Museum Musik Dunia di Indonesia
OpiniSesekali waktu memang kita harus rekreasi. Kita harus bekerja dan harus berusaha secara optimal, akan tetapi sekali waktu juga perlu untuk merelaksasi tubuh dan pikiran agar bisa kembali fresh pasca bekerja keras. Untuk rekreasi memang bisa dilakukan bersama pasangan hidup, akan tetapi rasanya yang lebih nikmat jika bisa bersama dengan keluarga besar. Untuk rekreasi tersebut, Saya, Uti, Shiefta, Nasrul, Rin, Vika, Arfa, Echa, Kifa, Sahif, Atan, Sheril bersama-sama pergi ke Batu. Sementara itu Shiefti menyusul karena masih harus bekerja.
Senin siang, 26/06/2023, setelah saya menguji skripsi pada Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan menguji pada ujian verifikasi disertasi pada Program Studi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel, maka saya dan keluarga besar pergi ke Batu Malang. Hal ini dilakukan untuk menikmati suasana Kota Batu sebagai pusat wisata di Jawa Timur. Kota Batu dikenal sebagai area wisata yang menjanjikan. Ada banyak rekreasi di tempat ini. Memang Kota Batu didesain sebagai Kota Wisata. Arena Wisata Jatim Park I, 2 dan 3 serta Batu Night Spectaculer (BNS) dan lain-lainnya. Itulah sebabnya di Kota Batu banyak sekali hotel dan home stay yang diperuntukkan bagi wisatawan domestik dan luar negeri.
Jika Sabtu malam atau hari libur, maka BNS sangat ramai. Berjubel. Senin malam, seluruh keluarga dari Jakarta dan Surabaya pergi untuk menikmati sajian lampion di BNS kecuali saya, Uti, Rin dan Sheril. Bagi orang seusia saya, jika malam seperti di Kota Batu, rasanya sudah berat. Saya lupa tidak membawa jaket untuk mengusir hawa dingin yang menusuk. Dingin sekali.
Barulah pada pagi harinya kami pergi bersama ke Jatim Park 3, yaitu wahana pembelajaran bagi para siswa Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah, dan juga siswa sekolah menengah dan menengah atas. Namun demikian juga banyak keluarga yang datang di tempat ini. Saya juga memutuskan tidak ikut masuk ke arena dalam di wahana dinosaurus, wahana air dan lannya. Saya dan istri cukup menunggu di Cofée Bean. Biasa capucino dengan gula aren. Kadar glukosanya relative lebih rendah dibandingkan gula pasir.
Cukup lama saya menunggu anak dan cucu yang berada di dalam arena Jatim Park 3. Saya akhirnya mendengarkan music electone yang dimainkan oleh dua lelaki, yang satu menyanyi dan satu lainnya memencet electone. Lama saya tidak menikmati sajian nyanyian seperti ini. Semenjak Covid-19, maka nyaris saya tidak lagi mendengarkan musik-musik seperti ini kecuali sekali waktu mendengarkannya dari TV atau Youtube.
Akhirnya saya masuk ke Museum Musik Dunia. Sebuah museum yang sangat baik. Seingat saya, pada tahun 2006 saya pernah ke Hall of Fame Madame Tussauds di Washington DC.. Hanya sayangnya, saya tidak sempat masuk ke dalam. Hanya di luar saja karena keterbatasan waktu. Hall of Fame Madame Tussauds sudah di bangan di banyak kota di dunia, termasuk di Singapura. Tetapi yang jelas, jika orang ingin melihat legenda-legenda Musisi dunia, maka datanglah ke tempat ini. Banyak musisi dunia terpampang patung lilinnya. Sampai akhirnya saya bisa menikmati Museum Musik di Jatim Park 3 di Batu Malang.
Harga tiketnya terjangkau. Dan begitu saya masuk, maka disuguhi dengan patung lilin Ebiet G. Ade, duduk sambil memainkan gitar. Kita bisa berfoto dengannya. Sayapun mejeng foto dengan Ebiet G. Ade. Di lantai I, kita bisa melihat peralatan music dari negara-negara besar, misalnya Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah, India, Eropa dan lain-lain. Berbagai peralatan musik ada di sini. Dari gitar, drum, sampai alat music tradisional. Sayangnya saya tidak bertanya apa saja nama alat-alat music tersebut.
Saya lalu naik ke lantai 2. Di sini banyak patung lilin penyanyi-penyanyi terkenal. Sayapun memanfaatkan moment tersebut untuk berfoto dengan legenda penyanyi Indonesia maupun dunia internasional. Saya dapat berfoto dengan beberapa nama penyanyi dari luar negeri, seperti Madonna, Lady Gaga, Celine Dion, Katy Perry, Marilyn Monroe, Michael Jackson, Be Gees, Rolling Stone, Bon Jovi, Whitney Houston, dan Justin Bieber. Saya juga sempat berfoto dengan penyanyi legendaris di Indonesia, seperti Koes Plus, Gombloh, Chrisye, God Bless, dan Rhoma Irama. Selain itu juga ada Waljinah, penyanyi keroncong, dan Didi Kempot penyanyi lagu Sewu Kutho. Jika ingin karaoke bisa hadir di Lantai 3. Di sini terdapat peralatan music yang unik-unik. Satu di antaranya Polyphon ‘Mikado’ Disc Music Box Jerman 1857.
Patung-patung penyanyi legendaris tentu sangat menarik. Artinya bisa menjadi “penawar kerinduan” atas musisi kondang yang meramaikan jagad permusikan di dunia. Tidak semua di antara kita yang bisa mengunjungi Hall of Fame di Amerika Serikat atau di Eropa. Kita belum tentu dalam seumur hidup bisa berkunjung ke Amerika Serikat. Belum tentu juga bisa hadir di Eropa. Jika kita punya uang mungkin lebih berpikir untuk mengunjungi Saudi Arabia, karena di sana untuk menjalankan ritual ibadah, umrah atau haji.
Saya termasuk orang yang bersyukur sebab bisa menghadiri acara-acara kenegaraan di beberapa negara. Di dalam buku saya “Perjalanan Etnografis Lima Benua” telah saya tuliskan dengan pendekatan light description tentang negara-negara yang telah saya kunjungi di Australia, Asia (Malaysia, Brunei Darus Salam, Singapura dan Thailand) , Afrika (Mesir, Maroko dan UEA), Eropa (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis), Amerika Serikat dan Canada. Lalu di dalam buku saya “Perjalanan Etnografis Spiritual” juga saya ceritakan kunjungan saya ke beberapa negara, seperti China, Vatikan, Arab Saudi, dan Italia.
Saya merasakan dikasihsayangi oleh Allah SWT dengan bisa menikmati berbagai tradisi dan kebiasaan orang-orang di negeri lain dan bisa menuliskannya. Catatan ethnografis ini terasa penting di kala ada kerinduan untuk menikmati kembali nuansa negara, tempat ritual, tempat wisata dan berbagai tradisi yang terdapat di negara lain. Rasa syukur tentu menjadi salah satu bagian dari kehidupan yang tidak bisa dilupakan karena nikmat Allah yang sangat besar.
Tanpa keinginan untuk promosi tentang Jatim Park 3 di Kota Batu, rasanya perlu untuk merekreasikan fisik dan merelaksasi jiwa dengan melihat Museum Musik Dunia, yang merupakan produk kreatifitas manusia dalam mengekspresikan dunia keseniannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

