(Sumber : Nur Syam Centre)

Strategi Dakwah Gulen Movement

Riset Agama

Karya berjudul “Kontroversi Dakwah Fethullah Gulen; Golden Generation dan Infiltrasi ke dalam Lembaga Negara” adalah tulisan Akhmad Rizqon Khamami. Tulisan ini terbit di Jurnal Peradaban Islam “Tsaqafah” pada tahun 2019. Artikel tersebut  membahas strategi dakwah Gulen yang kontroversial karena menggunakan konsep pembentukan golden generation melalui aktivitas pendidikan. Selanjutnya, golden generation akan ditempatkan pada semua Lembaga Negara, seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman dan militer. Di dalam resume ini, karya tersebut akan diulas kembali dalam tiga sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, latar kemunculan konsep golden generation. Ketiga, Golden Generation dan infiltrasi.

  

Penduhuluan

  

Fethullah Gulen merupakan ulama Turki yang mendirikan Gerakan Gulen (Gulen Movement). Gerakan ini dianggap sebagai salah satu “musuh” bagi Erdogan, sehingga Erdogan menyebutnya sebagai Fethullah Gulen Terrorists Organization (FETO). Gulen dianggap sebagai orang dibalik kudeta militer tahun 2016. Khamami berasumsi bahwa kudeta Turki adalah bagian dari kontestasi perebutan dominasi antara dua kelompok Islam di Turki yakni Gulen Movement sebagai kelompok “Islam Kultural” dan Adelet Ve Kalkinma Partisi (AKP) pimpinan Recep Tayyip Erdogan sebagai kelompok “Islam Politik”. Kudeta yang gagal tersebut bermula dari konsep golden generation yang digagas Gulen karena “transit” dari kontroversi di balik dakwah Gulen dengan konsep tersebut.

  

Latar Kemunculan Konsep Golden Generation

  

Pasca Kerajaan Ottoman runtuh, Mustafa Kemal Ataturk menjadi presiden pertama Republik Turki. Attaturk mencoba menghilangkan seluruh simbol agama, dengan sekulerisme. Kebijakan Attaturk berimbas pada konflik politik, sektarianis dan krisis ekonomi. Berbagai permasalahan yang timbul membuat masyarakat resah. Dua dekade awal Republik Turki, masyarakat sibuk mencari identitas “kejayaan” Turki kembali. Kondisi tersebut diperparah dengan kemiskinan, anarki dan perseteruan antara kelompok kiri dan kanan yang saling berebut dominasi wacana intelektual. Hal ini dikarenakan pendidikan agama berjalan sporadis, filsafat materialis menyebar dan ancaman komunis. Keadaan yang serba tidak stabil ini adalah konteks di mana Gulen hidup.

  

Menurut Mehmet Enes Ergene dalam bukunya berjudul “Tradition Witnessing the Modern Age: An Analysis of the Gulen Movement”, Gulen merupakan pemegang teguh nilai-nilai agama karena berasal dari lingkungan yang taat beragama. Pola pikir dan ideologi Gulen yang mempengaruhi cara dakwahnya dibentuk oleh lingkungan dan pendidikan yang ia jalani. Pada usia 17 tahun, Gulen mulai berkenalan dengan pemikiran Nursi dan ia mempelajari buku karya Said Nursi berjudul Risale-i Nur. Gulen mengadopsi tiga misi Nursi sebagai dasar metode dakwahnya, yakni meningkatkan kesadaran dalam diri umat Islam, menangkal filsafat materialis, dan membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat muslim. Namun, terdapat perbedaan antara Gulen dan Nursi. Jika Nursi menitikberatkan pada penguatan iman individu, maka Gulen menekankan pada transformasi sosial.


Baca Juga : Distingsi Dakwah pada Ditjen Bimas Islam dan Ditjen Pesantren (Bagian Satu)

  

Adaptasi pemikiran Nursi diimplementasikan Gulen melalui tiga cara. Pertama, rekonsiliasi agama dan sains yang diaplikasikan di sekolah-sekolah Gulen. Kedua, pandangan terhadap politik, karena Gulen menentang partai politik Islam sehingga Gulen tidak mengubah gerakannya menjadi partai politik. Ketiga, penegasan untuk tidak mengislamkan lembaga negara dengan cara mendirikan negara Islam, tetapi cukup dengan “mengislamkan” para pengisi kursi lembaga.

  

Pada tahun 1966, Gulen diangakat sebagai direktur lembaga pengajaran Alquran di Kestanepazari. Lembaga ini didirikan dan dibiayai oleh negara serta di bawah kontrol Kementerian Agama. Namun, Gulen merasa tidak leluasa “mengkader” murid sehingga ia memutuskan membuka asrama sendiri.  Selain itu, Gulen juga mendorong jamaahnya untuk membuka asrama sebanyak-banyaknya untuk “digembleng” menjadi golden generation. Selain itu, Gulen juga mendirikan isik evler yakni tempat pelajar untuk tinggal dan mempelajari agama. Tempat ini berisi lima hingga tujuh pelajar yang nantinya menjadi “kader” bagi Gerakan Gulen.

  

Gerakan Gulen adalah gerakan dengan tatanan organisasi tidak formal dan tidak memiliki struktur hierarki yang ketat. Gerakan ini memiliki dua wilayah organisasi yakni publik dan privat. Wilayah publik berupa yayasan, asosiasi, media massa, dan lembaga pendidikan, sedangkan wilayah privat adalah persoalan spiritualitas. Gerakan Gulen berisi jaringan dan lembaga yang saling terhubung.

  

Golden Generation dan Infiltrasi

  

Prinsip utama ajaran Gulen adalah pencerahan spiritual dan intelektual. Aktivitas dakwah Gerakan Gulen di ranah pendidikan adalah mencetak golden generation. Golden generation adalah generasi yang dapat mengintegrasikan antara Islam dengan realitas adab modern. Melalui golden generation, Gulen ingin membentuk masyarakat yang “kokoh”. Konsep golden generation mengundung makna teoritis sebagai “jalan tengah antara modernitas dan tradisi”. Mereka yang dianggap sebagai golden generation diharapkan mampu menyerap realitas modern, moralitas, dan identitas sebagai Muslim dalam akal, perilaku, dan spiritualitas.

  

Salah satu metode dakwah Gulen adalah menempatkan golden generation ke dalam lembaga negara. Gulen mendorong kadernya untuk berkarir di lembaga. Artinya, melakukan islamisasi bagi pemegang lembaga. Namun, musuh Gulen mengkritik apa yang dilakukan Gulen sebagai bentuk infiltrasi. Ketika kader Gulen berhasil menguasai kejaksaaan dan kehakiman, Gulen bekerja sama dengan kelompok Erdogan yakni “Islam Politik” untuk melawan militer. Kerja sama ini berhasil hingga militer mengalami kekosongan pejabat. Kader Gulen menempati posisi penting di militer.

  

Pengaruh Gulen semakin menguat terutama pada lembaga Turki. Keberhasilan dakwah Gulen ini dianggap ancaman oleh banyak pihak, salah satunya Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki. Gulen dianggap mendirikan parallel state yakni menggerakkan negara dalam negara. Perseteruan antara Erdogan dan Gulen akhirnya muncul, karena Erdogan tidak ingin ada “matahari baru” di Turki. Kader Gulen di kepolisian dan kejaksaan menangkap orang-orang terdekat Erdogan atas tuduhan korupsi. Sedangkan Erdogan membalas dengan “mempreteli” kader Gulen di kepolisian dan lembaga lain.

  

Kesimpulan

  

Tulisan Khamami yang membahas mengenai strategi bahkan metode dakwah Gerakan Gulen di Turki sangatlah menarik. Namun, Khamami tidak membahas infiltrasi golden generation secara mendalam. Penelitian semacam ini diperlukan guna dijadikan referensi di Indonesia. Namun, hanya strategi dan metode yang dapat menjadi “maslahat” bagi umat Islam. Terutama, ketika zaman berubah seiring berjalannya waktu yang memaksa inovasi dakwah harus terus dikembangkan. Metode dakwah Gulen dengan menyiapkan kader-kader terbaiknya di dalam lembaga negara memang bentuk infiltrasi. Hal ini dilakukan guna mewujudkan misi dakwah Gulen yang ingin “mengislamkan lembaga”. Fakta ini membuat Gulen semakin “menancapkan” pengaruhnya di Turki semakin dalam.