Mengintegrasikan Moderasi Beragama dalam Kurikulum Pendidikan Islam
OpiniKurikulum merupakan dokumen tertulis sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kurikulum merupakan dokumen dinamis yang memberi peluang bagi para pendidik untuk mengekspresikan program pembelajaran dalam mencapai luaran pendidikan yang relevan dengan visi pendidikan. Sebagai dokumen tertulis, kurikulum dapat menjadi pedoman bagi para pendidik tentang apa dan bagaimana dalam mencapai visi pendidikan. Kurikulum berfungsi sebagai pengarah program pembelajaran yang berisi tentang materi ajar yang relevan dengan visi dan misi institusi pendidikan.
Pernyataan ini saya ungkapkan dalam Workshop Training of Trainer (TOT) Guru Pelopor Moderasi Agama. Hadir pada acara ini, Kepala Madrasah dan Guru Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) dari seluruh Indonesia. Sekarang terdapat sebanyak 23 MAN IC, yang berdiri di hampir seluruh Provinsi di Indonesia. Hadir juga Moh Siddiq, pejabat pada Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan pada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag. Acara dilaksanakan di Hotel Swiss Bell Hotel, Surabaya, 28/10/2021.
Pembelajaran Moderasi Beragama dapat dilakukan dalam dua pola: Secara integrated atau menyatu dengan mata pelajaran lain yang memiliki kesamaan visi dan misi pembelajaran. Dalam pola integrasi ini, muatan karakteristik moderasi beragama diintegrasikan dengan mata pelajaran yang memiliki kedekatan dengan tujuan moderasi beragama. Secara partikular atau terpisah. Untuk kepentingan pembelajaran moderasi beragama. Ada satu program pembelajran khusus yang dirancang dengan mata pelajaran Moderasi Beragama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya. Jika menggunakan kurikulum integrated, maka cakupannya akan sangat luas pada semua unsur kurikulum di madrasah, namun terpisah-pisah atau tidak utuh. Jika menggunakan model separated, maka ada mata pelajaran moderasi beragama yang dipelajari secara utuh tetapi tidak tersebar pada setiap mata pelajaran.
Ada beberapa prinsip mendasar tentang moderasi beragama, yaitu: Pertama, wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Seseorang akan dapat dinyatakan memiliki pemahaman dan perilaku moderasi beragama jika yang bersangkutan memiliki wawasan kebangsaan dan nasionalisme yang kuat. Tidak terpengaruh dengan berbagai ideologi dunia, baik yang trans-nasional maupun bukan. Misalnya ideologi liberalisme, Komunisme, sosialisme dan islamisme. Ideologi khilafah yang diusung oleh HTI dan paham agama ekstrim tentu akan ditolak karena tidak relevan bagi Indonesia yang plural dan multikultural. Demikian pula ideologi liberalisme yang meyakini ada kebebasan mutlak dan juga komunisme yang sama mengagungkan ketiadaan milik pribadi. Dan sebagainya.
Kedua, mengembangkan paham dan perilaku toleran. Toleransi merupakan pengakuan bahwa ada orang lain yang berbeda suku, agama, ras dan antar golongan. Satu paham bahwa manusia memang diciptakan dalam aneka ragam. Tuhan memang berkehendak untuk menciptakan keragaman. Indonesia adalah negara dengan tingkat keragaman yang sangat luar biasa. Tiada di dunia ini yang menyamai Indonesia dalam keragaman suku, ras, agama dan antar golongan. Bahkan juga bahasa. Berbasis pada keragaman ini, maka memupuk toleransi merupakan kewajiban bagi bahwa Indonesia. Bisa dibayangkan andaikan bangsa Indonesia ini bukan bangsa yang toleran, maka Indonesia tidak akan ada. Indonesia menjadi kuat dan besar karena masyarakatnya yang terus memupuk sikap toleran dalam menghadapi kehidupan.
Ketiga, Bersahabat dengan tradisi bangsa yang beraneka ragam. Sebagai bangsa yang multikultural maka dipastikan bahwa akan terdapat kenekaragaman tradisi. Oleh karena penghargaan terhadap tradisi bangsa yang beranekaragam tentu menjadi bagian penting di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap suku bangsa memiliki bahasa dan budayanya sendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Maka dipastikan tidak mungkin akan terjadi penyamaan tradisi dalam ragam budaya yang beraneka ragam tersebut. Indonesia dihargai sebagai bangsa dengan pluralitas dan multkulturalitas yang rukun dan damai karena masyarakatnya menghargai budayanya secara proporsional. Kelebihan masyarakat Indonesia adalah kemampuan untuk berkolaborasi dalam berbagai penggolongan sosial dan budaya sehingga membentuk budaya yang khas keindonesiaan. Misalnya tradisi Islam lokal. Tradisi ini tidak terdapat di Arab Saudi atau negara-negara Islam lainnya.
Keempat, Masyarakat yang anti kekerasan. Di antara ciri khas masyarakat Indonesia yang menonjol adalah sikap hidupnya yang mengagungkan kerukunan, keharmonisan dan keselamatan. Filsafat hidup orang Indonesia ini mengakar kuat di dalam waktu yang sangat lama. Bukan pandangan hidup yang baru lahir pada era modern. Masyarakat Indonesia sangat membenci terhadap kekerasan sosial, baik disebabkan oleh politik, sosial dan agama. Masyarakat Indonesia sangat tidak menyukai kekerasan simbolik apalagi kekerasan aktual. Indonesia di luar negeri dikenal sebagai “laboratorium kerukunan”. Jika orang luar negerai mengagumi Indonesia dengan kerukunannya, apakah pantas masyarakat Indonesia sendiri justru melakukan tindakan yang memecah belah bangsa.
Oleh karena ada beberapa tindakan yang harus dilakukan, yaitu: pertama, Perlu dilakukan rekonstruksi muatan kurikulum. Yang diubah adalah isi kurukulum bukan struktur kurikulum. Struktur kurikulum sudah dibakukan oleh kemendikbud, sehingga tidak bisa diubah kecuali atas prakarsa pemerintah. Kedua, Yang direkonstruksi adalah isi kurikulumnya. Agar direkonstruksi sesuai dengan visi menggelorakan semangat moderasi beragama. Ketiga, Agar dirumuskan yang dipilih adalah salah satu dari dua pilihan separated curriculum atau integrated curriculum. Lakukan pemetaan mana mata pelajaran yang bisa diintegrasikan dengan nilai-nilai moderasi beragama jika yang dipilih adalah integrated curriculum. Lakukan perumusan mata pelajaran yang bermuatan moderasi beragama secara utuh dalam semua dimensi moderasi beragama. Kelima, Lakukan pembekalan terhadap para guru yang terkait dengan muatan moderasi beragama. Pastikan bahwa para guru benar-benar satu visi untuk mengembangkan pembelajaran Islam wasathiyah.
Pastikan sistem integrasinya seperti apa dan bagaimana melakukan pembelajarannya. Sistem pembelajaran berisi tentang kesatuan di dalam proses pembelajaran, seperti kesatuan isi, media, metode, evaluasi dan sebagainya. Keenam, Di dalam program pembelajaran, misalnya akan diterapkan student centered, discovery learning, atau innovation learning. Siswa diperkaya dengan contoh-contoh tentang isi pembelajaran, misalnya kerukunan umat beragama, atau akibat konflik beragama dan sebagaianya.
Di dalam kerangka untuk menggambarkan tujuan moderasi beragama, maka ada beberapa level, yaitu: Remembering: pada level ini, siswa diajar untuk mengingat tentang materi yang diajarkannya, misalnya tentang definisi moderasi beragama, ciri moderasi beragama, dan sebagainya. Understanding: pada level ini, siswa diajar untuk memahami berdasar atas kesadarannya tentang perlunya dan pentingnya moderasi beragama. Applying: pada level ini, siswa diajar mempraktekkan tentang pemahaman moderasi beragama, misalnya lewat permainan peran atau langsung dengan orang lain yang berbeda keyakinan agamanya, termasuk bagaimana sikap dan tindakannya. Analyzing: pada level ini, siswa diajari melakukan analisis atas berbagai peristiwa yang terkait dengan kerukunan umat, toleransi, konflik sosial dan sebagainya. Evaluating and creating: pada level ini, siswa diajari untuk melakukan penilaian atas suatu peristiwa dengan tujuan mereka mengembangkan sikap dan tindakan yang relevan dengan pesan-pesan moderasi agama.
Para guru memang harus menjadi garda depan untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan perilaku moderat dalam beragama. Pendidikan merupakan institusi yang sangat strategis untuk mempertahankan empat pilar consensus kebangsaan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari program moderasi beragama. Jadi, di tangan para guru sesungguhnya nasib bangsa Indonesia di masa depan dipertaruhkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

