In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Dua)
OpiniSampai saya berusia 67 tahun ini, baru dua kali saya menyaksikan seseorang yang akan wafat. Saya tunggui dan saya perhatikan bagaimana wafat tersebut terjadi pada diri manusia. Pertama di kala saya masih duduk di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP Negeri) Tuban, di kala ayah saya wafat dan kedua di kala Emak saya wafat, tepatnya pada Hari Senin, 10/11/2025, jam 05.00 WIB. Emak wafat di rumahnya di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban. Wafatnya Mbah Ismail, Mbah Sarijah dan Bapak H. Rois saya tidak tahu karena masih di Surabaya. Saya datang di saat keduanya sudah wafat.
Dua peristiwa kematian ini tentu saja menjadi kenangan abadi di dalam hidup saya. Bapak meninggal pada saat saya masih usia 13 tahun, tahun 1972. Bapak wafat pada Hari Senin pagi jam 05.00 kira-kira. Yang jelas setelah shalat subuh. Hari itu merupakan awal Bulan Ramadhan. Bapak menghembuskan nafas terakhir di dekat saya. Makanya, saya mengetahui bagaimana proses wafatnya. Bapak wafat di usia yang masih produktif. Kira-kira 40 tahun. Salah satu kenangan saya yang tidak saya lupakan adalah perbincangan saya tentang sekolah.
Pagi sebelum subuh Bapak masih sempat bicara dengan saya, seorang anak yang menginjak besar. Saya sedang belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama. Di saat itu Bapak berkata: “aku kepingin nyekolahno awakmu, sekolah sing duwur. Nanging awakku wis ora kuwat.” Di dalam bahasa Jawa Khas Tubanan, yang di dalam Bahasa Indonesia dapat dinyatakan: “Aku ingin menyekolahkan kamu sampai tinggi, akan tetapi tubuh saya sudah tidak berdaya.” Kalimat ini yang saya sampaikan di dalam pengukuhan saya sebagai Guru Besar Sosiologi di IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel), 08/10/2005. Sambil berlinang air mata, saya sampaikan perkataan Bapak ini, saya nyatakan: “Bapak, saya telah memenuhi keinginanmu.”
Peristiwa kedua, yang tidak saya lupakan adalah kala kakek saya, Modin Ismail, sakit dan saya pulang ke Tuban untuk menjenguknya, 1984. Saya berada di semester akhir, bebas kuliah, dan menunggu saat-saat penyelesaian studi. Hari Sabtu saya pulang dan Senin harus berada di Surabaya. Dua hari saya di rumah menemani Mbah Ismail. Hari Ahad sore saya pamit akan kembali ke Surabaya, karena Hari Senin saya ujian lisan. Saya datangi Mbah, lalu saya kecup keningnya. Saya pamit: “Mbah kulo wangsul teng Suroboyo, benjeng Senin enjang kulo ujian lesan”. Lalu Mbah menyatakan: “wis budalo gak opo-opo. Aku wis ditekani mbah-mbahmu, buyut-buyutmu. Nek dino Seloso aku isih urip, umurku isih dowo, nanging rasane kok wis ora kuwat.” Dalam Bahasa Indonesia, “sudah tidak apa-apa, pergilah. Saya sudah didatangi kakek nenekmu dan leluhurmu. Jika saya sampai hari Selasa masih hidup, maka usia saya masih panjang, akan tetapi rasanya sudah tidak kuat.” Berangkatlah saya ke Surabaya, kira-kira jam 16.00 WIB. Harus ke Tuban dan kemudian dengan bus ke Surabaya. Tidak seperti sekarang yang kendaraan itu banyak dan mudah. Saat itu, jika pergi ke Tuban harus naik kendaraan umum dan menunggunya cukup lama. Kira-kira jam 18.00 saya sampai di Tuban dan dengan bus Indonesia, saya ke Surabaya.
Pada saat perjalanan ke Surabaya itulah Mbah saya, Ismail, wafat. Menurut orang Jawa, maka Mbah saya wafat pada Hari Senin atau malam Senin. Ada lagi satu peristiwa yang juga tidak akan saya lupakan, yaitu saran Mbah agar saya sekolah agama. Suatu sore ba’da maghrib, saya bicara dengan Mbah. Di dalam pembicaraan itu, Mbah menyatakan: “kowe iki piye kok ora sekolah agomo babar blas”. Di dalam Bahasa Indonesia artinya “kamu ini bagaimana, sama sekali tidak sekolah agama.” Saat itu saya sudah sekolah di SMEA Tuban. Mbah lalu menghubungai kerabatnya di Desa Senori, Mbah Muk, dan kemudian dihubungkan dengan Pak Asnawi, BA., sehingga saya diminta untuk datang ke PGAN 4 tahun Tuban. Datanglah saya di sana, kemudian saya diuji oleh Pak Mashad, BA untuk membaca kitab gundul. Ketepatan saya diminta untuk membaca pada paragraf yang saya tahu sehingga saya bisa membacanya meskipun tidak utuh. Sahlah saya menjadi siswa di PGAN 4 Tahun. Tiga nama guru saya, Pak Asnawi, Pak Mashad dan Pak Kholilurahman yang sangat saya kenang. Gan juga ada beberapa guru yang sampai hari ini masih melekat di dalam hati saya, seperti Bu Wiwik, Bu Nur Asiyah, Bu Lilik Malichah, Pak Hanafi, Pak Salamun, Pak Nurhadi, Pak Anas Yohanes dan tentu saja Pak Saifullah yang menjadi kepala PGAN Tuban. Rupanya Allah SWT mengatur jalan hidup saya, dengan pernyataan Mbah. Ini merupakan awal mulanya saya belajar pada Lembaga Pendidikan di bawah Kementerian Agama. Lalu menapaki dunia akademis, sampai jenjang pendidikan tertinggi dan gelar professor pun saya raih. Karir saya di Jakarta tentu berkat washilah Prof. Nasaruddin Umar, dan Pak Suryadarma Ali. Allah memang menggariskan ada orang-orang khusus yang menjadi washilahnya dalam kehidupan seseorang.
Akhir-akhir ini memang saya banyak melakukan kunjungan di berbagai daerah. Memang banyak sahabat-sahabat saya dari PTKIN maupun PTKIS yang meminta saya untuk memberikan supporting atas kegiatan yang dilakukan. Ke Singkawang dengan para pimpinan UNISMA, Prof. Junaidi Mistar, Prof. Maskuri, Prof. Mas’ud Said, Prof. Junaidi Ghani, dan Prof. Imam Suprayogo, lalu ke Kemenag Jakarta, ke UIN Mataram, Ke UIN KHAS Jember dan ke UINSI Samarinda. Sebelumnya ke UIN Maliki Malang, ke STAI Al Yasini, Ke IAI Uluwiyah, Mojokerto, ke STIT Raden Wijaya Mojokerto dan tentu saja ke UINSA. Maklum UINSA adalah home base saya.
Kepergian saya ke UINSI Samarinda saya percepat pulangnya. Mestinya dari Jum’at sampai Ahad. Hasrat hati ingin ke IKN. Saya pernah ke sana kala masih lahan kosong dan hanya ada tulisan “Titik 0 Indonesia.” Saya ingin hadir untuk menuliskan perkembangannya. Tetapi keinginan tersebut tidak terjadi, sebab saya harus segera balik ke Surabaya. Hari Sabtu saya balik ke Surabaya dan langsung ke Tuban. Emak lagi sakit, tetapi isteri saya, Indah, sudah di Tuban. Jam 15.30 saya sampai di dekat Tuban, dan isteri saya menelpon, katanya Emak drop. Hari Jumat pagi masih sempat difoto dan hasilnya dikirim ke saya. Masih segar bugar. Tentu sehatnya orang tua. Dengan kerudung dan kain jaritnya yang khas pedesaan, kelihatan masih benar-benar sehat. Bahkan memakai kaca matanya. Bahkan saya jadikan sebagai gurauan: “waduh kok masih gaya, pakai kaca mata segala.” Biasalah semua menjadi bahan candaan.
Sesampai di rumah memang Emak sudah drop. Emak sudah tidak mampu berkata. Tetapi masih mengenal saya. Terlihat dari gerak mata dan anggukannya yang menandakan masih baik ingatannya. Hari Ahad pagi, Kiki dan Evi datang menjenguknya. Masih mengenal cucunya. Terlihat dari gerak mata dan anggukannya. Hanya tinggal satu cucunya yang belum datang, Eva, dari Jakarta. Dia naik kereta dari Bekasi dan turun di Lamongan. Dan sampai di rumah jam 04.05 WIB. Waktu sampai di rumah pecah tangisnya, dan saya tidak tahu apa yang diucapkan kepada embahnya. Matanya sudah terpejam, tapi nafasnya masih baik. Tetapi sejam kemudian, jam 05.00 WIB, Emak menghembuskan nafas terakhirnya. Saya sempat melafalkan kata \"Allah. Allah, Allah, dan Emak kemudian dipanggil oleh Allah SWT.”
Wallahu a’lam bi al shawab.

