(Sumber : Khazanah)

Mengukur Kebahagiaan: Masyarakat Indonesia Paling Bahagia

Opini

Kala saya berangkat ke SD Al Muslim, saya dikontak melalui pesan WhatsApp dari Radio Suara Surabaya untuk membahas tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard University, Baylor University dan Gallup tentang hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terbahagia. Mbak Widya mengontak saya untuk wawancara via online agar saya menjadi narasumber dalam acara “Wawasan” tentang tema “Kebahagiaan”. Sedangkan yang menjadi hostnya adalah Mbak Restu dari Radio Suara Surabaya. (Selasa, 07/01/2026).

   

Survey tersebut dilakukan oleh lembaga yang sangat kredibel. Siapa yang meragukan kualitas Harvard University dan Gallup serta Baylor University. Ketiganya merupakan lembaga yang sangat dipercaya dan dapat menjadi rujukan dalam banyak pendapat para dosen-dosennya. Kali ini yang menjadi pembicaraan adalah hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang paling bahagia mengalahkan beberapa negara lainnya, misalnya Jepang. 

  

Ada sebanyak 200.000 responden dari 23 negara, dan Indonesia mendapatkan score nyaris sempurna, 8,4 dari 10 score tertingginya. Di bawahnya adalah Meksiko dan Filipina. Sementara Jepang hanya mendapatkan score 5,93. Sebuah perbandingan yang sangat jauh. Artinya Indonesia menjadi negara dengan penduduknya sangat bahagia sementara Jepang negara dengan penduduknya yang tidak bahagia. 

  

Hal yang menjadi ukuran survey ini adalah: happiness and life satisfaction, mental and physical health, meaning and purpose, character and virtue, close social relations. Lima ukuran ini yang dipertanyakan kepada seluruh sampel dalam survey ini. Dari lima indicator ini, maka hasilnya sangat menarik dengan menempatkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat paling bahagia di dunia. Tentu saja kita bersyukur karena masih ada sisi positif dari masyarakat Indonesia yang bisa diunggulkan. 

   

Jika kita membaca tentang indicator kebahagiaan dari survey ini, maka rasanya memang tidak jauh-jauh dari apa yang dirasakan dan dialami oleh masyarakat Indonesia. Dari indicator pertemanan dekat dalam relasi social, maka masyarakat Indonesia memang ahlinya. Dalam tujuan hidup dan makna hidup masyarakat Indonesia memang memandang bahwa hidup bukan diukur dari banyaknya harta tetapi ketercukupan. Bisa makan setiap hari itu sudah cukup dan kemudian disyukurinya. Jadi mereka memaknai hidup bukan dari aspek kekayaan materi, tetapi kekayaan hati. 

  

Masyarakat Indonesia itu hidup dalam kedamaian. Kerukunan dan keharmonisan menjadi hal terpenting di dalam kehidupan. Kita mau bekerja, beribadah, sekolah, rekreasi semuanya di dalam keamanan dan kenyamanan. Bayangkan dengan hidup di Afghanistan atau di Palestina yang berada di dalam pergolakan. Indicator-indikator ini, kiranya dapat dijadikan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Jadi kebahagiaan bukan semata-mata harta dan kekayanaan. Ada rational choice yang berbeda antara masyarakat yang mengedepankan kesejahteraan materi dan kebahagiaan batin.

  

Tetapi memang ada survey-survey lain yang tidak menempatkan masyarakat Indonesia dalam posisi terbahagia. Survey lain menempatkan negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Islandia, Finlandia, Norwegia, Swiss  dan lainnya  berada di peringkat 10 terbaik. Sementara Indonesia berada di peringkat 81. Jadi artinya, bahwa antara satu survey dengan lainnya bisa berbeda dalam menilai tentang kebahagiaan. Melalui indicator kepedulian, kebebasan, kemurah-hatian, kejujuran, kesehatan, pendapatan dan tata kelola pemerintahan yang baik ternyata menempatkan negara-negara kaya dengan tingkat pendapatan masyarakat yang tinggi dinilai sebagai negara dengan kebahagiaan tertinggi.

  

Oleh karena itu ada Happiness Paradox. Yaitu hasil survey yang bersifat potensi atau persepsi dimaksud bukan kenyataan riil atau obyektif. Bahwa dengan menggunakan ukuran sebagaimana diungkapkan oleh ketiga surveyor tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang potensial bahagia. Masyarakat Indonesia itu memang memiliki keunikan, misalnya di saat ditanyakan tentang apakah bahagia padahal secara ekonomi kekurangan, maka mereka akan menjawab bahagia. Baginya selama masih bisa makan, maka mereka akan menyatakan bahagia. Dan bahkan mereka tetap bersyukur atas kenikmatan yang didapatkannya. Bahagia itu urusan hati atau urusan batin, bukan sekedar kekayaan berlimpah. Harta tidak menjamin kebahagiaan. 

  

Selain itu kebahagiaan juga memiliki variasi makna. Kebahagiaan itu bercorak individual. Oleh karena itu jika menggunakan ukuran yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda. Sesama survey tentang kebahagiaan ternyata menghasilkan penilaian yang berbeda. Ada yang menyatakan sebagai peringkat pertama dan ada yang menempatkannya sebagai peringkat ke 81. Jika ukuran kebahagiaan itu sebagaimana indicator yang pernah dibuat oleh BPS beberapa tahun yang lalu, yang menempatkan ukuran-ukuran fisikal dan material, maka tentu akan menempatkan masyarakat Indonesia pada level yang tidak sebagus penilaian Survey Harvad, Baylor dan Gallup. Akan tetapi dengan perubahan indicatornya, yang tidak hanya fisikal dan material, akan tetapi menempatkan makna hidup, kepuasan hidup dan perasaan kehidupan, maka nilai kebahagiaan ternyata lebih tinggi. Hal ini menandakan bahwa materi tidak menjadikan satu-satunya standart kebahagiaan.

  

Tetapi yang penting bahwa penilaian sebagai masyarakat paling bahagia justru menjadi tantangan pemerintah, bagaimana menjadikan potensi kebahagiaan tersebut menjadi realitas social. Hasil survey tersebut jangan justru menina-bobokkan pemerintah dan aparatusnya, sebab yang penting justru bagaimana meningkatkan kebahagaiaan dengan memperkuat kesejahteraan ekonomi dan meralisasikan kenyamanan dalam kehidupan serta ketenangan batin. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.