Strategi Ulama Perempuan di tengah Perlawanan Patriarki
Riset SosialArtikel berjudul “Success strategy of female Ulama leaders to advance Salafiyah Islamic boarding school amid patriarchal resistance” merupakan karya Ahmad Fauzan, Lina Meilinawati Rahayu, Teddi Muhtadin, dan Hazbini. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islamic and Muslim Societies tahun 2025. Penelitian tersebut memaparkan strategi kesuksesan pemimpinan ulama perempuan (Nyai) dalam memajukan pesantren salafiyah di tengah perlawanan patriarki. Beliau adalah Nyai Masriyah Amva sebagai pimpinan Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari strategi kesuksesan kepemimpinan perempuan di pesantren salafiyah, serta memberikan wawasan strategis bagi perempuan yang hidup di lingkungan patriarki untuk menjadi lebih percaya diri dalam melakukan sesuatu. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, kepemimpinan perempuan di Pondok Salafiyah. Kedua, strategi sosialisasi gender dan kolaborasi sosial. Ketiga, perlawanan nyai pesantren terhadap patriarki. Keempat, strategi sosialisasi gender dan kolaborasi sosial. Kelima, kemandirian ekonomi dan inovasi pesantren.
Kepemimpinan Perempuan di Pondok Salafiyah
Sub-bab ini menjadi inti pembahasan mengenai praktik kepemimpinan Nyai Masriyah Amva. Penulis menggambarkan bahwa kepemimpinan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan institusi, tetapi juga menyangkut legitimasi simbolik dan spiritual. Pada lingkungan patriarkal, perempuan sering kali diposisikan sebagai pelengkap, bukan aktor utama. Nyai Masriyah Amva menghadapi kondisi ini dengan membangun strategi kepemimpinan yang adaptif dan kontekstual. Ia tidak melakukan konfrontasi terbuka, tetapi memilih pendekatan gradual dan berbasis relasi sosial.
Artikel ini menyoroti bagaimana Nyai Masriyah Amva memanfaatkan keunggulan posisinya sebagai perempuan untuk membangun kedekatan emosional dengan santri. Berbeda dengan figur kiai yang cenderung berjarak, Nyai memiliki ruang lebih besar untuk hadir dalam kehidupan sehari-hari santri. Kedekatan ini menjadi modal sosial yang penting dalam membangun kepercayaan dan loyalitas. Penulis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan Nyai Masriyah Amva bersifat partisipatif, demokratis, dan transformasional. Pola ini secara tidak langsung menantang model kepemimpinan otoriter yang kerap dilekatkan pada pesantren tradisional.
Strategi Sosialisasi Gender dan Kolaborasi Sosial
Artikel ini juga menekankan pentingnya strategi kolaboratif dalam menghadapi resistensi patriarki. Nyai Masriyah Amva tidak bekerja sendirian, melainkan membangun jaringan dengan komunitas dan lembaga yang memiliki kesadaran gender, seperti Fahmina. Kolaborasi ini memberikan perlindungan intelektual sekaligus sosial bagi gerakan yang ia lakukan. Penulis menunjukkan bahwa resistensi terhadap patriarki tidak selalu harus bersifat frontal. Pada konteks pesantren, strategi halus dan berbasis jejaring justru lebih efektif.
Penulis juga menguraikan bagaimana Nyai Masriyah Amva memanfaatkan berbagai media untuk menyebarkan gagasan keadilan gender. Sosialisasi dilakukan secara langsung melalui pengajian, serta secara tidak langsung melalui media sosial seperti YouTube, Instagram, dan tulisan. Media sosial menjadi ruang alternatif untuk membangun narasi tandingan terhadap wacana patriarkal yang dominan. Melalui strategi ini, pesantren Kebon Jambu tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang produksi wacana keislaman yang progresif dan inklusif.
Perlawanan Nyai Pesantren terhadap Patriarki
Baca Juga : Strategi Dakwah Gulen Movement
Penulis menggunakan teori resistensi tersembunyi James Scott untuk menjelaskan bentuk perlawanan yang dilakukan Nyai Masriyah Amva. Resistensi tidak diwujudkan dalam bentuk konflik terbuka, melainkan melalui praktik keseharian, simbol budaya, dan produksi makna. Puisi, sastra, dan pertunjukan teater menjadi medium penting dalam menyampaikan kritik sosial dan kesadaran gender. Bentuk resistensi ini bersifat kultural dan edukatif, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat pesantren.
Penulis menunjukkan bahwa puisi dan seni pertunjukan bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi juga alat pembentukan kesadaran kolektif. Melalui karya-karyanya, Nyai Masriyah Amva menyuarakan pengalaman perempuan, ketidakadilan struktural, dan pentingnya kesetaraan. Strategi ini efektif karena tidak secara langsung menantang otoritas patriarkal, tetapi perlahan menggeser cara pandang santri dan masyarakat. Resistensi yang dilakukan bersifat konsisten dan berkelanjutan, sehingga menghasilkan perubahan kultural yang signifikan.
Kemandirian Ekonomi dan Inovasi Pesantren
Artikel ini juga menyoroti dimensi ekonomi sebagai bagian dari strategi kepemimpinan. Nyai Masriyah Amva mengembangkan berbagai unit usaha pesantren yang melibatkan santri sebagai pelaku utama. Kegiatan kewirausahaan ini tidak hanya bertujuan memperkuat ekonomi pesantren, tetapi juga membentuk santri yang mandiri dan adaptif terhadap tantangan zaman. Penulis menekankan bahwa strategi ini sekaligus mematahkan stereotip bahwa pesantren salafiyah bersifat pasif dan tertutup terhadap perubahan.
Kemandirian ekonomi juga memiliki implikasi gender yang penting. Dengan menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi penggerak ekonomi pesantren, Nyai Masriyah Amva menantang asumsi bahwa laki-laki adalah satu-satunya pencari nafkah. Praktik ini memperluas makna kepemimpinan perempuan dari ranah simbolik ke ranah struktural. Pesantren Kebon Jambu menjadi contoh bagaimana inovasi ekonomi dapat berjalan seiring dengan transformasi sosial dan kultural.
Kesimpulan
kepemimpinan ulama perempuan bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam. Sejarah mencatat banyak figur perempuan yang berperan penting dalam ranah publik dan keilmuan. Namun, artikel ini menunjukkan bahwa dalam konteks pesantren salafiyah kontemporer, kepemimpinan perempuan masih menghadapi tantangan besar. Keberhasilan Nyai Masriyah Amva menjadi bukti bahwa patriarki bukanlah struktur yang tak tergoyahkan. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting bagi kajian gender dan pesantren. Kekuatan utamanya terletak pada kedalaman data etnografis dan analisis yang kontekstual. Artikel ini berhasil menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan perempuan di pesantren tidak hanya mungkin, tetapi juga efektif. Meski demikian, artikel ini masih membuka ruang bagi penelitian lanjutan, khususnya dalam membandingkan pengalaman Nyai di pesantren lain. Dengan demikian, tulisan ini layak menjadi rujukan penting dalam studi kepemimpinan Islam, gender, dan transformasi sosial di pesantren.

