(Sumber : Infojateng.id)

Tipologi Moderasi Beragama di Universitas

Riset Sosial

Artikel berjudul “Typologies of Religious Moderation in Indonesian Higher Education Institutions” merupakan karya Nunu Burhanuddin dan Darul Ilmi. Tulisan ini terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2022. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menganalisis tipologi moderasi beragama yang di praktikkan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan Perguruan Tinggi Umum (PTU) dengan fokus kajian di Universitas Islam Negeri Padang, Universitas Islam Negeri Bandung, dan Institut Pertanian Bogor. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan fenomena empiris. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara, observasi partisipan, dokumentasi dan kajian literatur. Terdapat dua sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, tipologi moderasi beragama. 

  

Pendahuluan

  

Salah satu momen penting bagi perkembangan moderasi beragama di Indonesia adalah ketika Kementerian Agama RI menetapkan tahun 2019 sebagai tahun moderasi beragama. Pada saat yang sama, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkannya sebagai International Year of Moderation. Moderasi beragama yang digagas Kementerian Agama menjangkau seluruh elemen lembaga negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum. Kementerian Agama menjadi pusat sosialisasi literasi agama yang moderat, toleran, dan inklusif. Selain menjangkau berbagai elemen di atas, pengarusutamaan moderasi beragama oleh Kementerian Agama dipicu maraknya fenomena radikalisme dan ekstremisme yang merebak di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

  

Data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelejen Negara (BIN), dan lembaga penelitian seperti Setara Institutem dan CSRC menunjukkan tanda-tanda meningkatnya ekstremisme dan radikalisme di perguruan tinggi. Data lain dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengungkapkan sekitar 10 PTN ternama terpapar radikalisme. Sesuatu yang sangat anomaly, sebab kampus dengan berbagai kegiatan dalam pengembangan riset, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat terpapar radikalisme. Beberapa gerakan ekstremis antara lain fragmentasi politik Salafisme, ideologi transnasional dengan tujuan mendirikan negara Islam, Ideologi Takfiri, intoleransi terhadap pemeluk agama lain, terorisme, politik siber dan propaganda yang mengarah pada jaringan teroris, dan lain sebagainya. 

  

Tipologi Moderasi Beragama 

  

Berdasarkan etimologi, tipologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari kesan, gambaran, bentuk, tipe, atau karakter suatu objek. Pada konteks ini, istilah tipologi digunakan untuk menggambarkan cara atau upaya memahami konstruksi moderasi beragama yang telah berkembang dalam realitas sejarah, khususnya dalam dinamika PTKI dan PTU Indonesia. beberapa pola moderasi beragama di antaranya adalah: pertama, integrasi institusional dan budaya-interpolasi. Salah satu perguruan tinggi yang menerapkan moderasi beragama melalui pola keilmuan dan transmisi nilai budaya adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Universias Islam tertua di Sumatera Barat ini telah mengalami metamorphosis dari IAIN menjadi UIN berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2017. Pola interpolasi moderasi beragama di kampus tersebut terlihat dari sebaran fakultas dan program studi yang menyediakan dasar bagi pengembangan rasionalitas dan sikap multikultural-inklusif, suatu model pendidikan dalam rangka menumbuhkan pemahaman mahasiswa mengenai kearifan, kesadaran sikap dan perilaku terhadap keragaman agama, budaya dan masyarakat. Model pendidikan multikultural inklusif tidak hanya menuntut “belajar mengenai dasar agama” tetapi juga “pendidikan keberagamaan.”

  

Konstruksi keilmuan UIN Imam Bonjol Padang berada dalam lingkungan budaya Minangkabau yang menganut semboyan “Adat Badandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah.” Artinya, agama menyatakan, adat mewujudkan. Alhasil, dapat dikatakan bahwa civitas akademika di UIN IB Padang memiliki citra diri sebagai masyarakat moderat yang menganut ajaran tradisional berdasarkan pemahaman dan pengamalan Islam yang kuat. 

  

Kedua, pola simbolik-paradigmatis. Salah satu kampus yang menerapkan tipologi ini adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan konstruksi paradigma Wahyu Memandu Ilmu (WMI). Perguruan Tinggi Keagamaan Islam terbesar di Jawa Barat ini telah mengalami metamorphosis dari IAIN menjadi UIN berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 57 Tahun 2005. Tujuannya adalah mempersatukan khazanah prularitas bangsa Indonesia dari berbagai budaya, warna kulit, etnis dan agama. Visi WMI adalah menjadikan wahyu (al-Qur’an) sebagai pedoman pengembangan keilmuan dan pendidikan di IIN Bandung. Paradigma WMI digambarkan dalam metafora filosofi roda yang menandai titik temu antara sains dan agama. hal ini menjadi bagian penting yang menjembatani lahirnya konsep moderasi dalam konteks keilmuan di mana sains dan agama tidak bersifat paradogs melainkan sinergis dan saling mendukung satu sama lain. 

  

Roda adalah simbol dinamika dunia ilmiah dengan kekuatan berputar pada porosnya dan berjalan di permukaan bumi. Roda dipahami sebagai bagian penting dari kekuatan yang fungsinya menopang beban kendaraan yang bergerak dinamis. Itulah fungsi roda para kendaraan yang diibaratkan UIN Bandung ke depan menjadi sarana integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama dalam kontelasi pembangunan budaya, tradisim teknologi, dan pembangunan bangsa. Setiap bagian roda memiliki makna kiasannya masing-masing. Sumbu melambangkan pusat akidah, syariat dan akhlak yang terangkum dalam seluruh wahyu Allah baik Quraniyah maupun Kuniyah. Perspektif keilmuan UIN Bandung yang mengedepankan sinergi antara sains dan agama juga mencerminkan ciri khas kajian agama sebagai inti keilmuan utama. Semua bidang keilmuan di luar kajian agama saling melengkapi. Semangat ini menandai kekuatan wahyu yang berperan dalam membimbing lahirnya berbagai ilmu, keilmuan, dan penelitian terapan.

  

Ketiga, internalisasi dari Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Salah satu yang menerapkan pola internalisasi mata kuliah PAI adalah Institut Pertanian Bogor dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Penerapan moderasi beragama di IPB dilakukan dengan pola di atas yang meliputi lima masalah pokok. Pertama, pola internalisasi nilai moderasi melalui mata kuliah PAI di IPB dilakukan dengan memberikan pelajaran kepada mahasiswa IPB mengenai metodologi pemahaman Islam yang benar. Kedua, materi dalam internalisasi PAI mencakup muatan keagamaan, berintegrasi dengan kemanusiaan dan kebangsaan. Ketiga, metode internalisasi PAI yang diajarkan di IPB dilakukan secara dinamis, sehingga pembelajaran PAI tidak monoton dan normatif tetapi menjangkau sisi psikologis terdalam sebagai warga negara yang berdaulat, religius, humanis dan mandiri. Keempat, penguatan aspek keteladanan dosen berpotensi berpengaruh signifikan terhadap optimalisasi pembelajaran PAI di IPB. Kelima, mekanisme evaluasi dalam internalisasi pembelajaran PAI. 

  

Keempat, pesantren mahasiswa berbasis moderasi beragama. Salah satu upaya membangun sikap moderasi beragama di kalangan santri adalah melalui pesantren kampus yang disebut Ma’had Al-Jamiah. Upaya ini dilakukan oleh beberapa PTKI, seperti UIN Malang, IAIN Tulungagung, UIN Lampung, dan lain sebagainya. Misalnya, sejak awal berdirinya UIN Malang melakukan berbagau upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul dengan kedalaman spiritual, keluasan ilmu, kekuatan moral dan profesionalitas. Visi tersebut diterjemahkan dalam ma’had dengan dua program unggulan yakni “Ta’lim al-Afkar al-Islamiyah" dan “Ta’lim al-Qur’an.” Pertama adalah kelas khusus bagi santri yang mampu membaca kitab kucing di bawah bimbingan kiai ma’had. Pola dialog antara santri dan kiai tentang berbagai materi keagamaan dapat mengembangkan wawasan berpikir keterbukaan pikiran mereka. Pada gilirannya dapat menggiring santri menjadi kritis dan moderat. Kelas kedua khusus bagi mahasiswa yang belum bisa membaca kitab kuning dengan lancar, sehingga dibimbing oleh musrif sampai bisa membacanya. 

  

Impelemtasi moderasi beragama berbasis pesantren juga dipraktikkan di UIN Tulungagung dengan mengedepankan paradigma rahmatan lil alamin. Di sini program Ma’had Al-Jamiah mencakup program pengembangan membaca dan menulis al-Qur’an, penguasaan ilmu agama secara komprehensif, kompetensi linguistik, peningkatan kompetensi keterampilan, dan peningkatan kulaitas dan kuantitas ibadah. Selain itum upaya pengembangan pesantren mahasiswa untuk moderasi beragama juga dilakukan oleh UIN Lampung dengan menawarkan program pendalaman ilmu agama, pemilihan tenaga pengajar, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Upaya serupa juga untuk mengembangkan mahasiswa menjeadi moderat dan memiliki kesalehan sosial melalui Ma’had al-Jamiah juga ditemukan di IAIN Bukittinggi dengan pembiasaaan ibadah, penguatan akhlak, dan tahsin al-Qur’an. 

  

Kesimpulan 

  

Secara garis besar, program moderasi beragama telah mendapatkan respon positif dari hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pada penerapannya, moderasi beragama diadopsi dengan berbagai pola tertentu. Hal ini disesuaikan dengan beberapa hal seperti visi, budaya kampus, dan lain sebagainya. Upaya ini perlu diparesiasi sekaligus dievaluasi secara berkala untuh meminimalisir atau mencegah radikalisme memapar para akademisi.