In Memoriam: Emak Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Kelima)
OpiniSaya tentu saja harus kembali ke Surabaya, karena ada tugas harus ke UNISMA Malang selama dua hari. Biasa kegiatan akademik untuk menguji disertasi tahapan Terbuka dan lainnya tertutup. Bersama saya: Prof. Junaidi Mistar, Rektor UNISMA, Prof. Dr. Mas’ud Said, Prof. Djunaidi Ghony, Prof. Maskuri, Prof. Imam Suprayogo, Dr. Muhammad Afifulloh, Dr. Abdul Jalil dan Dr. Syamsu Madiyan.
Lalu berikutnya ada acara dengan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) juga di Malang. Acara yang didesain oleh Prof. Rohmat Mulyana dan kawan-kawan. Artikel ini hadir di Ada Apa Dengan Kopi (AADK) Malang, setelah memberikan materi dalam acara “Desain Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagaman yang Partisipatif dan Berdampak” di Hotel Alana Malang.
Artikel ini saya tulis untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan moral dan psikologis atas para sahabat yang memberikan ucapan bela sungkawa atas kewafatan Emak saya, Hj. Turmiatun, pada Senin 10/11/2025 yang lalu. Ucapan bela sungkawa dan doa yang diberikan oleh para sahabat dan kolega itu merupakan ekpressi dari perasaannya atas “musibah” yang saya terima berupa kepergian Emak ke alam kubur, sebuah peristiwa yang memang harus terjadi. Tidak ada seorangpun, hingga Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang dapat menolak waktu kematian. “Jika datang ajalmu, maka tidak dapat dimundurkan atau dimajukan”. Maka siapapun harus rela atas kepergian orang yang paling dicintai untuk menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi.
Ucapan terima kasih tersebut, saya sampaikan dalam hati yang paling mendalam kepada Sahabat yang mengirimkan karangan bunga dan juga datang ke rumah duka. Kepada Bapak Ahmad Haikal Hasan (Kepala Badan Jaminan Produk Halal), Prof. Amin Suyitno (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag), Prof. Sahiron (Direktur Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendis Kemenag), Prof. Ilfi Nurdiana (Rektor UIN Maliki Malang), Prof. Hepni (Rektor UIN KHAS Jember), Dr. Muhammad Aqil Irham (Sestama BPJPH), E.A. Chuzaemi (Deputi Bidang Pembinaan dan Pengawasan JPH), Farid Wajdi (Direktur Bina JPH), Dr. A. Mujab (Kakanwil Jawa Tengah), Drs. Mufi Imron Rosyadi (Kankemenag Sidoarjo), Drs. M. Faiq, MPdI (Plt. Kankemenag Gresik), Dr. Ning Qurratu A’yun (Rektor IAI Uluwiyah Mojokerto), Dr. Ahmad Sruji Bachtiar (Kakanwil Jawa Timur), Prof. Dr. Samsul Huda (Rektor IAINU Tuban), Dr. Moh. Amak Burhanuddin (Kabid Penais Kanwil Jawa Timur), Gus Sampton (Kakankemenag Kota Malang), dan Moh. Fauzain (Yayasan Pendidikan Islam Kerek). Dan ucapan bela sungkawa dan doa dari seluruh WAG yang nama saya terdapat di dalamnya.
Bahkan ada yang datang dari Jember, Prof. Babun Suharto dan Dr. Moh. Nawawi (Kabiro UIN KHAS Jember), Dr. Moh. Faizin (UIN KHAS Jember), Prof. Ilfi Nurdiana (Rector UIN Maliki Malang), Dr. Ning Qurratu A’yun (Rector IAI Uluwiyah beserta KH. Ibad dan Bu Nyai dan seluruh putra-putrinya), Prof. Wiwik Setiyani, M.Ag (Warek II UINSA) dan rombongan, Prof. Khoirun Ni’am (Dekan Fakultas Psikologi) dan rombongan, Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah (Kepala Perpustakaan UINSA) dan rombongan, Prof. Masdar Hilmy, (Direktur PPs UINSA), Dr. Mohammad Majdudin, (Rektor UNKAFA Gresik) dan rombongan, Dr. Imron Rosyadi (Ketua STIT Raden Wijaya Mojokerto), Drs. Mufi Imron Rosyadi, MPdI, (Kakankemenag Sidoarjo), Drs. M. Faiq, MPdI. (Plt. Kankemenag Gresik), Dr. Cholil Uman, MPdI dan M. R. Habibie (NSC Group), Prof. Sochi Huda dan Kawan-kawan (FDK, F Syariah dan Humaniora), Chuzaemi dan Farid Wajdi (BPJPH) dan rombongan dari Jakarta, Pak Mulyanta, Pak Abdullah, Pak Hardi, Pak Suryanto, Pak Bintara, Pak Duani, Pak Suyuti (Jamaah Ngaji Bahagia) dan lain-lain yang tidak semuanya dapat saya sebutkan.
Di antara mereka ada yang hadir pada hari kedua, ketiga dan juga yang datang tepat tujuh harinya. Rasanya, rumah saya di Tuban, tempat Emak menghembuskan nafas terakhirnya, terisi dengan doa dan tahlilan. Setiap rombongan menyenandungkan doa dan tahlil. Saya merasakan betapa mereka yang berdoa itu dengan keihlasan yang luar biasa. Mereka tidak hanya mengirimkan karangan bunga, tetapi juga hadir ke rumah duka. Sungguh merupakan kehormatan pada saya dan keluarga saya. Tidak terasa betapa gembiranya saya dan keluarga, dan juga kebahagian Emak karena lantunan doa-doa dimaksud. Saya berkeyakinan bahwa doa-doa tersebut akan diterima oleh Allah SWT dan akan disampaikan kepada Emak saya. Inilah keyakinan yang sesuai dengan tafsir atas Islam yang saya pahami.
Malam ke tujuh, ternyata hujan lebat. Luar biasa derasnya. Ditambah dengan mati lampu. Jadi para hadirin berada di dalam kegelapan dengan lampu dari HP atau lilin. Meskipun hujan deras ternyata tidak menyurutkan hasrat untuk mendoakan Emak saya. Ratusan orang, tepatnya 120 orang, yang hadir dalam tahlilan hari terakhir. Tetapi yang menggembirakan saya, bahwa lampu menyala kembali pada saat dimulai acara tahlilan dan yasinan. Kami sungguh bergembira. Plong rasanya kala lampu hidup kembali.
Pak Cholil yang mewakili saya dalam memberikan ucapan terima kasih. Pak Cholil meminta maaf kepada segenap hadirin yang sudah mengikuti acara tahlilan dan yasinan selama tujuh hari berturut-turut. Andaikan terdapat kekurangan yang tidak disengaja, seperti makanan, minuman atau tempat yang kurang layak. Mohon dimaafkan.
Sebagai seorang penceramah ulung, maka Pak Cholil tidak lupa menyampaikan pesan keagamaan, bahwa “seseorang itu terdiri dari tiga bagian, 30 persen roh, 30 persen jiwa dan 30 persen jasad. Yang roh dan jiwa kembali kepada Allah dalam kebaikan atau kejelekan dan yang jasad akan menjadi santapan binatang tanah. Tubuh akan dimakan oleh binatang-binatang di dalam tanah. Marilah kita mengingat ajaran Islam sebagaimana tafsir agama di dalam Kitab Nashaihul Ibad, sebab hal ini akan dapat menjadi pelajaran penting bagi kehidupan kita semua.”
Wallahu a’lam bi al shawab.

