Mazhab-Mazhab dalam Bahasa Arab
HorizonMohammad Nasih Al Hashas
(Mahasiswa Magister Studi Islam UIN Sunan Ampel)
Orang pertama yang menyadari pentingnya mengembangkan ilmu tata bahasa (nahwu) adalah Abu Aswad ad-Du\'ali. Ia merintis penulisan dengan meletakkan baris (harakat) dan tanda-tanda bunyi lainnya pada setiap kata, ia pula yang memperkenalkan sistem titik pada huruf Arab. Kendati demikian, ilmu nahwu baru berkembang dan mencapai masa keemasannya dua abad kemudian. Ketika itu ahli-ahli bahasa seperti Sibawaihi, al-Farahidi, dan al-Farra\' (w. 207 H/823 M) menuliskan karya-karya mereka di bidang tata bahasa. Nahwu lahir dan berkembang di Basrah, kemudian meluas di Kufah, Bagdad, Mesir, dan Andalus yang kemudian kota-kota ini menjadi pusat mazhab-mazhab nahwu yang kita kenal sampai masa ini.
Mazhab Basrah
Pada masa awal kemunculan mazhab ini, di Kufah belum terdapat mazhab nahwu. Ilmuwan nahwu di Basrah dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki karya-karya tata bahasa yang berkualitas dan valid, hal ini dikarenakan mereka selektif terhadap bahasa maupun ungkapan-ungkapan orang-orang Arab yang mereka dengar dan dijadikan dalil dalam meletakkan dasar-dasar hukum ketatabahasaan. Validitas dan keunggulan ilmuwan Basrah dalam hal ini tidak terlepas dari beberapa sifat yang menjadi karakteristik mazhab mereka. Oleh karena itu, ciri pertama dari sekte mereka adalah kehati-hatian dan ketepatan dalam memilih teks, sehingga jika mereka menemukan beberapa teks yang tidak sesuai dengan kontrol dan aturan mereka, mereka menggunakan interpretasi, penilaian, estimasi, dan penilaian sehingga aturan mereka akan tetap utuh dan tidak terganggu. Adapun kualitas kedua, adalah kemampuan unggul untuk menyimpulkan dengan bukti-bukti rasional, langkah-langkah logis, dan alasan filosofis.
Mazhab Kufah
Kufah merupakan kota para ulama yang menggeluti bidang tata bahasa yang berbeda dengan Basrah. Dipelopori oleh Abu Ishak, di Kufah bermunculan dialektika akademis dalam pemahaman kata-kata dalam al-Qur\'an yang menempatkan poin-poin gramatikal dan morfologis bahasa Arab. Berbeda dengan mazhab Basrah yang sangat selektif terhadap bahasa dan ungkapan orang-orang Arab yang mereka dengar untuk dijadikan dasar penetapan hukum ketatabahasaan, mazhab Kufah lebih longgar dalam hal tersebut. Selain mengambil apa yang telah diambil mazhab Basrah, mereka (orang-orang Kufah) juga berpedoman kepada ungkapan-ungkapan orang-orang Arab yang belum jelas sumbernya. Sehingga mereka banyak memiliki bahasa-bahasa yang tidak populer digunakan (nadir) dan lemah untuk dijadikan dalil dalam menetapkan kaidah bahasa. Sebagai contoh menurut orang Kufah boleh meletakkan dlamir kaf setelah(إلا) , sedangkan menurut Basrah perkara tersebut langka dan tidak boleh dijadikan dasar hukum.
Mazhab Bagdad
Karakteristik mazhab bagdad terlihat dari usaha yang mereka lakukan dalam menetapkan kaidah-kaidah nahwu, yaitu di samping mereka menetapkan dasar hukum tata bahasa berdasarkan hasil ijtihad sendiri, mereka juga melakukan pemilihan beberapa poin dari mazhab Basrah maupun Kufah yang menurut mereka sesuai dengan pendapat mereka. Adapun ciri khasnya, yaitu kecenderungan mereka mengambil pendapat Basrah (seperti mereka membolehkan berfungsinya masdar sebagaimana fungsi kata kerjanya), kecenderungan mereka mengambil pendapat Kufah (seperti memperbolehkan berlakunya kalimat seru (nida\') dengan komposisi yang terdiri dari ya nida\' dan ism ma\'rifat dengan \"al\"), dan adanya kaidah yang berasal dari ijtihad mereka sendiri mengenai \"i\'rab hal\".
Mazhab Andalusia
Munculnya mazhab Andalusia pada abad ke VI dan ke VII Hijriyah dipelopori oleh para ilmuwan yang sebelumnya telah mempelajari mazhab Basrah, Kufah dan Bagdad. Munculnya Mazhab Andalusia tidak terlepas dari peran serta para ilmuwan mereka yang giat melakukan perjalanan mempelajari tata bahasa Arab (nahwu). Mazhab Andalusia dikenal memiliki objektifitas yang lebih representatif dan berhati-hati dalam menerbitkan teorinya. Para tokohnya berpedoman kepada naskah Arab yang populer dan otentik yang merujuk kepada al-Qur’an dan Hadist dan juga prosa dan syair yang diriwayatkan oleh para fushaha. Demikianlah, pada akhirnya mazhab Andalusia dibangun oleh suatu kalaborasi dan integrasi beberapa mazhab, seperti mazhab Basrah, mazhab Kufah, dan mazhab Bagdad yang dimulai pada abad kelima dan berlanjut sepanjang abad keenam dan ketujuh Hijriyah.
Mazhab Mesir
Al-Wallad bin Muhammad al-Tamîmî al-Basari terkenal dengan sebutan \"al-Wallad\" adalah ulama yang pertama kali mengajarkan nahwu di Mesir, sebelumnya ia melakukan perjalanan ke Irak, dan belajar kepada al-Khalil bin Ahmad. Selanjutnya muncul Abu Hasan al-A\'az, ia adalah murid dari al-Kisai , lalu ia bergabung untuk mengajarkan ilmu-ilmu nahwu di Mesir. Dengan begitu, di Mesir terjadi penggabungan antara dua keilmuan mazhab besar, yaitu mazhab Basrah dan Kufah. Abdul Salim Mukrim menyimpulkan bahwa nahwu mazhab Mesir memiliki karakter dan kecenderungan terhadap dua hal berikut ini: 1) Adanya pengaruh kuat dari mazhab Basrah yang banyak menggunakan al-Qiyas, al-Ushul, al-‘Ilal dan al-Furu’. Nahwu Mesir tipe ini terutama mempresentasikan pada tokoh nahwu semisal Ibnu al-Hajib dan Abu Hayyan al-Andalusi, 2) sikapnya yang tidak menolak terhadap mazhab Basrah maupun Kufah, namun sekaligus menegaskan bahwa mereka memiliki pandangan sendiri dalam memecahkan berbagai persoalan nahwu. Karakter kedua ini tercermin pada pandangan ahli nahwu Mesir seperti Ibnu Malik dan Ibnu Hisyam.
Perkembangan dan pemikiran nahwu yang dipelopori oleh mazhab Basrah, selanjutnya mazhab Kufah telah memberikan konstribusi yang sangat besar bagi perkembangan ilmu nahwu dari masa ke masa. Mazhab Basrah laksana “Ibu”, mazhab Kufah adalah “Bapaknya”, sedangkan yang lainnya yakni mazhab Bagdad, mazhab Andalusia, dan mazhab Mesir adalah “keturunannya”. Meskipun dari dua sumber yang sama, namun setiap mazhab memiliki corak pemikiran dan konsep yang berbeda tentang nahwu.

