Memadu Ilmu dan Etika Hidup: Kata Pengantar Buku Untuk Kolega
OpiniSalah satu kebahagiaan sekaligus kegembiraan sekaligus kehormatan seorang dosen adalah kala diminta untuk memberikan kata pengantar atas buku yang akan diterbitkan atau diminta menjadi kontributor sebuah karya akademis. Dan kegembiraan itu memuncak saat buku tersebut terbit. Ada rasa bangga dan bahagia kala buku yang terdapat kata pengantar saya atau tulisan saya itu sampai di rumah, di tangan saya.
Pada pekan ini, saya menerima kiriman buku dari para penulis. Saya diminta oleh penulisnya untuk memberikan kata pengantar dan juga ada yang meminta untuk menjadi kontributor buku. Dan yang membuat saya gembira karena buku-buku tersebut terbit pada waktu yang tepat, dan sampai di tangan saya pada bulan Ramadhan. Sepertinya, Tuhan Yang Maha Esa sedang memberikan kegembiraan kepada saya di saat bulan puasa. Sekali lagi bahwa saya menjadi sangat gembira ketika tulisan saya tersebut diterbitkan di manapun. Saya menjadi ingat kala tulisan saya dipublis di Koran, seperti: Jawa Pos, Suara Karya, Surabaya Pos, Kompas, Suara Pembaruan, dan juga termuat di Majalah Aula, Majalah Matan, MPA dan sebagainya, pada tahun 2008-2011, maka tulisan itu saya baca berulang-ulang. Tulisan-tulisan tersebut telah saya bukukan dalam beberapa judul buku. Misalnya: “Tantangan Multikulturalisme di Indonesia”, Transisi Perubahan”, “Demi Agama, Nusa dan Bangsa”, “Membangun Harmoni Menuai Damai” dan Dari Bilik Birokrasi”, “Islam Nusantara Berkemajuan”, “Perjalanan Etnografi Lima Benua”, Perjalanan Etnografi Spiritual” dan “Kepemimpinan yang Ramah”. Buku-buku ini diramu dari karya-karya saya di Koran, website nursyamcentre.com dan nursyam.uinsby.ac.id.
Dalam pekan keempat bulan Ramadhan 1444 H atau pekan ketiga bulan April 2023, saya menerima buku yang di dalamnya terdapat tulisan saya. yaitu: “Testimoni untuk Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc, MA: Srikandi Tangguh, Ilmuwan Mendunia Yang Bersahaja”. Buku ini lahir dari upaya mendokumentasikan tulisan pada sahabat, kolega dan birokrat tentang kiprah Prof. Amany Lubis. Ada sebanyak 115 orang yang memberikan testimoninya. Ada dosen, para rektor, tokoh agama-agama, para birokrat, aparat penegak hukum, advokat dan penggiat pemberdayaan masyarakat. Tentu tidak mudah untuk mengumpulkan tulisan sebanyak itu. Hal ini saja sudah menggambarkan seberapa banyak yang menulis testimoninya adalah orang yang kenal dekat dengan Prof Amany. Saya menulis: “Prof. Amany Lubis, Perempuan Bertalenta Memimpin”.
Lalu saya juga memberikan kata pengantar atas buku yang ditulis oleh Samsuriyanto, S.Kom.I, M.Sos.I. Buku itu berjudul: “Lentera: Dari Sengsara Menuju Gembira”. Buku yang dirumuskan dari karya tulis di media ini kemudian menjadi buku yang sudah memasuki cetakan ke tiga tahun 2023. Sebuah buku yang berisi motivasi di dalam mengarungi kehidupan. Di dalam kata pengantar, saya tulis dengan judul: “Meraih Bahagia Dalam Kehidupan: Sebuah Misi Utama”. Tulisan Samsuriyanto enak dibaca dan perlu. Enak dibaca karena berisi dunia kehidupan sehari-hari yang seharusnya penuh dengan visi, misi dan cita-cita, penuh dengan aktivitas yang terukur untuk mencapai tujuan, konsisten dalam mencapai tujuan, dan jangan pernah putus asa.
Saya juga menerima buku yang ditulis oleh Yusuf Amrozi, M.MT, dan Moh. Khusnu Milad, M.MT. buku itu berjudul: “Uinversitas Islam Negeri Dalam Terpaan Perangkingan PT Global: Tinjauan Orkhestrasi Sumber Daya dan IT-Organisasional Capabilities”. Saya memberikan kata pengantar atas terbitnya buku ini bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, MAg., Direktur Pendidikan Tinggi Islam. Saya menulis kata pengantar dengan judul: \"Sekapur Sirih, Mempersembahkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) ke Arah World Class University (WCU)”. Kata pengantar saya terkait dengan variabel-variabel pengembangan PTKI. Bagi saya ada sebanyak 20 variabel yang harus diperhitungkan untuk upaya pengembangan PTKI ke depan. Variabel-variabel tersebut adalah kemiskinan atas masalah pembangunan kelembagaan pada PTKI di Indonesia.
Karya Yusuf Amrozi dan Mohammad Khusnu Milad hanya mengambil tiga variabel penting dalam pengembangan PTKIN yaitu bagaimana mengembangkan IT dan kelembagaan PTKIN dan hubungan keduanya. Melalui kajian keduanya dijelaskan tentang upaya pengembangan PTKIN untuk menjadi World Class University. Oleh karena sudah saatnya, PTKIN berebut untuk memperoleh pengakuan internasional agar melalui pengakuan demi pengakuan tersebut, maka jalan terjal untuk masuk WTC agar sedikit bisa diurai. Tanpa mengurai masalah-masalah PTKIN maka akan sulit untuk menapaki WCU.
Sebagaimana saya jelaskan di depan, bahwa salah satu kebanggaan dan kehormatan sebagai dosen adalah kala dipercaya untuk memberikan kata pengantar sebuah karya dosen. Bagi saya hal ini merupakan pengakuan atas keberadaan dosen. Saya merasakan bahwa dengan memberi kata pengantar dan sebagai kontributor buku, maka nama saya akan abadi di dalam karya akademik.
Salah satu indikator keberadaan seorang dosen adalah kala menulis dan bisa diterbitkan di mana dan kapan saja. Dan dengan menulis seorang dosen menjadi ada. Saya menulis saya ada. Makanya, ungkapan dalam bahasa latin, \"Verba Volant Scripta Manent\" dibicarakan hilang, ditulis abadi harus menjadi semboyan bagi semua insan akademisi.
Wallahu a\'lam bi al shawab.

