(Sumber : Dokumentasi Penulis )

In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Tiga)

Opini

Hari-hari ini, terasa hadir bayangan leluhur saya. Terasa betapa besar kasih sayangnya kepada saya. Tanpa saya sadari sebelumnya, jika saya harus menjadi seorang diri. Kakek saya Mbah Ismail (W. 1983), Mbah Sarijah (W. 02/03/1989), orang tua saya Bapak Sabar (W. 09/10/1972), dan Emak Hajah Turmiatun (W.10/11/2025), Bapak H. Rois (W. 02/12/1999). Semuanya  sudah kembali ke hadirat Ilahi Rabbi. Jauh sebelumnya, tentu sudah wafat, Buyut Wagiman dan Buyut Sadirah, Mbah Sabat dan Mbah Kasiyah. 

  

Saya masih mengenal Mbah Buyut Sadirah yang meninggal di kala saya masih duduk di Sekolah Dasar. Saya lupa tahunnya. Demikian pula canggah saya, Mbah Mohammad Salim dan Mbah Tarmi. Mereka berada di dalam satu kompleks di Makam Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak,  Tuban, yang dikenal sebagai Makam Mbah Boqa Baqi. Islamisasi di dusun ini dimulai oleh Mbah Baqi, yang dinyatakan sebagai leluhur masyarakat di dusun ini dan merupakan generasi kedua dari Jumlatil Auliya di Tuban.

  

Embah saya, Ismail, merupakan modin di Dusun Semampir. Mbah Ismail  memiliki kemampuan di dalam agama Islam, dan juga kemampuan untuk menjadi ahli dalam ilmu-ilmu “perdukunan.” Bukan dukun dalam konteks negative, akan tetapi dukun dalam konteks positif. Dengan ilmunya itu, maka Mbah Ismail menolong orang. Jika ada orang yang akan memiliki hajad apa saja, maka datang ke rumahnya, jika ada orang yang bermasalah datang kepadanya, jika ada yang sakit, misalnya sakit gigi atau panas, maka datanglah kepadanya. Saya ingat jika ada orang yang sakit gigi, maka penyembuhannya dengan memukul paku di dinding kayu. Dipukulnya berkali-kali dan orang itu sembuh. Sayangnya ilmu ini tidak diajarkan kepada saya. Dari sini mungkin saya mempelajari ilmu antropologi yang memiliki keterkaitan dengan tradisi Jawa. 

  

Mbah Ismail ini memiliki kemampuan menulis Arab dengan sangat bagus. Saya mengagumi tulisan Arabnya. Pada zaman PKI dulu, sebagai orang Jawa, maka dia juga pergi ke Parakan untuk menemukan ilmu-ilmu yang khas. Maklum di saat itu tentu nuansanya genting. Sebagai tokoh umat Islam dipastikan akan menjadi incaran kaum komunis. Bahkan pernah disuruh membuat benteng atau galian tanah seluas kuburan orang dewasa sedalam dua meter. Katanya untuk tempat perlindungan. Saya tidak tahu apa maksudnya di kala itu. 

  

Mbah Ismail ini yang menemani saya sampai saya hampir lulus sarjana pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Modin atau imamuddin adalah tokoh agama dan sekaligus memiliki ilmu untuk kehidupan bermasyarakat. Saya mengenal buku ilmu dalam tradisi Jawa, seperti  Betaljemur Adam Makno, Primbon Jawa, Kitab Manakib Syekh Abdul Qadir Jailani dan Kitab Mujarobat, serta kitab Fikih Sulam Safinah pada saat saya masih duduk di SD dan SMEP. Saya belajar ilmu keislaman dasar dari Kakek saya di langgar keluarga.  Tempat ibadah dari kayu. Banyak anak-anak seusia saya yang belajar agama di langgar tersebut. Bahkan buku pewayangan saya kenal kala masih duduk di SD. Saya pernah punya cita-cita menjadi dalang wayang kulit. Sampai saat ini saya masih bisa bercerita lakon-lakon di dalam wayang kulit. 

  

Meskipun kakek itu seorang yang terpelajar, akan tetapi tidak menyekolahkan anak putri satu-satunya. Justru dikawinkan saat masih muda. Usia 14 tahun. Maklumlah di saat itu perkawinan perempuan yang masih muda bukanlah sebuah aib. Emak pernah cerita, meskipun sudah memiliki suami tetapi tetap saja masih bermain-main sesama kawan-kawannya. Salah satunya Mbok Wasini almarhum. Sebagai anak tunggal perempuan tentu saja kakek dan nenek saya sangat memanjakannya. Meskipun sudah memiliki suami tetapi tidak dibebani kegiatan rumah tangga apapun. Ketepatan suaminya atau Bapak saya masih famili dekat. Embah Perempuan saya, Kasiyah,  dari jalur  bapak masih saudara misanan atau sepupu dengan Embah saya, Ismail. Tradisi mengawinkan sesama kerabat merupakan kebiasaan di masa lalu.

  

Saya lahir setelah dua atau tiga tahun  pernikahan Bapak dan Emak. Tiada catatan apapun tentang pernikahan tersebut, kecuali catatan tahun kelahiran saya tahun 1958. Tertulis di daun pintu yang saya tidak tahu kemana daun pintu tersebut dipindahkan. Perihal kelahiran saya tanggal 07 Agustus 1958 adalah tanggal lahir di dalam ijazah. Kala saya ditanya oleh Pak Slamet, Kepala Sekolah Dasar Negeri Semampir, maka saya katakan, saya lahir tanggal tersebut. Hanya Emak yang bercerita kepada saya, bahwa kelahiran saya itu pada bulan Maulid, tanggalnya tidak dinyatakannya. Memperingati Maulid Kanjeng Nabi sudah ada sebelum saya lahir. Sudah menjadi tradisi. Dari bekal pengetahuan dari Emak itulah kemudian saya mencari di Google tentang tahun lahir, hari lahir dan bulan Jawa, sehingga ketemulah tanggal lahir saya adalah tanggal 07 November 1958 atau bertepatan tanggal 24 Rabiul Awal 1377 Hijriyah. Hebat bukan.

  

Kala kecil, saya pernah sakit parah. Menurut Emak, kala itu belum seperti sekarang tentang fasilitas Kesehatan, sehingga harus mencari Tabib sampai ke Rengel dan ketemulah dengan kerabat Embah Ismail.  Kala  itu harus memakai sepeda ontel. Saya yang semula sudah bisa berbicara lancar, lalu kembali tidak mampu lagi berbicara secara lancar.  Belajar berbicara lagi. Dikatakan Emak, pada saat Kakek saya datang, lalu diminumi dengan air yang full doa, dan kemudian saya berbicara dengan logat terputus-putus, “aku mulih, aku mulih.” Tetapi justru bisa sembuh kembali. Suara saya yang seperti ini merupakan akibat dari sakit yang saya derita di masa kecil. Saya tidak tahu nama penyakitnya, tetapi kira-kira diptheri, yang menyerang tenggorokan. 

  

Emak adalah sosok perempuan yang sangat bertanggung jawab. Meskipun sudah ditinggalkan Bapak dalam usia saya,  13 tahun kelas 1 SMEPN,  yang jarak tempuhnya  15 KM, dengan  satu-satunya kendaraan adalah sepeda ontel, maka saya diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Setiap hari diberi sangu atau bekal uang sebanyak Rp25,00. Untuk minum es dan makanan jajanan habis Rp15,00 dan kelebihannya saya kembalikan kepadanya. Jadi setiap hari Emak hanya menambahkan kekurangannya. Sangu tetap Rp25,00 setiap hari.

   

Bapak saya adalah pekerja keras, sehingga memiliki kelebihan ekonomi dibanding dengan warga desa lainnya. Di saat itu, sudah memiliki dokar dan cikar. Dokar untuk mengangkut orang dan cikar untuk mengangkut barang. Kalau sekarang seperti memiliki kendaraan umum penumpang dan kendaraan khusus angkutan barang. Di desa saya hanya Bapak yang memiliki hal tersebut.  Bapak juga  mendidik saya dalam kedisiplinan yang sangat  ketat. Saya tidak berani menatap wajahnya jika ada kesalahan yang saya lakukan. Berkat kedisiplinan yang diajarkannya, maka saya menjadi disiplin dalam belajar. Menjadi lulusan terbaik di SDN, maklum siswanya hanya empat orang. Menjadi lulusan terbaik kedua se SMEPN Tuban. Bahkan juga lulus PGAN 4 tahun Tuban dengan tidak mengecewakan. Maklum saya langsung masuk ke kelas 4, sehingga harus mengejar seluruh program pembelajaran yang tertinggal selama tiga tahun. Belajar Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Bahasa Arab, dan sebagainya secara tekun. Mengejar pembelajaran selama tiga tahun  dalam disiplin ilmu yang berbeda tentu tidak mudah.

  

Berkat warisan Bapak dan kekayaan Embah Ismail itu,  saya melanjutkan ke Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Emaklah yang bertanggung jawab atas semua pembiayaannya. Tidak hanya bertani tetapi juga berdagang pracangan, yang menyediakan bahan makanan dan kebutuhan masyarakat. Dari sinilah cerita kesuksesan saya. Makanya, saya menyatakan bahwa kehadiran seorang Ibu merupakan lentera bagi kehidupan anak-anaknya. Bagaikan pelita yang menyinari perjalanan hidup anaknya. Sungguh saya orang yang beruntung atas kehadiran Emak yang sedemikian penting di dalam hidup saya.

   

Wallahu a’lam bi al shawab.