(Sumber : muslimatnu.or.id)

Muslimat NU, Upacara Liminalitas, dan Pengerahan Massa

Opini

Muslimat NU menyelenggarakan acara Kongres yang ke 18. Kongres ini terasa luar biasa karena dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan juga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta petinggi NU baik Ketua PBNU, Gus Yahya maupun Rais Am PBNU, Kyai Miftahul Achyar. Acara ini juga terkait dengan  acara demi acara yang diselenggarakan dalam kerangka peringatan 102 tahun berdirinya NU. Secara organisatoris NU juga melakukan berbagai kegiatan untuk memperingati hari kelahirannya. Ada banyak ragam kegiatan yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran NU tersebut. 

  

NU merupakan organisasi yang memiliki jumlah pengikut terbesar di Indonesia. NU telah malang melintang dalam gelegak gerakan social semenjak awal kehadirannya di Indonesia. NU memang menjadi organisasi yang memiliki jejaring massa terbanyak di Indonesia. Akibatnya banyak hal yang dilakukan NU lebih mengedepankan atas upacara-upacara yang melibatkan jumlah peserta yang sangat massif. Kita masih ingat betapa massivitas jamaah NU yang hadir di Sidoarjo dalam peringatan 100 tahun NU atau satu abad NU. Betapa riuh rendahnya upacara dimaksud. 

  

Kali ini NU kembali untuk merayakan hari lahirnya, yang ke 102  dengan puncak penyelenggaraannya dilakukan di Istora Senayan Jakarta, 05/02/2025.  Untuk memperingati Harlah ini,   NU juga menyelenggarakan upacara-upacara liminalitas dengan penuh keharubiruan jamaah. Upacara tersebut dihadiri oleh Presiden Prabowo dan sejumlah Menteri dalam Kabinet Merah Putih. Dalam rangkaian memperingati harlah tersebut, Muslimat NU menyelenggarakan Kongres  dengan upacara liminal di Jawa Timur tepatnya di Gedung Jatim Expo Surabaya. Ditempatkan di Jawa Timur tentu karena pertimbangan Ketua Muslimatnya adalah Khofifah Indar Parawansa, Gubernur terpilih Jawa Timur untuk periode kedua, dan Jawa Timur memang basis wilayah yang paling subur dalam gerakan NU khususnya Muslimat. Makanya banyak kegiatan Muslimat yang dihelat di Jawa Timur, Surabaya, dengan kegiatan-kegiatan yang hingar bingar. Sungguh NU memang identik dengan gerakan pengerahan massa, yang tiada tandingannya. 

  

Muslimat NU menyelenggarakan acara tiga hari berturut-turut. Dimulai 10/02/2025 sampai 12/02/2025. Acara digelar di Jatim Expo yang tempatnya sangat strategis untuk pertemuan skala besar. Selama ini memang Muslimat NU banyak melakukan forum pertemuan di Gedung ini. Acara ini dihadiri oleh seluruh perwakilan Muslimat Jawa Timur dan Indonesia. Jika kita melewati jalan Margorejo,  maka di sana sudah terdapat pengumuman di jalan utama tersebut agar menghindari kemacetan di Jatim Expo sebab ada kegiatan Muslimat. Dan memang benar terdapat puluhan bus dan kendaraan roda empat lainnya yang parkir di sekitar Gedung Jatim Expo bahkan meluber sampai  di jalan Margorejo. Bukan main banyak pesertanya. Ciri khas pakaian hijau yang menjadi lambang NU mantap digunakan oleh para jamaah Muslimat. 

  

NU memang pernah menjadi partai politik, dan memenangkan Pemilu 1955 dengan menjadi empat besar partai politik yang terbanyak suaranya. Ada PNI, Masyumi, NU dan PKI. Empat partai politik dengan ideologi berbeda. Di dalam perhelatan politik, maka salah satu instrumennya adalah pengerahan massa, baik dengan menggunakan kekuatan yang hegemonic maupun coersive. Saya kira untuk pengerahan massa NU tidak menggunakan cara yang coersive sebab warga NU memiliki kesadaran yang sedemikian tinggi untuk terlibat di dalam acara-acara meeting yang penting. Kampanye di masa lalu memang menggunakan kekuatan massa untuk unjuk kekuatan akan partai yang dipilihnya. 

  

Nuansa inilah yang hingga hari ini masih menyelimuti NU sebagai organisasi social keagamaan. Basis massa yang bisa dihimpun menjadi kekuatan secara organisatoris untuk menyatakan bahwa NU itu ada. NU ada atau eksis karena basis massa yang bisa dihimpunnya. Makanya, untuk memperingati Harlah NU dan Kongres Muslimat NU, maka juga harus terdapat pengumpulan massa dalam jumlah besar dan bahkan dilakukan secara berturut-turut. Inilah cara NU untuk mengekspresikan kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat. NU berupaya untuk menunjukkan kepada siapa saja, termasuk pemerintah, bahwa NU itu besar dan harus menjadi pertimbangan di dalam pengambilan keputusan karena jumlah massanya yang gigantik.

   

Sayangnya hanya gigantic dan belum powerfull. Yang diharapkan sesungguhnya adalah gigantic and powerfull. Dalam perolehan cabinet di Kabinet Merah Putih, maka NU secara organisatoris juga terpinggirkan. Personal NU memang ada, tetapi bukan, sekali lagi bukan,  mewakili NU. Padahal adakah yang meragukan kehadiran NU dalam perhelatan politik dengan mendukung salah satu paslon, yang akhirnya terpilih. Alasan pentingnya bagi penguasa, bahwa cabinet berasal dari parpol atau non parpol, dan NU tertinggal dalam strategi seperti ini. NU tidak bisa menempatkan orang-orang pentingnya di dalam partai politik, sehingga bisa tertinggal di landasan pada saat penentuan siapa mendapatkan posisi apa  di dalam cabinet Merah Putih.

  

Di dalam peringatan ke 102 tahun, NU memang juga harus mengubah strategi perjuangannya dengan pengembangan SDM berbasis pendidikan yang unggul dan kompetitif. Organisasi lain sudah mengembangkan institusi-institusi pendidikan, khususnya pendidikan tinggi di manca negara, pembelian masjid-masjid di manca negara, pendirian-pendirian rumah singgah di manca negara, bahkan juga memberikan beasiswa-beasiswa berbasis organisasi untuk pengembangan SDM, maka seyogyanya NU juga harus bertindak demikian. Better late than never. 

  

Orientasi perjuangan NU tentu tidak ada yang salah. Semuanya benar. Mengumpulkan massa dalam jumlah gigantic juga perlu, akan tetapi mengembangkan SDM untuk jangka panjang juga sangat penting dan mendasar. Very urgent not only necessary. Hanya dengan pengembangan SDM yang unggul saja NU akan bisa berkiprah di masa yang akan datang. Dan hal ini tidak bisa dilakukan tanpa strategi perjuangan dan perencanaan yang baik dan bermanfaat. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.