Membingkai Ulang Oksidentalisme
Riset AgamaArtikel berjudul “Reframing Occidentalism: Purpose, Construction of Scientific Paradigm, and Reconstruction of Post Orientalism Knowledge” merupakan karya Badarussyamsi. Tulisan ini terbit di Journal of Islamic Thought and Civilization (JITC) tahun 2023. Tujuan penelitian tersebut adalah menegaskan kembali pembingkaian oksidentalisme sebagai disiplin ilmu yang memiliki nilai lebih konstruktif ketimbang menempatkannya semata sebagai bentuk euforia kritik dan perlawanan terhadap orientalisme dan barat. Kemunduran oksidentalisme sebagai disiplin ilmu disebabkan oleh framing yang menyempitkan intelektualnya dan memungkinkannya berfungsi hanya sebagai kritik terhadap orientalisme. Studi sebelumnya, menyimpulkan bahwa oksidentalisme hanya antitesis dari orientalisme, meskipun oksidentalisme menyusun paradigma ilmiahnya hampir tidak pernah dibahas. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, oksidentalisme. Ketiga, konstruksi paradigma keilmuan oksidentalisme.
Pendahuluan
Secara akademis, oksidentalisme sering diartikan sebagai kegiatan membaca, menganalisis, bahkan mengkritisi “Barat” dalam aspek tertentu sebagai konsep diskursif, produk imajinasi dan tradisi. Oksidentalisme dihadirkan sebagai kritik atas orientalisme guna mereduksi pandangan yang meremehkan budaya Timur. Di sisi lain, oksidentalisme sering dikaitkan dengan perasaan nasionalisme, menunjukkan kepedulian terhadap Timur, bangsa Arab, yang tidak cocok untuk budaya Barat. Selain itu, terdapat beberapa akademisi yang mengatakan bahwa konsep sains Barat tidak berlaku guna mempelajari masyrakat Timur. Kemudian, diperparah dengan pemaparan orientalisme mengenai konsep dan citra Islam sebagai agama, dan umat Islam sebagai masyarakat peradaban.
Ambiguitas tersebut memicu perdebatan sengit tentang Islam dan muslim yang diprakarsai oleh orientalisme dan dibantah oleh post-orientalisme sebagai salah satu faktor pemicu lahirnya oksidentalisme. Menurut Hasan Hanafi dalam tulisannya berjudul “From Orientalism to Occidentalism,” bahwa orientalisme sebagai bangunan pengetahuan Barat yang memiliki banyak kelemahan dan permasalahan, sehingga oksidentalisme dibangun guna menghilangkan dominasi orientalisme. Ia melihat orientalisme sebagai paket ideologi hegemonic supremasi Eropa dan warisan budaya kolonial Barat seperti imperialisme, nazisme dan fasisme.
Oksidentalisme
Oksidentalisme merupakan kebalikan dari orientalisme yang mengandaikan persamaan kategori kunci dalam budaya, adat dan institusi sosial. Orientalisme dan oksidentalisme merupakan wacana hegemoni yang keduanya dapat menjadi objek kajian kriminologis kontemporer. Oksidentalisme memanifestasikan dirinya sebagai kecenderungan umum masyarakat dan budaya atau wacana strategi perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat atau kekuatan ideologis yang menantang kekuatan Barat lainnya. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa oksidentalisme masih sulit disebut sebagai epistemologi atau disiplin ilmu sebagaimana orientalisme.
Selain itu, oksidentalisme didefinisikan sebagai citra Barat yang ditulis oleh orang-orang non-Barat. Jika diasosiasikan dengan orientalisme, maka oksidentalisme bukan mendistorsi orientalisme, melainkan menunjukkan konfisinya. Venn dalam tulisannya berjudul “Cultural Theory, Biopolitics, and the Question of Power” mendefinisikan oksidentalsime sebagai ruang artikulasi nalar logosentris, rasionalitas dan imperialisme teknokratis dengan ontologi egosentris. Oksidentalisme adalah institusi imajinatif yang ditemukan bahasa kiasan, metafora, simbol dan tanda yang membangun kerangka penjelasan Barat. Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa oksidentalisme adalah pengetahuan yang menyajikan gambaran mengenai Barat. Secara sederhana, jika orientalisme adalah gambaran Timur oleh Barat, maka oksidentalisme adalah gambaran Barat oleh siapa pun, baik ilmuwan Barat maupun Timur.
Menurut James G. Carrier dalam tulisannya berjudul “Occidentalism: Images of the West: Images of the West” menyebut oksidentalisme sebagai ‘silent partner,’ sehingga ditempatkan sebagai disiplin ilmu. Oksidentalisme berfungsi sebagai konsep untuk mengungkap setiap asumsi yang disajikan oleh setiap akademisi mengenai budaya Barat. Oleh sebab itu, oksidentalisme dapat dijadikan sebagai mitra penting pada ilmuwan Barat dalam menemukan pengetahuan yang berimbang dalam menyusun pengetahuan atau teori sosial. Pemaparan pasca-orientalisme dapat dilihat sebagai fenomena oksidentalisme ketika mengkritisi persepsi para akademisi barat terdahulu.
Baca Juga : DPR Swedia: Mengabdi Tanpa Tunjangan Fantastis
Edward W Said mengkritik pandangan orientalisme terhadap Islam. Karyanya yang berjudul “Orientalism” dapat disebut sebagai manifesto intelektual dari oksidentalisme, meskipun saat itu istilah ‘oksidentalisme’ belum ada. Salah satu ilmuwan Islam bernama Said, memaparkan kajian yang berimbang atas penolakan terhadap konstruk pengetahuan orientalisme mengenai Islam. Hal ini adalah pemicu embrio penting bagi lahirnya oksidentalisme. Generasi Pembaharu Islam seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Hasan al-Bana, Sayyid Qutb, dan beberapa cendekiawan muslim kontemporer seperti Hassan Hanafi, Mohammed Arkoun, dan Seyyed Hossein Nasr, semuanya adalah kritikus Barat.
Konstruksi Paradigma Keilmuan Oksidentalisme
Oksidentalisme adalah disiplin penting guna menyajikan pengetahuan dan informasi mengenai Barat dan seluruh struktur pengetahuan dan peradabannya. Istilah oksidentalisme juga tidak selalu berkonotasi negatif, melainkan memiliki misi pengetahuan, saling mengenal dan kesearaan. Ia tidak bermaksud membalikkan orientalisme, namun mengarahkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan alamiah kolektivitas manusia. Selain itu, oksidentalisme tidak menekankan gambaran stereotip masyarakat non-Barat yakni hierarki perbedaan etnis dan budaya yang dipandang sebagai keistimewaan Barat. Namun, perbedaan ini terkait erat dengan kekuatan global.
Beberapa akademisi memandang oksidentalisme dengan cara lebih positif dan melihatnya sebagai sarana guna menjembatani Timur dan Barat bersama dalam bingkai dialog. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai oksidentalisme. Pertama, kritik nilai peradaban. Salah satu ilmuwan bernama Qutb mengkritik budaya Barat yang dianggap ‘bodoh’ dan tidak beradab. Ia membaca, mengamati dan memikirkannya yang kemudian menjadi hal penting dalam mengilhami para ilmuwan oksidentalisme. Baginya, masyarakat Barat mengalami kekosongan spiritual meskipun tergolong maju pada zamannya.
Kedua, struktur ontologis, epistemologis dan aksiologis. Ontologi orientalisme yang sangat rasis dan penggunaan dikotomi Barat dan Timur sebagai basis epistemologinya menjadi inspirasi aksiologis bagi terciptanya relasi Barat dan Timur yakni relasi yang terjajah dan penjajah, yang beradab dan bar-bar, atau yang maju dan terbelakang.
Ketiga, menawarkan disiplin belajar yang seimbang. Harus diakui bahwa karya-karya Orientalisme tentang Islam dan Timur telah menimbulkan konflik peradaban. Dikotomi antara Islam dan Barat pada sisi tertentu juga merupakan dampak dari Orientalisme yang telah lama tertanam dalam pola pikir masyarakat Barat. Ilmuwan Barat kontemporer pun masih sering menyebut Islam sebagai ancaman bahaya yang menggantikan Uni Soviet. Ilmuwan seperti Hassan Hanafi menawarkan cara pandang baru bagi kedua belah pihak dengan menawarkan disiplin kajian Oksidentalisme. Visi kajian Oksidentalisme egaliter yang bertujuan untuk menciptakan saling pengertian sebenarnya mengakhiri otoritarian pengetahuan Orientalisme.
Keempat, menawarkan jalan baru untuk masyarakat Barat. Salah satu tokoh yang mengilhami ini adalah Nasr. Pada kaitannya antara orientalisme dan oksidentalisme adalah konsistensi spiritualitas yang disebut “membimbing Barat” agar kembali ke fitrah manusia dan mengingatkan bahaya ilmu pengetahuan yang anti nilai-nilai Ketuhanan. Oksidentalisme menawarkan jalan baru bagi kebuntuan atas kekosongan spiritual manusia modern.
Kesimpulan
Secara garis besar penelitian ini menunjukkan bahwa oksidentalisme memiliki konstruk ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang secara dialektis mengungkapkan kelemahan-kelemahan Orientalisme. Namun temuan yang lebih eksploratif dan penting adalah bahwa konstruksi epistemologis Oksidentalisme terbagi menjadi empat aliran dialektika besar. Pertama, kritik terhadap nilai-nilai peradaban, kedua, mengungkap struktur ontologis, epistemologis, dan aksiologis, ketiga, menawarkan disiplin ilmu yang berimbang, dan keempat penemuan jalan baru bagi peradaban Barat.

