(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Mendakwahkan Islam Rahmah: Temu Ulama dan Akademisi UIN Khas Jember

Opini

Sesungguhnya saya diundang di UIN Kiai Haji Ahmad Siddik (UIN KHAS) Jember untuk menguji disertasi tahap tertutup dalam Program Doktor Ilmu-Ilmu Islam. Ujian tersebut diselenggarakan pada tanggal    05/11/2025. Ada dua disertasi yang saya uji, yaitu disertasi Kandidat Doktor Mufi Imron Rosyadi dan Fahmi Ziyad Al Afthoni.

  

Bersamaan dengan acara menguji disertasi tersebut diselenggarakan acara Temu Ulama dengan akademisi di UIN KHAS Jember. Acara tersebut diselenggarakan terkait dengan Peringatan Hari Santri Nasional (HSN)  2025. Acara ini merupakan Hari Puncak Peringatan HSN bagi UIN Kiai Haji Ahmad Sidik (UIN KHAS) Jember. Acara yang menurut saya penting untuk memberikan gambaran betapa pentingnya kemenyatuan Ulama/kiai dengan para akademisi di PTKIN.

  

Saya akhirnya didapuk menjadi nara sumber bersama para ulama/kyai di Jawa Timur. Hadir sebagai narasumber adalah KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Maskuri, Ketua IKPT Nasional, KH. M. Sadid Jauhari, Dr. Abdullah Syamsul Arifin, dan Gus Firjon.   Para narasumber adalah pimpinan pondok pesantren di Jember dan sekitarnya. Para kiai ini adalah tokoh regional dan nasional yang sudah sangat dikenal namanya dalam Gerakan Dakwah berbasis pesantren. Sedangkan yang hadir,  Rektor, Prof. Dr. Hepni, para Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, para ulama di Jember dan juga para tokoh dari lintas organisasi, seperti NU, Muhammadiyah dan organisasi social keagamaan.

  

Ada tiga hal yang akan saya sampaikan di dalam artikel ini, yaitu: pertama, perlu dakwah Islam rahmatan lil alamin. Di dalam penuturan Gus Kikin, bahwa di Eropa sedemikian pentingnya untuk menjelaskan tentang Islam rahmatan lil alamin. Khususnya di negeri-negeri yang selama ini dikenal sebagai negeri dengan Islamphobia yang sangat kuat, maka menjelaskan Islam yang membawa kerahmatan lil alamin itu sangat penting. Mereka membenci Islam dikarenakan Islam dianggap sebagai agama yang nirkemanusiaan. Agama yang mengandung kekerasan. Dan yang menyebabkannya adalah para pemeluk Islam yang melakukan terorisme global. Di mulai dari pengeboman atas World Trade Center (WTC), sampai pengeboman atas beberapa wilayah di Eropa.

  

Mereka sungguh membutuhkan penjelasan Islam yang tidak seperti itu. Islam itu  adalah Islam di Indonesia. NU merupakan organisasi yang sangat cocok dalam menjelaskan tentang betapa ramahnya Islam tersebut. NU merupakan organisasi social keagamaan yang mengusung Islam rahmatan lil alamin. Jadi mereka memerlukan penjelasan Islam sebagaimana di Indonesia. Islam di Indonesia bukan Islam yang mengusung tema kekerasan tetapi Islam yang mengusung perdamaian, kasih sayang, keharmonisan dan menjaga keselamatan umat manusia. Di Belanda, Inggris, Perancis dan beberapa negara lainnya sangat membutuhkan asupan Islam Nusantara yang diusung oleh NU dan Islam kemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah. Islam yang tergolong ahlu sunnah wal jamaah.

  

Kedua, fundamentalisme di dalam negeri juga harus menjadi bahan perhatian. Prof. Maskuri di dalam pemaparannya atas penelitian yang dilakukan di PTN di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya menghasilkan indikasi bahwa fundamentalisme telah “mengakar” di PTN di Indonesia. Berdasarkan atas penelitiannya, maka diketahui bahwa banyak mahasiswa yang terpapar virus radikalisme. Seperti kesediaan untuk memerangi orang beda agama karena dianggapnya sebagai orang kafir, dan juga ada keinginan untuk mendirikan negara Islam atau khilafah Islamiyah. Mereka sedang bertaqiyah atau menyembunyikan diri dari tuduhan sebagai kaum radikal atau fundamental, akan tetapi mereka membangun basis-basis paham keagamaan pada generasi muda untuk menjadi pengikutnya. Di setiap kota terdapat kelompok-kelompok yang mengusung tema Islam kafah atau Islam syumuliyah sebagai perwujudan untuk memberikan pemahaman tentang Islam yang dianggapnya paling benar.

  

Ketiga, Kementerian Agama (Kemenag) sedang merumuskan konsep dan aplikasasi yang disebut Beragama Berbasis Cinta (BBC). Demikian saya ungkapkan di dalam sesi presentasi. Kemenag memiliki asta protas atau delapan  program prioritas, yaitu: Meningkatkan kerukunan dan cita kemanusiaan, Penguatan ekoteologi, Layanan keagamaan berdampak, Mewujudkan pendidikan unggul, ramah dan terintegrasi, Pemberdayaan pesantren, Pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan tempat ibadah dan Digitalisasi tata kelola. 

  

Dalam kerja sama antara ulama dan akademisi, maka terkait dengan pemberdayaan pendidikan, pemberdayaan pesantren, pemberdayaan ekonomi dan kementerian berdampak. Tentang mewujudkan pendidikan unggul, ramah dan terintegrasi, maka kerja sama itu dapat dilakukan dengan mengadaptasi upaya Prof. Dr. Nasaruddin , MA tentang Kurikulum Berbasis Cinta dan Kurikulum berbasis Ekoteologi. Kurikulum ini sudah diterapkan dalam uji coba di kalangan madrasah di Jakarta. Yang diharapkan dari penggunaan KBC dan KET adalah terwujudnya Panca Cinta, yaitu Cinta kepada Allah dan rasulnya, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, cinta kepada diri dan kemanusiaan serta cinta tanah air. 

  

Panca cinta sebagai inti dari moderasi beragama harus menjadi gerakan dan jangan hanya menjadi pembicaraan. Dari halaqah menjadi harakah. Sudah saatnya  kerja sama antara ulama dan akademisi diwujudkan dalam gerakan-gerakan untuk mewujudkannya. Saya berkeyakinan bahwa para kiai atau ulama sudah menjadi role model dalam keberagamaan yang berbasis cinta. Para ulama merupakan teladan di dalam pengembangan Islam rahmatan lil alamin. Dan sebagaimana dipahami bahwa substansi dari Islam rahmatan lil alamin adalah beragama dengan cinta.

  

Semua program pendidikan baik ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, sains dan teknologi harus dipacu untuk menjadi bagian tidak terpisahkan dari kerja kolaboratif sekarang dan masa depan. Santri menjadi mahasiswa dan mahasiswa menjadi santri. Inilah yang kita dambakan dalam kolaborasi dimaksud. Mari kita sambut kolaborasi ulama dan akademisi dengan semangat perubahan untuk menuju kepada pendidikan berkualitas.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.