Media Sosial, Habaib dan Gugatan Status Sosial Religious
OpiniSungguh media social bisa menjadi “medan” pertempuran bukan sekedar area untuk berdiskusi dari berbagai pandangan yang saling berbeda, tetapi juga rivalitas dan bahkan konflik. Media social memang sangat digdaya sebagai area untuk “bertanding” wacana yang dianggapnya menarik. Melalui media sosial, maka hal-hal yang sebenarnya remeh temeh menjadi serius, dan hal yang sebenarnya tidak penting menjadi diperlukan. Semuanya karena diframing sedemikian kuat sehingga perbedaan pendapat menjadi kontestasi atau perseteruan.
Kita sudah dikuasai oleh media social. Nyaris tidak ada hari tanpa media social. Semua usia, semua level dan semua segmen masyarakat telah menjadikan media sosial sebagai area untuk mendapatkan berbagai informasi dan hiburan yang dikemas dalam infotainment, yang semuanya menggambarkan tentang dunia yang dinamis dan terus berubah. Media social sudah memasuki seluruh kehidupan manusia, baik di rumah, di ruang kerja, di perjalanan dan ruang belajar.
Tentu saja ada tema-tema yang menarik yang kemudian menjadi trending. Di antara informasi yang trending topik di media sosial adalah tentang nasab Ba’alawi. Di WAG, di FB, di Instragram dan sebagainya ramai sekali pembicaraan tentang klan Ba’alawi. Ramainya pembicaraan tentang Ba’alawi dipicu oleh informasi yang diangkat oleh Imaduddin Al Bantani, seorang yang dinyatakan sebagai ahli dalam studi nasab dengan penguasaan teks-teks berbahasa Arab yang memadai. Hasil kajiannya tersebut menyatakan secara singkat tentang keterputusan genealogi kaum Ba’alawi dengan Rasulullah SAW.
Berdasarkan atas kajian yang dilakukannya, maka ada ketidakmungkinan nasab Ba’alawi itu memiliki ketersambungan keturunan dengan Rasulullah SAW. Berdasarkan atas kitab-kitab nasab di antara abad ke 3 dan seterusnya, maka ada nama yang dihipotesakan tidak mendapatkan pengabsahan dari kitab-kitab pada abad-abad tersebut. Di dalam studi nasab, maka penting untuk memahami naskah-naskah sezaman yang membicarakan seorang tokoh yang dijadikan sebagai kunci nasab dimaksud.
Berdasarkan atas kajian melalui DNA sebagai mata rantai yang paling sahih juga dinyatakan bahwa klan Ba’alawi tidak memiliki kesamaan DNA dengan keturunan Rasulullah SAW. Berdasarkan kajian dari BRIN, maka keturunan Rasulullah it uber DNA JI dan keturunan Ba’alawi itu berhaplogroup G. berdasarkan atas kajian DNA keturunan Rasulullah yang masih hidup, yaitu Raja Abdullah II dari UEA, maka dapat dirunut berhaplogroup J1. Hal ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW jika ditarik ke atas tentu berhaplogroup J1. Orang-orang yang yang menjadi keturunan Arab, khususnya Bani Hasyim adalah berhaplogroup J. jika bukan berhaplogroup tersebut, maka tentu bukannya berasal dari leluhur Arab. Dinyatakan bahwa orang yang berhaplogroup G adalah keturunan Yahudi Arkenazi Kaukasus, yaitu orang-orang Yahudi yang berasal dari Kazakhstan dan kemudian nbermigrasi ke Timur tengah. Mereka adalah orang-orang yang berada di sekitar wilayah Turki dan Eropa Timur. Bahkan juga dihipotesakan bukan keturunan Nabi Ibrahim yang menurunkan Nabi Ismail lalu menurunkan pada generasi berikutnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Ada banyak nama yang terlibat di dalam “pertarungan” memperebutkan kebenaran ini, yaitu kelompok Kiai Imad dan kelompok Ba’alawi. Masing-masing memiliki penganut fanatis. Masing-masing merasa kelompoknya yang benar. Di dalam tradisi sosiologis kemudian menghasilkan kelompok in group dan out group. Minna wa minkum. Nama-nama besar yang kemudian terusik dengan hasil kajian Imad adalah Habib Rizieq Syihah (HRS) yang dilabel oleh pengagumnya sebagai Imam Besar. Habib Luthfi bin Yahya yang selama ini dikenal sebagai mursyid tarekat dan aktivis NU, Habib Bahar bin Smith yang sering mengumbar diri sebagai keturunan Rasulullah, Habib Muhdlor, Rabithah Alawiyah dan sebagainya. Mereka memiliki nama besar di dalam perbincangan mengenai Islam di Indonesia.
Sementara itu, di kalangan kiai Imad juga tidak kalah mentereng. Ada banyak nama yang mendukung tesis Imad. Misalnya, Kiai Ghozali Tangsel, Kiai Ubaidillah, KH. Nur Efendi Rasyid dan lain-lain. Mereka meyakini bahwa tesis Kiai Imad memenuhi standart akademis sebagai hasil kajian berdasarkan atas kajian mendalam dari kitab-kitab yang masyhur dalam ilmu nasab.
Memang tetap ada pro-kontra, terutama di kalangan kiai. Ada yang membenarkan dan ada yang menyatakan belum memenuhi standart kebenaran di dalam ilmu nasab. Tetapi yang jelas bahwa perdebatan tentang nasab Ba’alawi yang dibatalkan oleh Kiai Imad telah menjadi perbincangan Panjang dan menyita pemikiran di kalangan kiai-kiai NU, baik kiai NU structural maupun kultural. Perdebatan tentang nasab ini bahkan sudah memasuki fase yang “mengkhawatirkan” akan menimbulkan disharmoni social.
Saya kira tidak hanya perdebatan, tetapi masuk lebih jauh yaitu saling membully, mengancam dan bisa berakhir dengan disharmoni social, khususnya di kalangan kaum Nahdhiyin. Bagaimana dapat dipahami bahwa yang terkait dengan habaib adalah warga NU. Dipastikan ada yang menjadi pengagum dan pecinta habaib dan ada yang mulai mempertanyakan habaib, bahkan menolak ketersambungan habaib kepada Rasulullah SAW.
Bagi kaum habaib, dengan pemahaman ketidaktersambungan sanad kepada Rasulullah tentu mengancam eksistensi otoritas keagamaan yang selama ini disandangnya. Habib Rizieq tergerogoti posisinya sebagai Imam Besar umat Islam, Habib Luthfi juga dipertanyakan otoritasnya di dalam Ke-NU-an maupun ketarekatannya, Bahar bin Smith juga dianggap bukan siapa-siapa, dan sebagainya sehingga dapat melunturkan otoritas keagamaannya yang selama ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupannya.
Oleh karena itu, disharmoni social yang bisa diakibatkan oleh pertarungan di media social tersebut, haruslah dimanej secara utuh. Bagi saya yang awam, maka ada atau tidak ada ketersambungan nasab kepada Rasulullah, bagi seorang Habib Luthfi tentu tidak akan mengurangi pandangan para pengagum dan pecintanya tentang kedalaman ilmu, kewiraian dan otoritas keagamaannya.
Prinsip penting di dalam Islam, maka keturunan, genealogi dan ketersambungan darah dengan para pendahulu bukanlah penentu status seseorang. Bagi saya, ketersambungan sanad keilmuan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW justru menjadi kunci bagi kesuksesan hidup di dunia dan akherat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

