, banyak praktik konseling Islam hanya mengandalkan intuisi atau nasihat religius, tanpa struktur terapeutik yang jelas. Dengan adanya manual IICBT yang sesuai syariah dan diawasi oleh otoritas seperti JAKIM, terapi ini diharapkan dapat diimplementasikan secara profesional dan ilmiah di rumah sakit serta lembaga keagamaan.

  

Lebih jauh, IICBT membuka ruang bagi psikologi Islam untuk keluar dari dikotomi antara “terapi religius” dan “terapi ilmiah”. Pendekatan ini tidak hanya menyembuhkan gejala depresi, tetapi juga membangun kesadaran spiritual yang mendalam. Pada kerangka epistemologis Islam, kesehatan mental dipahami bukan sekadar ketiadaan gangguan, tetapi hadirnya keseimbangan antara ruh, akal, dan nafs. Artikel tersebut juga menegaskan bahwa kebahagiaan sejati (al-sa‘adah) hanya dapat dicapai melalui penyatuan antara perubahan kognitif dan kedekatan dengan Allah SWT.

  

Kesimpulan

  

Artikel Islamic Integrated Cognitive Behavior Therapy memberikan landasan konseptual yang kuat untuk mengembangkan model terapi yang ilmiah, syar‘i, dan humanistik bagi umat Islam. Dengan memadukan prinsip CBT dan nilai-nilai spiritual Islam, terapi ini membantu pasien memaknai penderitaan, mengembangkan harapan, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan sebagai sumber makna hidup. Pendekatan ini membuktikan bahwa sains dan agama tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat disinergikan untuk menciptakan kesejahteraan psikologis yang holistik. Lebih dari sekadar terapi klinis, IICBT adalah model penyembuhan jiwa yang berakar pada spiritualitas Islam — menegaskan bahwa kesehatan mental sejati lahir dari kesatuan antara ilmu, iman, dan amal.