Merenungkan Friendly Leadership
OpiniArtikel ini berbasis pada buku: “Friendly Leadership: Kepemimpinan Sebagai Roh Manajemen”, buku yang diterbitkan oleh LKIS 2018 dan sekarang dalam cetakan baru. Ada beberapa catatan penting di dalam memimpin yang kiranya bisa dijadikan sebagai renungan, bukan pedoman. Sebagai renungan saja. Saya berkeyakinan bahwa setiap individu memiliki gaya dan cara dalam mengekspresikan kepemimpinannya. Semuanya bisa memiliki “keberhasilan” yang signifikan di dalam membawa roda dinamika kepemimpinan yang berjalan efektif, efisien dan berdaya guna. Ada seni memimpin.
Di masa lalu, seorang pemimpin itu mestilah mereka yang berusia sangat dewasa, untuk tindak menyebut tua, usianya di antara 50-80 tahun. Di Jepang, meskipun negeri ini sudah sangat maju, tetapi pemimpin perusahaan-perusahaan top justru mereka yang bisa dinyatakan usia matang atau usia yang sangat dewasa. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Teikoku Databank, bahwa usia CEO Perusahan Jepang rata-rata 60,3 tahun, pada Desember 2021. Survey ini merilis atas data presiden perusahaan tidak termasuk individu, organisasi nirlaba, perubahan kepentingan publik dari data 1,47 juta perusahaan di seluruh Jepang. (Tribunnews.com 14/03/2022).
Sebaliknya di Korea Selatan juga terjadi perubahan. Di antara yang menonjol terkait dengan usia pemimpin perusahaan. Ada kecenderungan untuk melakukan reformasi dalam dunia kepemimpinan perusahaan. Di masa lalu, seseorang dapat memimpin perusahaan dalam usia 60-an. Beberapa perusahaan telah melakukan perubahan tentang usia pemimpin. Bahkan sekarang ada kecenderungan untuk memilih CEO perusahaan yang usianya berkisar pada 40-an tahun. (Asia News Week, 11/04/2024).
Memang telah terjadi pergeseran dalam konteks kepemimpinan terutama pada generasi milenial. Kepemimpinan di era revolusi industry 4.0 memungkinkan terjadinya perubahan paradigma dari kepemimpinan konvensional ke kepemimpinan baru, yaitu kepemimpinan yang harus mengadaptasi perubahan social yang sangat cepat. Di dalam menghadapi era baru, maka dibutuhkan kepemimpinan baru juga dengan indikasi antara lain adalah pemimpin yang handal dalam kapasitas digital, memiliki kemampuan untuk membangun relasi yang baik dalam kerja sama dan harmoni dalam pekerjaan serta berkemampuan untuk melakukan kolaborasi dalam kerangka meningkatkan motivasai dan kepuasan bekerja. (kompasiana, 01/03/2024).
Namun demikian, di dalam perubahan yang cepat dalam dunia kerja, suatu hal yang tidak bisa dilepaskan adalah bagaimana memimpin dengan kemanusiaan. Memimpin dengan hati nurani dan tidak hanya mengandalkan rasio semata. Di tengah berpikir untung dan rugi, maka aspek humanitas tetaplah menjadi ukuran terakhir dalam membangun kolaborasi di dalam bekerja. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu direnungkan.
Pertama, kita memimpin sekumpulan orang dengan berbagai dinamika pikiran, hati dan perasaan. Betapa dinamikanya dunia kepemimpinan karena yang dipimpin adalah manusia dengan seabrek keinginan, talent dan peluang yang besar tetapi sangat terbatas. Di sini dipastikan akan terjadi conflict of interest yang harus dirajut untuk menjadi potensi yang menguntungkan. Di dalam dunia birokrasi yang di dalamnya terdapat kepemimpinan dipastikan terjadi benturan-benturan baik yang bersifat individual maupun komunal. Dan semuanya harus diselesaikan dengan prinsip “kemanusiaan.” Prinsip ini akan menjadi basis bagi solusi atas berbagai masalah yang timbul di dalam dunia birokrasi. Pikirkan dengan jernih, rasakan dengan sepenuh hati dan pandanglah mitra kerja kita sebagai subyek yang memerlukan sentuhan pikiran, perasaan dan hati. Di dalam buku itu saya jelaskan bahwa marah pun harus dengan hati, bukan dengan secara emosional. Jangan pernah marah di depan umum atas “kesalahan” staf, tetapi marahilah secara individual dan setelah itu mintalah maaf kepadanya. Menyeimbangkan marah dan cinta.
Kedua, tugas pemimpin adalah menyeimbangkan antara yang cepat dan yang lambat. Yang cepat direm agar tidak terlalu cepat dan yang lambat harus didorong untuk berjalan lebih cepat. Secara pasti keduanya akan dapat bertemu meskipun mengalami banyak hambatan. Pemimpin tugasnya adalah menggerakkan TEAM atau together every one achieved more. Di sinilah makna togetherness dalam dunia kepemimpinan. Ibarat seorang dirigen, maka pemimpin dengan stick di tangannya dapat menggerakkan semua pemain dalam orchestra dengan alat dan suara alat musik yang berbeda tetapi dapat menghasilkan irama music yang menyentuh pikiran, rasa dan hati.
Ketiga, pemimpin itu harus memiliki telinga yang lebar dan bukan telinga yang tipis. Dengan telinga lebar, maka pemimpin bisa mendengarkan suara yang paling lirih sekalipun. Dengarkan suara dari mana saja tentang apa yang kita lakukan. Renungkan setiap suara yang datang itu dengan pikiran, hati dan perasaan sehingga akan memunculkan ainun bashirah yang dipandu oleh bisikan-bisikan hati nurani. Saya terkadang ingin merumuskan sebuah gambaran secara prosentase bahwa kapasitas akal itu 30% saja, kapasitas hati itu sebesar 70%. Angka 30% digunakan untuk mengukur dengan indikator-indikator yang terkait dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) dan selebihnya hati yang akan memberikan pertimbangan dari aspek kemanusiaannya.
Di dalam dunia birokrasi sekarang dikenal manajemen kinerja atau performance management. Di dalam manajemen kinerja, maka fungsi seorang pemimpin adalah untuk menjadi mitra bagi stafnya di dalam mencapai tujuan institusi. Salah satu kritik dari May Bank Indonesia atas Manajemen Kinerja adalah dibiarkannya staf untuk mencapai target dengan dirinya sendiri tanpa support dan perkawanan di dalamnya.
Ke depan akan semakin banyak aktivis yang akan berada di dalam tampuk kepemimpinan dalam levelnya masing-masing, maka prinsip-prinsip ini dirasakan dapat dijadikan “renungan” untuk menjadi pemimpin. Semoga akan lahir generasi profesoonal yang semakin berkualitas di dalam dunia manajemen dan kepemimpinan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

