Islam dan Konektivitas Masyarakat Cina-Indonesia
InformasiEva Putriya Hasanah
Diakui atau tidak persepsi buruk terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia masih kerap terjadi. Salah satu penyebabnya adalah sentimen anti-Cina yang tumbuh sejak dahulu. Banyak peristiwa-peristiwa sejarah baik di masa penjajahan maupun kemerdekaan yang menjadi pemicu adanya sentimen tersebut. Diantaranya peristiwa Gerakan 30 S PKI yang terjadi pasca kemerdekaan Indonesia, pada 30 September 1965, menjadi sebuah catatan buruk bagi sejarah hubungan Indonesia-Cina. Akibat peristiwa ini telah menimbulkan kekerasan anti-komunis yang berubah menjadi gerakan anti Cina yang kuat dan berujung pada pemutusan hubungan diplomatik pada 30 Oktober 1967.
Puncak penolakan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia pun terjadi ketika pemerintahan Orde Baru. Hal ini ditandai dengan peraturan yang tidak memperbolehkan segala kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat-istiadat Cina yang dituangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No.14 tahun 1967. Terdapat pula aturan bahwa masyarakat keturunan Cina harus mengganti nama nya menjadi nama Indonesia yang termuat dalam Surat Edaran No.06/Preskab/6/67. Belum lagi dengan persoalan komunis, Uighur, dan isu-isu lainnya yang menambah deretan pemicu pandangan negatif pada orang-orang Tionghoa di Indonesia.
Realita ini sewajarnya menjadi tantangan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah kebhinnekaan. Sebab, masyarakat masih tidak bisa memebedakan antara Cina sebagai negara dan orang-orang keturunan Cina yang berkewarganegaraan Indonesia yang bahkan hidup di negara ini sejak lahir (WNI).
Uniknya di tengah tantangan semacam ini, masyarakat Indonesia dan Cina memiliki konektivitas yang sangat panjang dan erat. Sejarah yang sangat panjang membuat hubungan yang terjalin antara keduanya tidak bisa dilihat hanya dari sisi Government to Government saja, melainkan juga harus di lihat dari sisi people to people. Dengan adanya populasi Tionghoa di tengah masyarakat membuat keterkaitan kedua negara ini semakin tidak bisa dipisahkan. Apalagi etnis Tionghoa sendiri telah menjadi bagian panjang dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Konektivitas masyarakat Indonesia-Cina salah satunya berkaitan dengan sejarah Islam di Indonesia sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di negara ini. Ada pendapat mengatakan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia tidak terlepas dari kedatangan orang-orang Cina saat itu. Fakta sejarah mengatakan bahwa sebelum orang-orang pribumi mengenal agama Islam yaitu pada abad ke-14 atau sekitar abad ke-15 orang-orang Cina datang ke Indonesia dan lebih dulu telah memeluk Islam. Hal tersebut dikatakan berdasarkan catatan-catatan atau berita dari bangsa Portugis, ditambah dengan catatan sekretaris Laksamana Ceng Ho sewaktu melakukan perjalanan ke nusantara, tepatnya di Pulau Jawa. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan sejarahwan, Agus Sunyoto, yang mengatakan bahwa ketika orang-orang muslim Cina datang ke Indonesia, orang-orang pribumi masih memiliki kepercayaan menyembah batu dan pohon-pohon yang jauh dari ajaran agama Islam. Ekspedisi Cheng Ho terutama di Jawa dan Sumatera menandakan bahwa orang-orang Cina ketika itu memiliki andil dalam memperkenalkan agama Islam di Nusantara. Cheng Ho yang merupakan duta resmi Dinasti Mang ini disebut memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam ketika itu yangmana Cheng Ho beragama Islam.
Meski Cheng Ho telah melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali, dikatakan bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia secara pesat tidak terjadi pada masa tersebut, melainkan pada masa masuknya Sunan Ampel ke Nusantara. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa sebelum Sunan Ampel masuk ke Indonesia telah terjadi proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Bahkan terkait asal kedatangan Sunan Ampel pun ada pendapat yang mengatakan bahwa Sunan Ampel sendiri merupakan keturunan Cina karena kedatangannya dari Campa. Kerajaan Campa memang mempunyai sejarah panjang dengan Cina karena pernah berada dalam kekuasaan hingga daerah pengaruh Cina, sehingga Raden Rahmat mungkin berdarah Cina (dari nasab ibunya) adalah cucu perwakilan Cina di Campa dan keturunan Sayyid Ejal Syamsuddin Umar atau Say Dian Chih Gubernur Provinsi Yunnan. Dengan demikian, Raden Rahmat bisa saja adalah keturunan Cina meskipun hanya sekian persen. Ada juga Sunan Bonang yang merupakan anak dari Ampel dan seorang wanita Cina, Sunan Gunungjati dan Sunan Kalijaga. Mereka dikatakan adalah keturunan dari etnis Cina. Belum lagi pendapat tentang penyebaran Islam di kerajaan Mojopahit yang dilakukan dengan cara pernikahan antara orang Tiong Hoa dengan anggota kerajaan. Meski hal tersebut sampai saat ini masih menjadi sebuah hal pro dan kontra.
Dalam buku "Tionghoa Muslim/Muslim Tionghoa" yang ditulis oleh Rezza Maulana mengungkapkan bahwa jejak-jejak Islam Tionghoa di Indonesia dan Islam Nusantara tak bisa dinegasikan. Jejak-jejak kebudayaan Cina dan Tionghoa muslim juga cukup banyak bertebaran di Indonesia. Mulai dari bahasa, arsitektur, konsepsi spiritual dan keduniaan, nama-nama jalan, aneka aksesori pakaian hingga nama makanan. Bahkan berdasarkan penelitian Sumanto AlQurtubi mengatakan bahwa eksistensi Tionghoa muslim pada awal perkembangan Islam di Jawa tidak hanya ditunjukkan dengan adanya tradisi lisan, sumber-sumber Cina, teks lokal Jawa, maupun kesaksian-kesaksian pengelana asing saja, melainkan juga terdapat bukti peninggalan purbakala Islam di Jawa. Seperti di Masjid kuno mantingan Jepara terdapat adanya ukiran padas, menara masjid di Pecinan Banten, arsitektur keratin Cirebon beserta taman sunyaragi dan berbagai peninggalan kuno lainnya.
Hingga sekarang, hubungan ini masih nampak jelas dengan keberadaan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai salah satu organisasi Islam bagi masyarakat Tionghoa Islam di Indonesia. Organisasi ini tidak hanya menjalankan fungsinya untuk berdakwah dikalangan etnis tinghoa melainkan juga telah banyak melakukan berbagai kegiatan sosial. PITI sendiri memiliki berbagai cabang wilayah di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah di Jawa Timur dan memiliki 22 cabang DPD (Dewan Pimpinan Daerah) yang tersebar di berbagai daerah Jawa Timur, diantaranya yaitu Surabaya, Gresik, Tuban, Sidoarjo, Bojonegoro, Nganjuk, Lamongan, Bangkalan, Kediri, Malang Raya dan lain sebagiannya.
Dengan adanya fakta-fakta diatas, maka hubungan antara Indonesia-Cina tidak hanya berlangsung dari proses antara pemerintah dengan pemerintah saja, melainkan ada proses kedekatan sejarah Islam dan budaya di tengah masyarakat Indonesia.

