Musibah Bukan Azab, Jadikan Sebagai Pelajaran
OpiniHarga sebuah musibah memang bisa di luar akal manusia. Tetapi musibah memang menjadi bagian dari kehidupan alam yang terkadang di luar prediksi manusia untuk mengelolanya. Meskipun ada manajemen resiko tetapi musibah dalam bentuk bencana alam atau entropi: tanah longsor, banjir, dan gempa bumi memang terkadang di luar control manusia. Di dalam dalil atau logika rasional dan spiritual dinyatakan: “Manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan” atau “Man proposes God disposes”.
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang geologi dan geofisika, misalnya bisa memprediksi tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi di perut bumi, misalnya lempengan-lempengan bumi yang bergeser atau bahkan tabrakan. Melalui ilmu pengetahuan, diketahui bahwa akan terjadi erupsi pada gunung berapi. Dan indikator-indikator kerusakan alam juga bisa diprediksi akibat-akibatnya. Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka banyak yang bisa diprediksi akan terjadinya sesuatu.
Beberapa saat yang lalu diramalkan bahwa akan terjadi gempa di pantai selatan Jawa, termasuk menyasar ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berdasarkan prediksi ilmu pengetahuan, maka daerah ring of fire, dan lempengan megathrust (wilayah rawan gempa besar) berpeluang untuk terjadi tabrakan antar lempengan dalam perut bumi. Dan diperkirakan akhir tahun 2020 yang lalu. (kompas.com 26/09/20, diunduh 21/01/2021). Ternyata gempa tidak terjadi, dan kemudian pada awal tahun 2021 justru terjadi gempa bumi di Jawa Barat, tepatnya di Sukabumi, lalu di Sulawesi Barat tepatnya di Majene dan Mamuju. Gempa dengan kekuatan 5,9 SR pada jam 14.35 WIT, 14/01/2021 tersebut menyebabkan sebanyak 45 orang meninggal dengan rincian di Mamuju sebanyak 36 orang dan Majene sebanyak 9 orang. (tribunnews.com diunduh 18/01/21).
Sebagai negara dengan iklim tropis dan bergunung api yang banyak disebut sebagai ring of fire, maka Indonesia memang rawan terjadi gempa bumi, tanah longsor dan bahkan tsunami. Jika titik gempa bumi itu dekat dengan pantai maka peluang tsunami juga sangat besar, misalnya dalam gempa di sekitar Aceh yang kemudian menimbulkan tsnami yang sangat hebat, dan melutuhlantakkan kota Banda Aceh sekian tahun yang lalu. Begitu dahsyatnya tsunami tersebut, maka sebuah kapal bisa berlabuh di tengah pemukiman penduduk. Dan hanya Masjid Baitus Rahman dan Masjid Rahmatullah saja yang selamat dan berdiri kokoh dihantam gelombang laut akibat tsunami. (detikcom, 21/21/08/14, diunduh 20/01/21).
Indonesia sedang dihantam badai kehidupan yang pahit. Wabah Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda surut, bahkan yang terpapar Covid-19 semakin banyak. Era kehidupan baru atau new normal yang ditetapkan pemerintah tidak mampu menghalau wabah Covid-19. Ada anggapan bahwa masyarakat mengabaikan protokol kesehatan, misalnya tidak mencuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun diterjen, tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak dan akibatnya penularan virus juga makin intens terjadi.
Selain itu juga berbagai bencana yang terus mendera masyarakat. Mulai dari gempa bumi di Sulawesi Barat, gempa bumi di Jawa Barat dan kemudian banjir di Kalimantan Selatan. Semua ini seakan memberikan indikasi bahwa negeri ini memang sedang berada di dalam ujian. Masyarakatnya sedang menerima sentilan atau ujian tetapi bukanlah kutukan Tuhan. Jika kutukan tentu saja mayoritas masyarakatnya melakukan tindakan pengingkaran kepada Tuhan sebagai penguasa dunia dan akhirat dan seluruh kosmos di maya pada, padahal masyarakat Indonesia semakin religious dan kehidupan masyarakat juga dalam kenyataan rukun, harmonis dan berkesateraan. Padahal dalam sejarah agama-agama, nyaris seluruh negeri yang ditimpa azab Tuhan adalah negeri yang masyarakatnya melakukan tindakan-tindakan pengingkaran terhadap Tuhan dan melakukan perlawanan terhadap hukum Tuhan. Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, Kaum Nabi Nuh, dan sebagainya dikenal di dalam Kitab-Kitab Suci sebagai kaum yang melawan Tuhan. Cerita tentang Kaum Sodom di Madain Shaleh adalah contoh tentang perilaku yang menentang terhadap hukum-hukum Tuhan.
Masyarakat Indonesia saya kira tidak termasuk kaum yang melawan Tuhan. Di sini agama-agama berjalan dengan baik—khususnya agama Islam juga dilakukan secara konsekuen. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Alvara (2019), bahwa masyarakat Indonesia semakin religious. Yang melakukan shalat sebanyak 99,6 persen, sementara itu yang tidak shalat sebanyak 0,4%. Selain itu juga dinyatakan bahwa yang melakukan shalat secara rutin ialah 4 dari 10 orang Indonesia.
Ada bencana yang disebabkan oleh faktor alami dan ada yang bercorak factor manusiawi. Yang bercorak alami misalnya adalah gempa bumi yang disebabkan oleh perubahan factor alam, misalnya pergerakan lempengan bebatuan di perut bumi, erupsi gunung berapi dan juga kejadian yang tidak diakibatkan oleh factor manusia. Bencana yang seperti ini, merupakan kepastian Tuhan yang bercorak azali. Takdir Tuhan yang tidak bisa diubah oleh manusia karena memang harus terjadi. Manusia hanya memperkirakan misalnya komet yang berpotensi tabrakan, atau lempengan batu di perut bumi yang berpeluang juga bergeser.
Jika bencana yang terkait dengan peristiwa alam yang memang harus terjadi tentu berada di luar kemampuan manusia untuk menolaknya, tetapi bencana alam yang terkait dengan relasi manusia dengan alam, maka tentunya bisa dijadikan sebagai pengingat bahwa perilaku manusia yang melakukan tindakan merusak alam, maka tentu bisa dimanej agar ke depan masyarakat tidak melakukannya lagi. Perusakan ekosistem pantai dengan membuang sampah sembarangan atau limbah industry tentu akan merusak biota laut yang dipastikan memiliki fungsinya masing-masing. Demikian pula perusakan terhadap ekosistem hutan juga menyebabkan bencana, misalnya tanah longsor, banjir dan curah hujan yang semakin berkurang. Eksploitasi hutan untuk kepentingan industry tanpa memperhatikan terhadap energi terbarukan atau energi nonterbarukan akan bisa menyebabkan masalah-masalah lingkungan.
Oleh karena itu, berbagai bencana alam yang terjadi dewasa ini sesungguhnya bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat di dalam wilayah tertentu untuk melakukan evaluasi diri atau introspeksi tentang bagaimana relasi masyarakat terhadap alam. Al-Qur’an, 14 abad yang lalu sudah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut sesungguhnya diakibatkan oleh perilaku manusia. (QS. Ar Rum, 41). Dan peringatan ini tentu berlaku selamanya, selama masih ada kehidupan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

