NU, Habaib, dan Disharmoni Sosial
OpiniDi Indonesia, tidak ada satu organisasi pun yang melebihi NU dalam penghormatan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada Rasulullah ini juga meluber atas keturunan Rasulullah Muhammad SAW. Dzurriyah Nabi Muhammad SAW merupakan suatu penggolongan atas seseorang yang dinyatakan sebagai memiliki garis keturunan atau genealogi nasab kepada Nabi Muhammad SAW. Ada basis pedoman yang dijadikan sebagai rujukan dalam kecintaan kepada keturunan Rasulullah dimaksud.
Tetapi dalam setahun atau dua tahun terakhir terdapat realitas social, di mana terjadi gugatan atas posisi social religious atas para habaib di Indonesia. Para habaib yang selama ini memperoleh privilege dalam otoritas keagamaan kemudian digugat atas dugaan terjadinya ketidaktersambungan sanad keturunan Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan atas kajian secara historis atas kitab-kitab pada abad ke tiga sampai ke enam, ternyata terdapat silsilah yang diragukan. Hasil penelitian ini kemudian viral di media social, antara yang pro dan kontra. Imaduddin Al Bantani menyatakan bahwa nasab Kaum Ba’alawi ternyata tidak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW.
Sontak hasil kajian ini menjadi pro-kontra di media social. Ramai sekali. Lalu lintas informasi di berbagai media social seperti WA, You Tube, Instagram, Face book dan sebagainya sangat mengharu biru dunia realitas keberagamaan. Yang paling terusik adalah kaum Ba’alawi. Di dalam kelompok ini terdapat sejumlah ulama yang selama ini memperoleh proviledge hebat, misalnya Habib Rizieq Syihab yang memperoleh sebutan Imam Besar, dan dikagumi kebanyakan oleh kaum Islam politis. Diagungkan dalam dunia Islam politik yang sedang menemukan tokoh yang dianggpnya sebagai symbol kekuatan Islam. Juga terdapat Habib Luthfi tokoh NU dan mursyid tarekat yang memiliki jutaan pengagum atau muhibbin baik di dalam maupun luar negeri. Kaum Ba’alawi juga memiliki satu organisasi yang menghimpun jutaan kaum habaib di Indonesia.
Tidak hanya ketidakabsahan sebagai dzurriyah Rasulullah, akan tetapi juga berkembang pada pembelokan sejarah tentang NU dan Indonesia. Bahkan juga banyak makam yang kemudian berubah menjadi makam bermarga Ba’alawi. Di beberapa daerah ditengarahi seperti itu. Akhirnya muncul kegeraman terhadap klan Ba’alawi yang dianggap telah melakukan banyak kebohongan bagi umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU.
Wacana habaib menjadi salah satu trending topik terutama setahun terakhir. banyak statement yang diungkapkan oleh dua kelompok ini, yang pro atau kontra. Yang menarik bahwa keduanya berada di dalam wacana untuk saling membenarkan apa yang menjadi statemennya. Bahkan menggunakan diksi-diksi yang pejoratif. Saling merendahkan dan saling menyakiti. Sudah sampai pada tahapan “mengkhawatirkan” akan terjadinya disharmoni social, terutama di tubuh NU.
Bayangkan diksi; goblok, dajjal, terkutuk, jongos dan sebagainya begitu terbiasa di dalam media social. Sungguh sudah jauh dan melenceng dari prinsip Islam yang mengagungkan perdamaian berbasis pada ungkapan di dalam prinsip relasi social. Sudah tidak lagi didapati qaulan layyinan dan qaulan sadidan di dalam relasi social sesama umat Islam di media social. Riuh rendah tentang pemberitaan Ba’alawi ini telah banyak menyita pikiran dan tindakan tokoh-tokoh NU dalam berbagai levelnya. Energi tokoh-tokoh NU banyak terkuras untuk membahas tentang sah atau tidaknya nasab Ba’alawi dan juga pembelokan sejarah oleh Kaum Ba’alawi.
Pertarungan otoritas ini berada di dalam Kawasan NU, sebab yang menjadi tema-tema pertarungan adalah kaum Ba’alawi yang selama ini memiliki muhibbin yang terdiri dari jamaah NU, sementara itu penggugat juga kalangan NU. Artinya bahwa perseteruan ini melibatkan relasi antar orang NU. Pertarungan ini melibatkan aktivis NU dalam berbagai level, di PBNU, di PWNU dan bahkan juga di PCNU. Oleh karena itu tentu sudah pantas jika perseteruan itu difasilitasi oleh PBNU untuk menyelesaikannya. Akhirnya tidak hanya pertarungan di media social tetapi juga merambah dalam kekerasan social, misalnya yang terjadi di Kerawang, terjadi tindakan anarkhis. (Kompas.com 11/08/24).
Hanya sayangnya bahwa PBNU berada di dalam situasi yang serba sulit. Maju ragu-ragu mundur juga enggan. Kelihatannya membiarkan perseteruan itu semakin memanas dengan cakupan yang lebih luas. Dewasa ini tidak hanya kelompok NU terbatas yang membicarakan tentang “nasib” habaib, akan tetapi juga semakin meluas ke akar rumput karena derasnya arus informasi pembatalan nasab dan mempertahankan nasab.
Dengan semakin derasnya arus informasi yang semakin clear, sesungguhnya pendukung pembatalan Ba’alawi sebagai dzurriyah Nabi Muhammad SAW semakin leading. Melalui teknologi DNA yang dianggap memiliki validitas dan akurasi, maka dapat membuka tentang siapa sesungguhnya leluhur kaum Ba’alawi. Di sisi lain, juga adanya keengganan dari beberapa tokoh Ba’alawi untuk melakukan test DNA sehingga semakin memperkuat keyakinan penolakan ketersambungan dzurriyah dimaksud. Hal ini menjadi alasan untuk meyakini kebenaran hipotesis ketidaktersambungan nasab Ba’alawi kepada Nabi Muhammad SAW.
Jamaah nahdliyin tentu berharap bahwa perseteruan melalui media social tersebut dapat dieliminasi bahkan dinihilkan dan yang memiliki otoritas adalah PBNU. Bagaimanapun harus dilihat bahwa secara empiris yang menjadi tokoh dalam kaum Ba’alawi kebanyakan adalah orang NU baik yang structural ataupun kultural. Oleh karena itu, PBNU harus menampung dan memberikan jalan ketiga agar perseteruan segara berakhir dengan win-win solution.
Kelompok pro Ba’alawi tidak merasa terkebiri dan kelompok pro pembatalan nasab juga tidak merasa memenangkan pertarungan. Umat Islam sering bertarung dalam kawasan tafsir agama. Dan problem yang terkait dengan Ba’alawi juga ranahnya tafsir. Pengurus PBNU adalah orang-orang yang terlatih berpikir mengambil the third way, maka kali ini pun dituntut untuk melakukannya. Dibutuhkan kearifan di dalam menyelesaikan problem massive ini dengan mempertimbangkan akhaffu dzararain.
Wallahu a’lam bi al shawab.

