Rahmah El Yunusiyyah: Pelopor Pendidikan Perempuan di Indonesia
InformasiEva Putriya Hasanah
Rahmah El Yunusiyyah merupakan salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan Indonesia dan dunia Islam. Lahir pada tanggal 29 Oktober 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, ia tumbuh di tengah lingkungan Minangkabau yang dikenal dengan tradisi merantau, kecerdasan sosial, dan budaya matrilineal yang memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya. Sejak kecil, Rahmah telah menunjukkan minat besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya pendidikan agama. Lingkungan keluarganya juga sangat mendukung, karena ia berasal dari keluarga religius yang aktif dalam pergerakan sosial dan pendidikan Islam.
Masa kecil Rahmah tidak terlepas dari pengaruh saudara laki-lakinya, Zainuddin Labay El Yunusy, pendiri Madrasah Diniyah Putra. Dari Zainuddin, Rahmah belajar banyak tentang manajemen pendidikan dan pentingnya reformasi sistem belajar agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Namun, meski terinspirasi dari kakaknya, Rahmah memiliki visi yang sangat khas dan berbeda. Ia memandang perempuan pada masa itu masih sangat terbatas, terutama dalam hal pendidikan. Banyak perempuan yang tidak memiliki kesempatan belajar secara formal, padahal peran mereka sangat besar dalam membentuk generasi selanjutnya. Di dalamnya Rahmah merumuskan ide besarnya: menghadirkan lembaga pendidikan modern khusus untuk perempuan Muslim.
Pada tahun 1923, gagasan itu terwujud dengan berdirinya Diniyah Puteri Padang Panjang, sekolah modern pertama untuk perempuan di dunia Islam di Asia Tenggara. Kehadiran sekolah ini menjadi sebuah lompatan besar dalam sejarah, karena tidak hanya menyediakan pendidikan agama, tetapi juga keterampilan praktis dan ilmu pengetahuan umum. Rahmah ingin menciptakan generasi perempuan muslim yang cerdas, mandiri, dan mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial. Program pendidikan yang mencakup pelajaran fikih, tafsir, dan akidah, tetapi juga mencakup keterampilan seperti menjahit, kesehatan, kepemimpinan, dan administrasi. Pendekatannya yang holistik menjadikan Diniyah Puteri sebagai lembaga pendidikan yang visioner dan jauh mendahului zamannya.
Salah satu keunikan sistem pendidikan Rahmah adalah penekanan pada karakter pendidikan dan kemandirian. Santrinya tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, lingkungan, dan masyarakat. Di sekolah ini, perempuan belajar untuk memimpin, mengatur kegiatan, serta membangun rasa percaya diri. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi sosial saat itu, ketika perempuan masih dipandang terbatas pada ranah domestik. Rahmah ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam hal intelektual maupun kepemimpinan, selama kesempatan yang sama diberikan.
Kiprah Rahmah tidak berhenti pada pendirian sekolah. Ia juga aktif dalam organisasi sosial, dakwah, dan berbagai kegiatan internasional. Pada tahun 1955, Diniyyah Puteri mendapat perhatian internasional — Rektor Al-Azhar mengunjungi sekolah tersebut karena kekagumannya terhadap model pendidikannya.
Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, Rahmah juga berperan sebagai pejuang sosial. Sekolahnya sempat dijadikan tempat pengungsian dan dapur umum bagi korban gempa dan perang. Ia tidak hanya mengajar, tetapi terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan. Dedikasi inilah yang menjadikan Rahmah disegani bukan hanya sebagai pendidik, namun juga sebagai pemimpin masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyat.
Setelah puluhan tahun berkarya, Rahmah El Yunusiyyah wafat pada tanggal 26 Februari 1969. Namun, warisan intelektual dan sosialnya terus hidup. Diniyah Puteri berkembang menjadi institusi pendidikan yang telah melahirkan ribuan perempuan cerdas dan berpengaruh, mulai dari akademisi, pendakwah, pengusaha, hingga pemimpin organisasi. Pada tahun 2025, pemerintah Indonesia mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional, pengakuan resmi atas kontribusinya yang monumental.
Keberanian Rahmah dalam menantang norma sosial pada masanya menjadi simbol emansipasi perempuan Muslim. Ia menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci perubahan, dan bahwa perempuan memiliki potensi luar biasa ketika diberikan kesempatan yang setara. Dengan menggabungkan semangat keislaman, kemandirian, dan modernitas, Rahmah membangun fondasi bagi generasi perempuan masa depan.
Hingga kini, nama Rahmah El Yunusiyyah tetap dikenang sebagai pelopor pendidikan perempuan di dunia Islam. Visi besarnya terus menginspirasi, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara yang menjadikan model Diniyah Puteri sebagai rujukan. Melalui dedikasi dan perjuangannya, Rahmah telah membuktikan bahwa satu perempuan dengan tekad besar dapat membawa perubahan yang berdampak bagi peradaban.

