Menjaga Marwah Islam Wasathiyah
OpiniAda banyak orang yang berada didalam penggolongan Islam wasathiyah yang belum sadar bahwa dewasa ini sedang terjadi pertarungan yang keras melalui media sosial. Pertarungan untuk memperebutkan otoritas keagamaan di Indonesia tersebut terjadi dalam decade terakhir. Inti perebutan otoritas tersebut terjadi di tengah persaingan demi persaingan yang terjadi di kalangan umat Islam dan masyarakat Indonesia, misalnya pertarungan ideologi Islamisme, liberalisme, komunisme dan sosialisme. Tak pelak bahwa di tengah perebutan kewenangan atas berlakunya ideologi tersebut menjadikan masyarakat Indonesia berada di dalam suasana tidak nyaman.
Serangan-serangan melalui media sosial yang dilakukan oleh kaum Salafi, misalnya tentang ketauhidan, antara pandangan Imam Al Maturidi dan Imam Asy’ari tentang Dzat, Sifat dan Af’al Allah SWT dengan kaum Salafi yang berpandangan berbeda bahwa Allah SWT bersemayam di Arasy, tentu memantik perdebatan teologis yang tidak mudah. Antara kelompok Islam ahlu sunnah wal jamaah dan kelompok Sunnah saling membela diri dan menyatakan bahwa pendapatnya yang benar dan yang lain salah. Pertarungan melalui media sosial ini membuat jagad kehidupan beragama di Indonesia riuh rendah.
Akhir-akhir ini banyak pendakwah Islam ahli Sunnah wal jamaah yang speak up. Jika di masa lalu pendakwah Salafi yang leading karena dukungan pendanaan, talenta IT yang baik dan dukungan SDM generasi muda militan, maka akhir-akhir ini terjadi proses untuk saling menguasai. Banyak da’i dari kalangan Ahli Sunnah wal Jamaah yang terlibat di dalam media sosial. Dan pertarungan tampak agak seimbang. Di antara mereka adalah Gus Muwafiq, Gus Baha’, Gus Miftah, Ust. Tile, Ust. Abdus Shomad, Ust Das’ad Latif, Kyai Marzuki Mustamar, Kyai Idrus Ramli, Buya Yahya dan lain-lain melawan Ust. Yazid Jawwas, Firanda Andirja, Felix Siaw, Ust. Qadir Basalamah dan sebagainya. Ada sebanyak 69 nama ustadz yang diidentifikasi sebagai ustadz yang mengembangkan faham salafi wahabi di Indonesia. (rumahmuslimin.com, 24/04/2021).
Sesungguhnya kita tetap berharap bahwa dua kelompok, baik Islam ahlu sunnah wal jamaah maupun Islam ahli sunnah tidak saling menyerang. Yang kita tahu di media sosial, bahwa yang dilakukan oleh you tuber Islam ahli sunnah memang menayangkan konten-konten yang menyerang dengan telak atas pemahaman dan pengamalan agama kaum Islam ahli sunnah wal jamaah. Tuduhan sebagai ahli bidh’ah, kelompok kafir, seluruh amalan agama dhollah dan sebagainya merupakan tindakan yang tentu bertentangan dengan upaya untuk memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah. Sebaliknya, kaum ahli sunnah wal jamaah tentu tidak tinggal diam kala diserang dan direndahkan. Makanya, seluruh tampilan peseteruan di media sosial menjadi semakin mengeras dan mengeras. Mujadalahpun tidak bisa dihindari. Bahkan juga terpaksa harus menggunakan diksi-diksi yang hakikatnya bisa bertentangan dengan makna Islam sebagai agama yang santun.
Islam sebenarnya merupakan agama atau dinun layyinun, dinun balighun, dinun karimun. Islam adalah agama yang lembut, Islam adalah agama yang lugas, Islam adalah yang mulya. Oleh karena itu di dalam merawat Islam wasathiyah tentu juga harus mempertahankan prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil alamin dengan prasyarat mengedepan penggunaan diksi-diksi yang mempresentasikan kelembutan, menjelaskan dengan kelugasan dan mengusung kemulyaan. Meskipun diserang dengan diksi-diksi yang membunuh karakter, yang membuat telinga menjadi merah, yang membuat darah mendidih dan pelecehaan keberagamaan, namun demikian harus tetap dijawab dan dijelaskan dengan kelembutan, ketegasan dan kemulyaan. Islam akan menjadi mulya di tangan orang yang mulya, Islam akan menarik dengan dakwah yang merangkul dan bukan memukul, dakwah yang meninggikan derajat kemanusiaan dan bukan merendahkan martabat kemanusiaan.
Islam bisa menjadi agama dunia, padahal Islam diturunkan di wilayah padang pasir yang tandus dan gersang tentu karena kemulyaan ajaran Islam dan disampaikan dengan cara-cara yang mulya. Marilah kita mencontoh dakwah yang dilakukan oleh waliyullah yang menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Para waliyullah tentu menggunakan cara-cara yang mulya dan memulyakan manusia. Melalui cara ini, maka Islam bisa menjadi agama mayoritas di Nusantara.
Untuk menggambarkan tentang bagaimana menjaga marwah Islam wasathiyah, maka secara konseptual bisa menggunakan konsepsi John Obert Voll tentang Continuity and Change atau teori keajegan dan perubahan atau kontinuitas dan perubahan. Ada empat proposisi yang bisa disimak dari konsep ini, yaitu proposisi adaptasi, bahwa untuk mempertahankan tradisi harus dilakukan dengan menggunakan berbagai penyesuaian. Ada konsep kontinuitas dan penyesuaian. Lalu, proposisi konservatif, bahwa untuk mempertahankan tradisi harus berupaya terus menerus dengan kekuatan sepenuhnya. Ada konsep kebertahanan dan tindakan atau perilaku konservatif. Kemudian proposisi fundamentalistik, yaitu untuk mempertahankan tradisi harus menggunakan teks-teks suci yang relevan dengan keberlangsungan tradisi dimaksud. Ada proposisi kebertahanan tradisi dan tindakan fundamentalistik. Selanjutnya, proposisi individualistik, bahwa di dalam mempertahankan tradisi maka individu secara personal harus terlibat secara aktif di dalamnya.
Melalui proposisi ini, maka digambarkan bahwa Islam wasathiyah akan terus ajeg yang bisa berubah sesuai dengan zamannya. Yang ajeg tentu adalah yang prinsip dan memiliki basis paham keagamaan yang tepat, dan yang berubah adalah yang asesori atau yang instrumental. Asesori dan instrumen bisa berubah tetapi yang inti tidak bisa berubah. Untuk itu maka diperlukan tindakan adaptif, konservatif, fundamental dan keterlibatan individual.
Untuk kepentingan menjaga marwah Islam wasathiyah, maka berbagai upaya harus dilakukan dengan menggunakan prinsip Islam yang fundamental, dipertahankan dengan berbagai penyesuaian dengan perubahan zaman, dilakukan secara aktif oleh seluruh kaum Islam wasathiyah dengan sikap dan tindakan yang bertahan dan berkembang secara terus menerus.
Wallahu a’lam bi al shawab.

