Betapa Pentingnya Etika Pendidikan: Mahasiswa PPS UINSI Samarinda
OpiniDi masa lalu, KH. Hasyim Muzadi pernah menyatakan di dalam sebuah ceramah menanggapi semakin menguatnya brutalitas di kalangan siswa dan semakin permisivenessnya perilaku elit politik, maka dinyatakannya: “pendidikan tanpa karakter dan politik tanpa etika.” Ungkapan ini sungguh menohok bagi para aktivis pendidikan, sebab itulah gambaran dunia pendidikan kita yang memang berada di dalam konteks semakin menipisnya karakter pada subyek pendidikan: siswa dan juga mahasiswa. Ungkapan politik tanpa etika juga menohok para elit pemerintah, elit politik dan masyarakat karena begitulah kondisi perpolitikan nasional. Ada banyak penyimpangan di dalam berbagai aspeknya. Ada semacam personalitas terbelah di kalangan politisi.
Inilah pengantar yang saya sampaikan dalam acara Kuliah Umum bersama mahasiswa Program Magister dan Doktor di UINSI Samarinda. Acara diselenggarakan di Ruang Program Pascasarjana dan dihadiri oleh dosen dan pejabat UINSI. Acara ini juga menghadirkan Prof. Dr.Phil. Sahiron, MA, Direktur Pendidikan Tinggi Islam pada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag. Acara diselenggarakan pada 07/11/2025. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, Era sekarang disebut sebagai Era Revolusi Industri 4.0, dan konon katanya segera akan memasuki Era Revolusi Industri 5.0. Di antara tanda ERI 4.0 adalah era digital, serba digital. Manusia semakin banyak memperlihatkan digital life style. Gaya hidup digital. Di antara yang menonjol adalah penggunaan AI untuk berbagai kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. AI dapat dijadikan sebagai instrumen untuk membantu para mahasiswa dan akademisi untuk melakukan kajian atau riset dalam berbagai bidang ilmu. Ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, sains dan teknologi, ilmu terapan dan ilmu formal. (UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi).
AI dapat mencetak manusia yang hanya copy paster. Generasi yang hanya mengkopi dan bukan generasi pemikir. AI dapat mencetak generasi parafraser, bukan generasi thinkingfull. AI membuat generasi ke depan tidak mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah dalam banyak hal. AI harus dimanfaatkan untuk kepentingan kebaikan dan bukan kepentingan pembunuhan atas diri sendiri. Jika kita tidak hati-hati, maka akan terjadi “Killing Thinking: The Death of Rationality.” Dan kemudian akan terjadi “Killing Thinking: The Death of Expertise” dan akhirnya “Killing Thinking: The Death of University.”
Kedua, Di Indonesia, tujuan pendidikan adalah untuk mencetak manusia cerdas, kompetitif dan berkarakter atau berakhlak mulia. Pendidikan tidak hanya mencetak orang menjadi cerdas, pintar dengan kekuatan rational intelligent, akan tetapi juga mengajarkan dan mempraktekkan emosional intelligent, social intelligent dan spiritual intelligent. Selain itu juga memiliki kepedulian emosional dan sosial atas orang lain, komunitas lain dan masyarakat pada umumnya. Pendidikan seharusnya dapat menghasilkan manusia yang kritis tetapi caring the other, dan mampu bekerja sama dengan siapa saja tanpa memandang asal usulnya.
Pendidikan pada umumnya, tidak bisa mengejar kecepatan Teknologi Informasi dan kecerdasan yang dibuatnya sendiri. Teknologi informasi, misalnya AI begitu cepat dan kuat. Tergantung pada kapasitas informasi yang terdapat di dalamnya. Boneka Perempuan China dapat menguasai 87 bahasa dengan tingkat kecanggihan yang luar biasa. Dapat menjadi pelayan setia luar biasa, hanya saja tidak memiliki “perasaan” atas apa yang dilakukannya. Sopir AI lebih aman, cermat dan kuat, tidak butuh makan dan minum serta tidak lelah. Tidak ada keluhan dan tidak ada permintaan yang aneh-aneh. Jadi, AI itu hanya alat untuk mempermudah kehidupan manusia, dan jangan dijadikan melebihi sebagai alat atau instrumen.
Menurut Jack Ma, pendidikan harus mengajarkan believing, ajarkan bahwa ada kebaikan, keadilan, kesetaraan dan kepercayaan diri untuk meraih yang lebih baik. Pendidikan juga harus mengajarkan critical thinking untuk menemukan solusi atau problem solving. Ada inovasi baru, ada perubahan akseleratif baru, ada upaya melakukan perubahan berbasis nilai spiritual dan sebagainya. Pendidikan juga mengajarkan team work, pendidikan seharusnya akan menghasilkan orang yang bisa bekerja sama. Kemampuan kolaborasi di era sekarang sangat penting. Tanpa kolaborasi tidak ada inovasi kolaboratif. Masing-masing individu akan menyumbang kolaborasi yang diperlukan. Kemudian, pendidikan mengajarkan caring the other. Perbedaan antara manusia dan binatang adalah kemampuan berpikir. Jika manusia tidak memiliki kepedulian atas penderitaan orang lain, kesusahan orang lain, dan tanpa kesetiakawanan, maka orang itu tidak lebih merupakan binatang yang bisa berbicara.
Pendidikan juga harus mengajarkan untuk mencintai alam, Tuhan dan Manusia (ATM). Mencintai alam merupakan bentuk pengamalan beragama untuk masa depan. Mencintai Tuhan untuk kehidupan yang sekarang dan akan datang, mencintai manusia untuk mengembangkan kehidupan yang serasi dengan kemanusiaan.
Mahasiswa harus memiliki skilled academic meliputi kemampuan berpikir kritis dan problem solving, kemampuan berpikir kreatif dan menghasilkan inovasi, lalu kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Sering disebut sebagai Four C atau four Competency yang harus dimiliki oleh seseorang di zaman sekarang, baik generasi milenial maupun generasi X, maupun Y dan bahkan generasi kolonial. Di dalam dunia akademik seorang akademisian harus menguasai dan memiliki kemampuan kritis untuk bertanya atau menanyakan konsep, teori, dan kemapanan sosial dan perubahan sosial yang diperlukan.
Ketiga, Etika pendidikan adalah panduan yang berisi nilai dan norma yang disepakati untuk dilakukan oleh semua komponen pendidikan. Yaitu tenaga pendidik, mitra didik, tenaga kependidikan, pimpinan lembaga pendidikan dan siapa yang terlibat di dalam dunia pendidikan, misalnya birokrasi kependidikan. Etika tersebut mencakup lingkungan pendidikan yang kondusif bagi pengembangan kapasitas kependidikan. Lalu, membangun trust kependidikan, mengembangkan karakter berbasis pada kejujuran, transparansi, keadilan, persamaan dan tanggungjawab.
Di antara etika pendidikan tersebut adalah mengembangkan sikap dan perilaku di dalam produk karya ilmiah dan menjaga Etika sosial dan akademik untuk kehidupan bersama. Etika akademik merupakan inti dari kehidupan bersama secara akademik. Akademisi tidak boleh bohong. Harus menjaga diri dari hal-hal yang merusak citra diri dan citra akademik.
Akademisi jangan melakukan tindakan duplikasi, pemalsuan data dan produk akademis, serta melakukan plagiasi. Akademisi harus mengembangkan kejujuran akademis dalam kehidupan ilmiah. Akademisi harus mengembangkan perilaku amanah yang sesuai dengan kaidah akademis.
Wallahu a’lam bi al shawab.

