(Sumber : Kompasiana.com)

Pemikiran Pendidikan Islam tentang STEM

Riset Sosial

Artikel berjudul “Islamic Educational Thought on STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics): Perspectives and Implementation” ditulis oleh Sahjad M. Aksan, Muhammad Zein, dan Amanan S. Saumur dari IAIN Ternate, Maluku. Artikel tersebut terbit di International Journal of Trends in Mathematics Education Research (IJTMER), tahun 2023. Tulisan tersebut mengangkat gagasan tentang bagaimana paradigma pendidikan Islam dapat berinteraksi dan berintegrasi dengan pendekatan STEM, sebuah model pembelajaran berbasis sains, teknologi, rekayasa, dan matematika yang menjadi tren global dalam pendidikan abad ke-21.  Artikel tersebut berangkat dari kesadaran akan lemahnya daya saing negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim dalam bidang sains dan teknologi, serta adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang telah berlangsung lama dalam sistem pendidikan Islam. Melalui analisis literatur dan refleksi filosofis, para penulis berusaha merumuskan kembali dasar epistemologis Islam dalam menjawab tantangan modernisasi ilmu melalui konsep tauhid dan integrasi keilmuan. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, paradigma integrasi STEM dalam Pendidikan Islam. Kedua, implementasi dan tantangan integrasi STEM. Ketiga, dimensi etika, sosial, dan spiritual dalam STEM-Islam. Keempat, arah pengembangan dan rekomendasi.

   

Paradigma Integrasi STEM dalam Pendidikan Islam

  

Pada bagian ini, penulis menguraikan bahwa sejak masa keemasan Islam, ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni telah membangun tradisi keilmuan yang menyatukan dimensi spiritual dan empiris. Namun, seiring perkembangan modernitas, muncul dikotomi antara ulum al-din dan ulum al-dunya yang menghambat kemajuan sains di dunia Islam. Cara untuk menjembatani jurang tersebut, penulis menawarkan paradigma integrasi berbasis tauhid, yakni pandangan bahwa seluruh ilmu pengetahuan berasal dari dan bermuara pada keesaan Allah. Artinya, pembelajaran STEM dalam konteks pendidikan Islam tidak hanya bertujuan membentuk kompetensi teknis, tetapi juga kesadaran spiritual tentang kebesaran ciptaan Tuhan. Penulis mengutip pandangan Nidhal Guessoum dan Osman Bakar yang menyebut bahwa rekonsiliasi antara Islam dan sains bukanlah kompromi, melainkan pemulihan tradisi intelektual Islam yang integral.

  

Integrasi ini diwujudkan dalam model I-STEM (Islamic STEM) yang dikembangkan di Malaysia. Model tersebut memasukkan nilai-nilai Al-Qur’an, sejarah Islam, dan etika syariah ke dalam pembelajaran sains dan teknologi. Dalam konteks ini, mempelajari STEM dipahami sebagai bentuk ibadah dan eksplorasi terhadap ayat-ayat kauniyah. Pendekatan ini dinilai mampu menghidupkan kembali semangat ilmiah Islam yang holistik dan kontekstual terhadap tantangan zaman.

  

Implementasi dan Tantangan Integrasi STEM

  

Salah satu masalah utama pada ragam tantangan struktural dan kultural adalah keterbatasan sumber daya dan fasilitas laboratorium di lembaga pendidikan Islam, terutama di wilayah pedesaan. Akibatnya, penerapan pembelajaran berbasis eksperimen dan teknologi menjadi kurang optimal. Cara untuk mengatasi hal ini, beberapa inisiatif seperti laboratorium virtual dan mobile science kits diperkenalkan sebagai alternatif inovatif berbiaya rendah.

  

Kendala lain terletak pada kompetensi guru. Penulis mencatat masih adanya kesenjangan antara pemahaman konseptual guru tentang integrasi STEM dan kemampuan mereka untuk mengimplementasikannya di ruang kelas. Sebagai solusi, beberapa negara Islam telah mengembangkan program pelatihan seperti Professional Development for Islamic STEM Teachers (PDIST) yang melatih guru untuk menggabungkan nilai Islam dengan metode ilmiah modern.

  

Selain itu, penulis menyoroti kesenjangan gender dalam partisipasi perempuan di bidang STEM. Melalui inisiatif seperti Muslim Women in STEM, sejumlah lembaga pendidikan berupaya menciptakan ruang yang lebih inklusif dan setara bagi perempuan Muslim agar berperan aktif dalam riset dan inovasi. Penulis menegaskan bahwa Islam tidak membatasi perempuan dalam bidang keilmuan; sebaliknya, partisipasi mereka adalah bagian dari perwujudan prinsip adl (keadilan) dan amanah (tanggung jawab).


Baca Juga : Selamat Datang Tahun 2025: Prof. Nasaruddin Umar dan Moderasi Beragama (Bagian Empat)

  

Dimensi Etika, Sosial, dan Spiritual dalam STEM-Islam

  

Bagian ini menjadi inti pemikiran penulis: integrasi STEM tidak dapat dilepaskan dari dimensi etika dan spiritual. STEM dalam perspektif Islam bukan hanya instrumen teknologis, melainkan juga wahana pembentukan karakter dan kesadaran moral. Dalam praktiknya, penulis menekankan pentingnya etika keilmuan Islam seperti kejujuran, tanggung jawab sosial, dan orientasi kemaslahatan.

  

Konsep seperti Islamic Bioethics dan Islamic AI Ethics dikemukakan sebagai bentuk respons Islam terhadap perkembangan ilmu modern seperti bioteknologi dan kecerdasan buatan. Penulis menilai bahwa sains harus berfungsi dalam bingkai maqasid al-shariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Oleh karena itu, pendidikan STEM di lingkungan Islam tidak hanya menanamkan keterampilan teknis, tetapi juga kepekaan moral terhadap dampak sosial dan lingkungan dari inovasi ilmiah.

  

Lebih jauh, artikel tersebut menunjukkan hubungan erat antara STEM-Islam dan pembangunan berkelanjutan. Cara untuk menanamkan konsep khalifah fil ardh, peserta didik didorong untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab demi menjaga kelestarian bumi. Inilah wujud aktualisasi spiritualitas dalam sains menjadikan STEM bukan sekadar alat produksi, tetapi sarana pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan. 

   

Arah Pengembangan dan Rekomendasi

  

Pada bagian akhir, penulis memberikan beberapa rekomendasi strategis untuk memperkuat implementasi integrasi STEM dalam pendidikan Islam. Pertama, perlunya pengembangan kurikulum kontekstual yang menghubungkan konsep STEM dengan nilai-nilai Qur’ani dan sejarah peradaban Islam. Kedua, peningkatan investasi pada infrastruktur teknologi dan pelatihan guru agar integrasi tidak berhenti di tataran ide. Ketiga, penguatan inklusi gender dan akses pendidikan khusus, agar STEM menjadi ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan. Penulis juga mendorong pembentukan jejaring kolaboratif antara universitas Islam, lembaga riset, dan industri teknologi untuk mempercepat inovasi berbasis nilai Islam. Selain itu, pendekatan kewirausahaan berbasis STEM perlu diarahkan pada prinsip ekonomi Islam seperti keadilan sosial, larangan riba, dan keseimbangan ekologis.

  

Kesimpulan

  

Artikel ini menegaskan bahwa integrasi STEM dalam pendidikan Islam bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan gerakan epistemologis dan spiritual untuk mengembalikan kesatuan antara wahyu dan akal. Melalui pendekatan tauhidi, pengetahuan tidak dipisahkan antara sakral dan profan, melainkan dipandang sebagai refleksi keesaan Tuhan. Artinya, penguasaan sains dan teknologi menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian sosial. Kontribusi penting tulisan ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kerangka pemikiran yang menyeluruh menggabungkan aspek filosofis, etis, dan praktis dalam satu narasi integratif. Di tengah derasnya arus globalisasi dan sekularisasi ilmu, artikel ini menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmiah umat Islam hanya akan bermakna jika berakar pada nilai-nilai spiritual dan moralitas Islam. Melalui semangat integrasi ini, pendidikan Islam berpotensi menjadi katalis bagi kebangkitan ilmiah dan peradaban yang berkeadaban.