In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Keempat)
OpiniTanpa terasa sudah hari ke tujuh Emak meninggalkan kami sekeluarga. Setiap malam di rumah selalu diselenggarakan acara Yasinan dan Tahlilan untuk mengiringi kepergian Emak ke alam kubur. Acara tahlilan ini diikuti oleh banyak orang, baik para pemuda maupun orang tua, khusus lelaki dan khusus perempuan. Kebanyakan adalah jamaah masjid, yang memang memiliki tradisi tersebut. Di dusun ini tidak ada peristiwa kematian yang tidak diikuti dengan acara tahlilan dan yasinan.
Di dalam tradisi Jawa, acara tahlilan menjadi bagian penting dalam mengantar kepergian seseorang yang wafat. Nyaris tidak ada yang tidak melakukannya untuk keluarganya. Acara tahlilan tersebut dilakukan mulai dari hari pertama wafat sampai hari ke tujuh, kemudian dilanjutkan pada setiap hari Kamis malam atau malam Jum’at sampai 40 hari dan kemudian hari ke seratus, setahun pertama atau disebut sebagai pendak pertama, kedua sampai seribu hari. Mereka merupakan bagian dari umat Islam yang selalu terlibat di dalam peristiwa kematian. Ada yang terlibat di dalam menggali tanah kuburan untuk jenazah, memandikan jenazah, mengafani dan menyolatkan dan membawa ke liang lahat. Semua dilakukan dengan kebersamaan. Lalu jika malam mereka datang untuk membaca tahlil dan yasin. Saya sungguh bersyukur atas kebersamaan masyarakat desa yang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah Emak saya.
Emak, merupakan seorang perempuan yang sungguh dapat menjadi teladan dalam ibadah. Tidak ada hari yang tiada diisi dengan shalat wajib. Lima kali sehari menjalankan shalat tersebut di tengah keterbatasan fisiknya karena jatuh. Emak pernah masuk Rusah Sakit untuk dioperasi tulang paha atas, tulang persambungan paha dengan tulang pinggul. Karenanya harus diganti dengan platinum. Emak menjalani operasi pada saat Covid-19. Makanya harus dioperasi di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Kira-kira 10 hari dan kemudian masa penyembuhan kurang lebih tiga bulan. Emak harus tinggal di Surabaya, di rumah Lotus Regency agar mudah untuk perawatan dokter.
Begitu sembuh langsung meminta pulang. Sesungguhnya Emak tidak kerasan untuk tinggal lama di Surabaya. Rumahnya kecil, katanya. Saya teringat paling lama Emak tahan di rumah Surabaya maksimal satu pekan. Tidak pernah lebih. Jika sudah berkata: “aku kok mimpi Bapakmu”. Itu pertanda minta pulang. Begitulah orang tua. Sulit baginya untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Di rumahnya sendiri memang memiliki komunitas sesama orang tua, yang sebaya. Emak merasa sebagai orang asing di dalam komunitas perkotaan. Biasanya selesai shalat jamaah, bisa ngerumpi dengan sesamanya.
Selama hidupnya hanya dua kali saja masuk rumah sakit. Kala jatuh dan setahun yang lalu. Sesak nafas sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit Graha Medika Tuban. Tetapi hanya tahan selama dua hari. Hari ketiga sudah protes tidak mau makan, dan terakhir mau melepas kabel-kabel infusnya. Maka dengan seizin dokter diperbolehkan pulang, tetapi jika kambuh dipersilahkan balik lagi. Sampai di rumah justru sembuh. Keluhannya di Rumah Sakit, diinjeksi melulu. Minum obat terus. Begitulah keluhannya.
Saya sesungguhnya khawatir di kala harus dioperasi tulang pahanya. Saya khawatir tidak lagi bisa berjalan. Ada ketakutan bahwa kemana-mana harus memakai kursi roda. Ternyata dugaan saya keliru. Dengan upaya kerasnya, akhirnya bisa berjalan kembali meskipun harus memakai penyangga. Emak khawatir kalau tidak memakai penyangga lalu jatuh lagi. Saya teringat jika selesai shalat shubuh berjamaah di Mushalla Raudhatul Jannah, lalu berjalan dengan alat penyangganya kira-kira 300 meter. Pulang pergi. Nyaris setiap hari dilakukannya. Tidak ada yang menyuruh, tetapi begitulah tindakannya setiap pagi. Emak sadar benar tentang pentingnya jalan kaki.
Bahkan juga menyempatkan shalat jamaah. Terutama shalat magrib dan isya’. Yang lain dikerjakan di rumah. Jika bulan Ramadlan, maka sebulan penuh mengikuti shalat tarawih dan puasa. Pada tahun 2024, masih melakukan shalat jamaah tarawih dan puasa. Sungguh bagi saya hal ini merupakan tindakan beragama yang luar biasa. Satu hal juga sampai tiga hari sebelum wafatnya juga masih memiliki kesadaran yang tetap. Indah, isteri saya, yang menyaksikannya bahwa pada hari Sabtu siang, dua hari sebelum wafatnya, masih berbicara dengan kesadaran penuh. Rasanya, saya ingin seperti Emak yang tidak “pikun” sampai menjelang wafatnya.
Emak adalah orang yang sangat sabar. Saya merasakan tidak pernah dimarahinya. Sebagai anak tentu ada saja yang membuat perilaku saya kurang berkenan. Pada waktu saya masih duduk di sekolah menengah, saya terkadang minta sesuatu yang tidak bisa dipenuhinya, maka saya menjadi ngambek. Tetapi Emak tidak marah. Saya masih teringat ucapannya jika saya seperti itu. “wis disekolahno duwur, kok ngono”, “sudah disekolahkan tinggi, kok begitu”. Ucapan ini sudah mampu menyadarkan saya akan kekeliruan yang saya lakukan. Jika Emak sudah ngomong seperti itu, maka harus segera baikan. Begitulah cara mendidik saya. Dengan kelembutan dan kasih sayang, dan bukan dengan kemarahan.
Emak saya memang tidak bisa menulis. Emak menikah pada usia yang sangat muda. Akan tetapi berkemampuan membaca ayat-ayat pendek dari Al-Qur’an, yang tentu saja dihafalkannya semenjak masa muda. Emak juga termasuk orang yang tekun di dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Saya tidak akan melupakan masakannya. Jika memasak kare atau gulai jangan tanya rasanya. Pasti orang akan berdecak kagum. Enak sekali. Masakan Kare disebut sebagai masakan “iwak pitik”, dan untuk gulai disebut masakan “iwak becek”.
Emak adalah orang yang sungguh memahami tugas-tugas saya. Emak begitu sadar, bahwa anaknya memang tidak hanya untuk dirinya. Emak sadar jika anaknya harus mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya. Emak rela jika anak semata wayangnya tidak menungguinya setiap hari. Pekerjaan di Surabaya atau di Jakarta dipahaminya sebagai tanggungjawab kepada tugas dan pekerjaan untuk masyarakat. Itulah sebabnya saya tenang di dalam bekerja, yang penting harus telepon.
Jika lama saya tidak pulang, maka yang dinyatakannya: “awakmu kok suwe gak mulih”, “kamu kok lama tidak pulang”, dan jika saya pulang, maka yang diingatkannya adalah “tiliki kuburane Bapakmu”, “ziarahi kubur Bapakmu.” Kata seperti ini sudah tidak ada lagi. Sebuah ungkapan agar saya tidak melupakan Bapak yang sudah wafat. Dan kali ini saya harus memotivasi diri saya sendiri agar juga tidak melupakan makam Emak. Ya Allah Rahmati Emak dengan surga-Mu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

