NU, Generasi Muda dan Media Sosial
OpiniNU merupakan organisasi yang didirikan oleh para ulama Islam khususnya yang tergabung dalam pemahaman dan praksis Islam ala sunnah wal jamaah. Secara teologis mengikuti cara memahami ketuhanan dalam perspektif Al Maturidi dan Al Asy’ari, kemudian secara fikih mengikuti Madzab Empat (Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hanafi dan Imam Hambali) dan secara tasawuf mengikuti Imam Junaid al Baghdadi, dan Imam Ghazali. NU didirikan oleh para muassisnya sebanyak 60 orang dengan tokoh utamanya adalah Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari.
NU tentu saja bergerak dinamis, baik sebagai jam’iyah diniyah wa ijtimaiyah, dan kemudian juga sebagai Jam’iyah politikiyah atau siyasiyah. NU pernah malang melintang dalam dunia perpolitikan nasional semenjak tahun 1955 dan terus berlangsung sampai tahun 1984, kala kembali ke jam’iyah social keagamaan, yang disebut sebagai Kembali ke Khittah 1926. Dunia politik yang sangat profan dengan tarikan kepentingan yang sangat keras, menjadi salah satu factor untuk kembali sebagai jam’iyah social keagamaan.
Tetapi hasrat politik warga NU untuk berpolitik juga sangat besar apalagi didasari oleh keinginan berpolitik keumatan. Politik sebagai akses untuk membangun kebijakan public yang relevan dengan tuntutan dan kepentingan masyarakat. Sekali lagi ulama-ulama NU mendirikan partai yang dinamakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai ini lahir dari ulama-ulama NU. Visinya adalah politik untuk bangsa. Melalui pendirian PKB, maka banyak terjadi mobilitas social politik dari aktivis NU, sampai akhirnya bisa mengantarkan Gus Dur sebagai presiden ke empat di negeri ini.
Dinamika dan bahkan konflik juga mengiringi pergerakan PKB. Pasca Gus Dur, maka PKB dilanda oleh konflik internal, hingga mengantarkannya ke dunia pengadilan. Di dalam pertarungan tersebut, maka A. Muhaimin Iskandar memenangkannya melawan kelompok Yeni Wahid Cs. Cak Imin memenangkan realitas politik dan Yeni memenangkan idealitas politik. Kelompok Yeni tersingkir dalam percaturan politik PKB dan Cak Imin yang berhasil menguasai politik di PKB. Bahkan sampai dewasa ini.
Kekuasaan politik di PKB oleh Cak Imin dan kawan-kawan akhirnya mengantarkannya bisa mencalonkan untuk menjadi calon Wakil Presiden bersama Anies Baswedan sebagai Presiden. Koalisi yang didukung oleh Nasdem, PKS dan PKB memang kalah dari Koalisi Gerindra, Golkar, PD dan lain. Pasangan Prabowo-Gibran memenangkan pertarungan dalam pilpres 2024. Tetapi peluang menjadi calon Wapres tentu mengerek bendera Cak Imin dengan PKB untuk meraup suara dengan peningkatan yang signifikan. Itulah sebabnya di dalam Muktamar PKB ke 6 di Bali, maka Cak Imin didaulat kembali untuk menjadi nakhoda PKB dengan suara aklamasi.
Sebelumnya memang sudah terdapat riak-riak untuk melakukan upaya menghentikan Cak Imin, misalnya dengan pertemuan di Jombang pada waktu pemilihan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Ada sebanyak 60 ulama NU senior yang meminta agar PBNU membenahi PKB Dan ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Pansus PKB yang dipimpin oleh KH. Anwar Iskandar dan Amin Said Husni, dan kemudian disusul oleh kelompok yang kontra-PBNU dengan melakukan pertemuan dalam wadah Majelis Presidium Penyelamat Organisasi NU di Bangkalan, 18/08/2024.
Terdapat berbagai masalah pasca keterpilihan Cak Imin dalam Muktamar PKB Di Bali. Di Jakarta juga akan dilakukan Muktamar Tandingan yang dipimpin oleh Lukman Edi. Kedua kubu sudah mengklaim memperoleh dukungan dari para Kiai dan juga cabang-cabang PKB dari seluruh Indonesia. Rupanya, konflik antara PKB dan NU, secara tidak langsung, akan terus berjalan dan membutuhkan waktu panjang untuk menyelesaikan. Dan rasanya sekali lagi PKB akan masuk dalam babak baru pertarungan di Kementerian Hukum dan HAM dalam sengketa internal partai. Sudah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikannya.
Yang masih tersisa adalah bagaimana NU ke depan, terutama dalam respon generasi muda. Melalui konflik internal, meskipun bukan konflik di dalam NU, tetapi banyak orang yang membaca bahwa pertarungan ini adalah pertarungan antara PBNU dan PKB Cak Imin tentang siapa yang paling absah memiliki otoritas atas PKB.
Di era media social yang seperti ini, maka apapun yang dilakukan oleh siapa tentang apa akan sangat jelas tersaji di dalam media social. Orang bisa memiliki banyak pengetahuan disebabkan oleh kerajinannya untuk membuka dan membaca berbagai informasi di media social. Media social seakan-akan produk berbagai informasi tentang berbagai fakta dan realitas social yang sedang ngetren di masyarakat.
Betapa cepatnya informasi didapatkan terkait dengan informasi terkini atau up date. Informasi tersaji secara obyektif atau subyektif, fakta riel atau komentar menyatu di dalam tayangan-tayangan informasi di media social. Informasi akan menjadi viral jika dikaitkan dengan figure public yang menjadi sorotan. Akhir-akhir ini tentu saja adalah “perseteruan” antara Cak Imin PKB dan Gus Yahya PBNU. Di tengah berbagai perbedaan pandangan dalam otoritas atas PKB, tentu juga dipastikan akan menyeret PBNU dalam pertikaian otoritas dimaksud. Muktamar Tandingan yang dilakukan dipastikan akan memunculkan pandangan bahwa Muktamar tandingan tersebut berangkat dari “keprihatinan” Kiai-Kiai NU atas lepasnya otoritas PBNU atas PKB Cak Imin.
Dengan mudah menggiring informasi bahwa konflik antara PBNU Gus Yahya dan PKB Cak Imin bermula atas ketidaksepahaman mengenai posisi PKB di hadapan PBNU. Bagi PBNU, PKB adalah partai untuk NU sementara Cak Imin berpendapat bahwa PKB untuk bangsa, bukan hanya untuk NU. Pro-kontra sudah terjadi dan tidak ada lagi jalan kembali. The show must go on. Muktamar PKB di Jakarta 01-03/09/2024 tetap akan dipahami sebagai bagian dari keinginan PBNU untuk “mengendalikan” PKB, sementara PKB Cak Imin akan tetap bertahan dengan otoritas yang berada di dalam genggamannya.
Di tengah semerbaknya informasi di masyarakat, khususnya generasi muda, tayangan pemberitaan tentang konflik internal PKB ini tentu akan berdampak pada NU secara umum. Dan yang kita khawatirkan adalah terjadinya sikap tidak perduli bahkan merasakan bahwa kehadiran organisasi social keagamaan, seperti NU, itu tidak ada gunanya. Generasi muda adalah generasi yang sedang mencari identitas social religiusnya, dan jika yang didapatkan adalah konflik pemberitaan tentang PBNU, PKB dan muktamar yang diselenggarakan, maka bisa jadi mereka lama kelamaan akan abai atas NU dan mencari organisasi yang mengkhususkan diri dalam dakwah Islam yang damai dan mengabarkan kemajuan-kemajuan.
Kita tidak ingin bahwa NU yang sudah memberikan kontribusi positif bagi bangsa, negara dan masyarakat tersebut terdegradasi terutama di Kalangan generasi muda yang disebabkan oleh informasi konfliktual yang berpanjang kalam. Hanya sayangnya bahwa pintu untuk negosiasi sudah tertutup dan hanya takdir yang akan menyelesaikannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

