Mengerikan: Akibat Perang Bagi Kemanusiaan
OpiniPenyiar TVOne, Putri Windasari, yang menangis ketika membacakan berita tentang akibat perang bagi anak-anak premature di Palestina tentu bukan sebuah rekayasa atau drama kehidupan. Akan tetapi hal ini merupakan realitas social yang diakibatkan oleh berkecamuknya perang di wilayah Gaza yang melibatkan Palestina dan Israel.
Tentu yang banyak menjadi korban adalah warga Palestina terutama di Gaza yang mendapatkan serangan-serangan bertubi-tubi dari tentara Israel dengan roket dan senjata canggih lainnya. Meskipun gencatan senjata nyaris disepakati, akan tetapi pasukan Israel terus melakukan tindakan bombardier atas wilayah Gaza yang memang sedari semula menjadi medan perebutan antara Palestina dan Israel.
Tantara Israel memang selalu membabi buta. Jika selama ini terdapat konvensi bahwa terhadap Rumah Sakit dan tempat ibadah dilarang melakukan serangan, akan tetapi Israel sudah tidak perduli lagi. Selalu saja alasannya adalah mereka menganggap bahwa Rumah Sakit dan tempat ibadah menjadi sarang terorisme, khususnya kaum Hamas yang menjadi lawan di dalam peperangan tersebut. Israel sudah kehilangan dimensi kemanusiaannya dengan menyerang apa saja yang bisa dilakukan. Mereka melakukan bumi hangus atas lawannya. Rumah Sakit Indonesia di Gaza pun tidak lepas dari serangan Israel.
Berdasarkan rilis bahwa sudah terdapat sebanyak 11.000 anak Palestina yang menjadi korban dalam serangan demi serangan Israel. Sebagaimana berita yang dibacakan oleh reporter TVOne tersebut, maka anak-anak premature yang berada di Rumah Sakit tersebut tidak dimasukkan ke dalam incubator karena ketiadaan listrik, juga tidak dapat minum susu karena ketiadaan air bersih dan juga tidak mendapatkan pengobatan yang baik karena ketiadaan obat, dan juga tidak diinfus karena serba keterbatasan rumah sakit. Akibatnya banyak anak premature yang meninggal karena keterbatasan sarana dan prasarana rumah sakit.
Perang memang sesuatu yang tidak dikehendaki. Tidak ada komunitas atau masyarakat yang menghendaki perang. Tidak bisa dijamin bahwa perang akan membawa kepada kedamaian. Perang selalu menghasilkan penderitaan baik yang menang maupun yang kalah. Perang itu kehendak penguasa dan bukan kehendak masyarakat. Perang selalu melibatkan sejumlah kecil pemimpin negara yang berpikir untuk melakukan penguasaan atas yang lain.
Sepanjang kehidupan manusia kira-kira 4000 tahun sebelum masehi hingga sekarang perang terus terjadi. Sekurang-kurangnya adalah rivalitas. Semenjak Nabi Adam AS, maka sudah terdapat rivalitas yang menyebabkan terjadinya pembunuhan. Kisah Qabil dan Habil adalah kisah pertarungan antara kebaikan dan keburukan, antara manusia jahat dan baik atau antara manusia dengan manusia lainnya. Sesungguhnya di dalam dunia ini dunia lebih banyak dikuasai oleh konflik dibandingkan damai.
Setiap perang pastilah elit yang terlibat secara intensif. Merekalah yang mendesain perang, dan juga sekali waktu mendesain damai. Tetapi perdamaian selalu datang belakangan dan setelah kerusakan terjadi di mana-mana. Bahkan konvensi di dalam perang yang seharusnya tidak boleh menjadikan rumah sakit, fasilitas kemanusiaan dan fasilitas umum lainnya bisa sengaja dirusak. Contohnya di dalam perang antara Israel dan Palestina, maka blockade atas bahan pangan, air minum dan obat-obatan juga dilakukan. Rumah sakit dihancurkan. Fasilitas ibadahpun dirusak. Semua menggambarkan bahwa perang itu sesuatu yang destruktif.
Perang bukan hanya urusan para prajurit atau tentara dan rakyat yang berperang, namun yang lebih mendasar adalah perintah pimpinan atau elit negara. Tentara atau rakyat hanyalah orang yang menjadi obyek dalam kepemimpinan di dalam suatu negara. Namun demikian, yang justru paling menderita sesungguhnya adalah rakyat. Di dalam kasus semua perang, maka yang menjadi korban dalam keganasan perang adalah rakyat. Dengan demikian, yang menjadi sasaran perang sebenarnya adalah rakyat. Di dalam peperangan antar negara atau bangsa, maka rakyat dari kedua negara yang merasakan dampak paling parah. Bahkan ada yang menyatakan bahwa akibat perang akan dirasakan oleh dua atau tiga generasi.
Di antara tokoh teori social yang mencoba untuk menggambarkan bahwa konflik itu lebih kuat tensinya di dalam diri pemimpin atau elit adalah Lewis Coser. Dari proposisi yang dirumuskannya, maka tiga di antaranya adalah konflik semakin memperkuat identitas suatu kelompok, lalu konflik itu akan mempertegas batas wilayah yang berkonflik dan konflik itu lebih tinggi intensitasnya di kalangan elit. Dari proposisi ini, dapatlah dipahami bahwa konflik yang melibatkan Israel dan Palestina, sebenarnya merupakan tindakan para elitnya. Kaum elitlah yang menentukan bagaimana perang harus dilakukan.
Melalui perumusan proposisi tersebut, maka sesungguhnya yang mendesain perang di antara bangsa Israel dan Palestina adalah para elit dari kedua belah pihak. Hamas yang berada di pihak Palestina dan Netanyahu yang berada di pihak Israel. Hanya saja, tindakan kekerasan actual itu lebih banyak dilakukan oleh Israel yang memiliki nafsu untuk menguasai dan ketidakinginannya atas keberadaan Negara Palestina.
Dan sebagaimana dampak perang, maka yang sesungguhnya menderita adalah rakyat yang tidak berdosa, orang tua yang lemah, anak-anak yang tidak berdaya dan juga kaum perempuan yang tersandera. Mereka inilah yang sesungguhnya paling menderita, termasuk bayi-bayi premature yang seharusnya memperoleh perlindungan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

