Merawat Pendidikan Islam: Institut Agama Islam Uluwiyah Mojosari
OpiniHari Senin, 21/04/2025, saya menghadiri acara Reuni Akbar IAI Uluwiyah Mojosari, Mojokerto, untuk memberikan presentasi tentang bagaimana kita harus merawat Pendidikan Islam di Era Digital. Hadir pada acara ini, Kyai Zainul Ibad, pendiri Pesantren dan IAI Uluwiyah, Rektor, Dr. Nining Qurratul Aini, para wakil rektor, dekan, para pejabat dan alumni IAIN Uluwiyah. Hadir tidak kurang dari 250 orang.
Mengapa kita harus merawat pendidikan Islam? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Alasan filosofis. Di antara legacy para ulama di masa lalu adalah ilmu keislaman. Yaitu ilmu pengetahuan yang diturunkan dari Alqur’an dan hadits yang menjadi dasar di dalam ajaran Islam. Ilmu keislaman menjadi salah satu di antara ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang tafsir para ulama tentang ajaran Islam. Alqur’an dan hadits Nabi yang shahih tentu tidak bisa direvisi atau diverifikasi atau difalsifikasi. Ajaran Al-Qur’an dan Hadits kemudian ditafsirkan menjadi ilmu keislaman yang terus berkembang sesuai dengan suasana zamannya.
Wahyu Tuhan tidak bisa diverifikasi dan difalsifikasi sebab kebenarannya mutlak yang tidak perlu dinyatakan salah sebab pasti benar sesuai dengan keyakinan umat beragama. Tetapi tafsir atas ajaran agama bisa direview, diverifikasi dan bahkan disalahkan. Makanya banyak tafsir tentang ajaran agama. Ada banyak tafsir Alqur’an, ada banyak tafsir atas hadits, ada banyak tafsir atas ayat ahkam dan sebagainya.
Alasan teologis. Islam merupakan agama yang memiliki doktrin jelas, baik dari aspek ketuhanan, ritual dan juga akhlak. Doktrin ketuhanan atau aspek normatif ajaran Islam diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya, kemudian kepada tabiin, lalu ke tabiit tabi’in dan terus kepada ulama hingga hari ini tiada terputus. Doktrin ritual dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW lalu diajarkan kepada para sahabat, para tabiin dan ke tabiit-tabiin lalu terus kepada ulama hingga dewasa ini. Doktrin akhlak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan diteruskan oleh para sahabat, ke tabiin, ke tabiit-tabiin dan ke para ulama hingga saat ini.
Alasan sosiologis. Ajaran islam hanya akan berkembang melalui proses penyebaran kepada masyarakat dalam berbagai stratum dan realias sosialnya. Ajaran Islam dapat memasuki semua kawasan dunia karena proses penyebaran Islam oleh para ulama atau da’i yang secara ikhlas melakukannya. Ajaran Islam menjadi pattern for behaviour yang memasuki nilai religious, nilai sosial bahkan nilai kebangsaan dan kenegaraan. Ajaran Islam merupakan proses penyebaran berantai dari satu faset ke faset lain dengan cara terstruktur dan massif. Penyebaran Islam dimulai dari keluarga, ke komunitas ke masyarakat melalui peran negara di dalamnya.
Ada dua kawasan ajaran Islam, yaitu normatif dan historis atau teks dan konteks atau doktrin dan penafsiran. Ilmu keislaman adalah kawasan tafsir atas ajaran agama. Tafsir tentang Tuhan menghasilkan teologi atau ilmu kalam, tafsir tentang ayat ahkam menghasilkan ilmu fiqih, ushul fiqih dan hukum Islam. Pemikiran tentang al-Qur’an menghasilkan tafsir Al-Qur’an, pemikiran tentang hadits menghasilkan ilmu hadits, pemikiran tentang tasawuf menghasilkan ilmu tasawuf dan ilmu tarekat. Pemikiran tentang bahasa Al-Qur’an menghasilkan ilmu qiraah, ilmu bahasa, ilmu sastra dan sebagainya.
Tafsir atas sirah di dalam Al-Qur’an menghasilkan ilmu sejarah Islam, sejarah kebudayaan Islam dan sejarah peradaban Islam. Tafsir atas penciptaan manusia, alam dan tata surya menghasilkan ilmu astronomi, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu fisika dan matematika. Tafsir atas ayat-ayat kauniyah menghasilkan ilmu kelautan, ilmu kedokteran, ilmu kebidanan, ilmu keperawatan dan lain-lain. Tafsir atas ayat nasehat-nasehat Tuhan dan Nabi Muhammad SAW dapat menghasilkan ilmu pendidikan Islam, Ilmu Dakwah, ilmu bimbingan konseling Islam dan sebagainya.
Ada dua cara di dalam penyebaran Islam dan ilmu keislaman. Melalui dakwah dan pendidikan Islam. Dakwah sebagai pembuka wilayah Islam dan pendidikan Islam sebagai pengisian terstruktur untuk memahami Islam. Keduanya saling berkaitan. Tidak ada pendidikan Islam tanpa dakwah Islam. Keduanya saling membutuhkan. Jika dakwah sudah berhasil mengislamkan, maka pendidikan Islam yang mengisi kelanjutannya. Proses Islamisasi harus dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Dakwah dan pendidikan Islam merupakan sarana untuk program islamisasi. Maka da’i, dan guru atau dosen atau ulama menjadi penting sebagai pilar untuk proses islamisasi dimaksud. Para ulama yang berperan di dalam proses islamisasi di seluruh dunia, termasuk di Nusantara.
Baca Juga : Politik Islam Moderat di Indonesia
Islam Indonesia menjadi seperti ini karena jasa para ulama, khususnya para walisanga, yang di masa lalu berjuang untuk menyebarkan Islam dengan konsep Islam rahmatan lil alamin. Seandainya tidak ada perjuangan para ulama di masa lalu untuk mengislamkan Nusantara, sekarang dikenal sebagai Indonesia, maka kita tidak akan menyaksikan masyarakat Indonesia yang 87,5%. Negara dengan mayoritas umat Islam.
Para waliyullah, di Jawa dikenal sebagai Walisanga, merupakan penyebar Islam pada generasi pertama sampai ke keempat. Dan diterukan oleh para ulama generasi berikutnya hingga sekarang. Para kyai, bindara, ajengan merupakan orang yang sangat penting dalam menjaga proses islamisasi berkelanjutan. Mereka merupakan orang yang memiliki komitmen tinggi di dalam proses pelestarian Islam. Tanpa kehadiran mereka semuanya, kita tidak tahu seperti apa kita sekarang. Jika ada orang yang meragukan peran Islamisasi Islam oleh para waliyullah di Nusantara yang berlanjut hingga sekarang, maka orang itu sungguh a-historis. Orang yang mengingkari sejarah.
Tidak dapat disangkal bahwa ilmu keislaman menjadi berkembang merupakan legacy para ulama khususnya para kyai. Mereka adalah orang yang tercerahkan yang menghadiahkan hidupnya untuk melestarikan Islam, ilmu keislaman dan pendidikan Islam. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk merawat ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Mereka menjadi pemuka-pemuka agama yang tidak diragukan komitmen dan pengabdiannya. Lembaga pendidikan Islam tersebut adalah pesantren, yang kemudian mengadaptasi pendidikan agama dan umum sesuai dengan perubahan zaman. Dari pesantren dengan metode pendidikan sorogan, wetonan dan bandongan ke metode pendidikan madrasi dan metode pendidikan sekolah. Kurikulum dan proses belajar mengajar juga mengadaptasi sistem-sistem baru yang relevan.
Guru atau dosen tidak hanya mentransfer ilmu keislaman tetapi yang lebih penting adalah mentransformasikan ilmu keislaman. Transformasi ilmu keislaman itu didasarkan atas kesadaran bagaimana peserta didik memahami dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan Islam yang diyakini kebenarannya, yaitu Islam rahmatan lil alamin. Guru dan dosen tidak hanya memindahkan pengetahuan agama Islam saja tetapi bagaimana ilmu agama Islam dijadikan sebagai fondasi di dalam mengamalkan agama Islam dan kemudian dengan kesadaran utuhnya lalu disebarkan kepada orang lain. Guru dan dosen adalah waratsatul ulama dan ulama adalah waratsatul anbiya’.
Masyarakat Islam juga memiliki tugas untuk merawat pendidikan Islam. Ada guru atau dosen tanpa ada masyarakat yang memiliki komitmen untuk merawat dan mengembangkan pendidikan Islam juga tidak ada artinya. Keduanya harus sinergi untuk menghasilkan energi. Sinergi adalah jamaah dan energi adalah kekuatan. Jadi dengan adanya jamaah maka akan menghasilkan kekuatan untuk merawat dan mengembangkan pendidikan Islam. Energi atau kekuatan tidak ada artinya tanpa sinergi atau jamaah. Sinergi antara guru, dosen dan komunitas atau masyarakat akan menghasilkan ketangguhan ilmu keislaman dalam pendidikan Islam.
Pendidikan Islam berkelanjutan akan maju jika terdapat sinergi yang berkesetaraan antara guru, dosen, komunitas dan masyarakat. Tanpa kehadiran sinergi yang kuat jangan berharap pendidikan Islam akan menjadi berjaya. Alumni institusi pendidikan hakikatnya adalah humasnya institusi pendidikan dimaksud. Tugasnya adalah menyebarkan kualitas lembaga pendidikan pada masyarakat luas.
Alumni adalah public relation sebuah institusi pendidikan. Alumni harus menginformasikan kepada publik tentang kekuatan lembaga pendidikan dan keutamaannya. Alumni adalah garda depan yang akan menolong terhadap masa depan institusi pendidikan. Tanpa kehadirannya diragukan adanya partisipasi masyarakat. Al jamaatu waratsatul ulama. Al jamaatu waratsatul ustadz. Civitas akademika diharapkan menjadi agen utama di dalam proses penyebaran ajaran Islam melalui institusi pendidikan Islam. Jika ada yang menjadi da’i, maka sebarkanlah informasi tentang kualitas institusi pendidikan Islam. Jika menjadi tokoh masyarakat, maka sebarkan informasi tentang kekuatan institusi pendidikan Islam.
Dewasa ini di tengah era digital, maka penyebaran informasi institusi pendidikan dapat melalui platform digital. Internet masih menjadi medium untuk memahami dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Civitas akademika diharapkan menjadi agen utama di dalam proses penyebaran ajaran Islam melalui institusi pendidikan Islam. Berdasarkan data, Kelas atas lebih dominan menggunakan internet untuk kepentingan pendidikan, entertainment dan inspirasi, dengan prosentase sebesar 31,6%, 19,7% dan 18,4%. Kelas menengah atas untuk kepentingan pendidikan dan entertainment yang nyaris seimbang dan inspirasi dengan prosentasi sebesar 16,5%, 25,7% dan 17,8 %. Kelas menengah untuk entertainment, pendidikan dan inspirasi dengan prosentase sebesar 30,7%, 22,7% dan 14,4%. Kelas menengah bawah untuk entertainment, pendidikan dan Inspirasi dengan prosentase sebesar 31,6%, 24,9%dan 31,6%. Kelas bawah untuk entertainment, pendidikan dan inspirasi dengan prosentasi sebesar 36,0%, pendidikan 25,9%dan inspirasi 15,1%. (nursyamcentre.com 17/04/2025).
Oleh karena itu, posisi apapun yang kita miliki, marilah kita sadari bahwa ada tugas keagamaan untuk merawat pendidikan Islam. di manapun kita mengabdikan diri, maka kita adalah agen bagi pengembangan ilmu keislaman. Kita harus bekerja sama untuk visi menjaga dan merawat keunggulan pendidikan Islam. Pahami makna filsafat togetherness: coming together, sharing together, working together and succeding together.
Wallahu a’lam bi al shawab.

