Nyambung Nyambang Seduluran: Halal Bihalal Paguyuban Ronggolawe
OpiniRona kebahagiaan itu tampak secara ekspresif dari wajah orang-orang yang tergabung di dalam Paguyuban Ronggolawe Tuban di dalam acara Halal bihalal dengan tajuk “Guyub, Rukun, Seduluran”. Acara Halal Bihalal dan Temu Kangen Paguyuban Keluarga Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya. Acara menarik ini diselenggarakan di Hotel Inna Simpang Surabaya. 18/05/2024.
Sayangnya, saya tidak bisa hadir secara utuh sampai sessi foto-foto dan saling bersalaman. Hari Sabtu justru hari sibuk bagi saya karena harus mengajar di UNISMA dalam dua kali tatap muka pagi dan siang. Jam 13.00 WIB harus mengajar secara daring pada program Doktor Pendidikan Islam Multikultural di sana. Jam 12.00 WIB saya pamit setelah menikmati makan sayur daun singkong, botok ikan dan ayam goreng. Menu yang sederhana tetapi nikmat karena cita rasa pesisiran.
Kala hadir di Hotel Ina Simpang terasa sebagai orang Tuban. Makanan khasnya yang menjadi ciri orang Tubanan sudah kelihatan. Ada tape ketan dibungkus daun jambu, gemblong, dumbeg, lalu yang lebih khas lagi adalah minuman legenda semenjak Adipati Ronggolawe dan terus turun temurun hingga sekarang adalah legen dan towak. Konon orang Tuban beranggapan Towak itu keroto boso Noto Awak. Legen yang asli dan baru turun dari pohon aren juga diyakini bisa menyembuhkan kencing batu.
Mereka itu datang dari berbagai Wilayah di Sekitar Surabaya. Ada yang dari Pasuruan, Jombang, Bojonegoro, Bangkalan, Malang, Gresik, Lamongan dan tentu saja dari Tuban. Ibu-ibu dari Tuban yang melabel dirinya sebagai Group Wira-Wiri adalah sekelompok ibu-ibu yang memiliki talent untuk menyanyi dan gerak tari yang aduhai. Terutama kala menyuarakan “Yes, Yes, Yes” pasca mengucapkan Yel-Yel. Sayangnya saya lupa bunyi yel-yelnya. Rasanya ada gairah masa muda yang terjaga. Usia hanyalah ukuran tahun, tetapi jiwa dan pikirannya masih bergairah layaknya di usia 40-an.
Yang sungguh menarik bagi saya adalah keinginan untuk melestarikan budaya local Tubanan. Orang “asli” Tuban dipastikan mengenal Tayuban, Sindiran atau Beksan. Di dalam local culture disebut mbeso. Sebuah tradisi khas Tuban, yang menggambarkan suka cita pasca panen atau hajadan yang penuh dengan kegembiraan, dengan menghadirkan waranggono atau sindir, panjak dan gamelan, dalam acara tayuban dimaksud. Meskipun usia yang hadir dalam acara ini sudah senior, tidak disebut tua, tetapi semua masih menikmati tradisi ini.
Pak Bin sungguh jago dalam urusan seperti ini. Jika di dalam acara temu kangen dan Pak Bin belum menyanyi, maka rasanya hambar, seperti sayur kurang garam. Saya juga mengagumi Pak Endro yang nyaris hafal satu persatu peserta yang hadir dalam Halal bihalal. Bahkan sampai kepada anak-anak sahabatnya juga dikenalnya. Kalau saya tentu beda. Saya itu orang yang “kurang” care atas nama-nama orang. Wajah masih ingat, tetapi nama nanti dulu. Untung masih ingat nama istri. Ada joke. Ada dua orang tua, suami istri. Usianya 70-an. Setiap berbuat apa saja selalu memanggil istrinya dengan sebutan sayang. Yang dilakukan itu memantik anak muda untuk bertanya: “saya kagum pada kakek, sudah sampai usia segini tetapi masih memanggil sayang sama istri. Kakek ini menjawab yang di luar perkiraan si anak muda. Katanya: “saya panggil sayang karena sudah lupa namanya”. Yang kagak tersenyum pasti kurang bahagia.
Di antara mereka ini adalah orang-orang sukses pada zamannya. Ada yang menjadi jenderal, kolonel, guru, dosen, guru besar, pejabat tinggi dan juga wirausahawan yang sukses. Setelah pension dari pekerjaan juga masih terus mengabdi untuk negara dan bangsa dalam level dan kapasitasnya masing-masing. Meskpun bervariasi dalam pekerjaan dan jabatan tetapi tidak ada rasa canggung untuk saling bertegur sapa. Salah satu sifat dasar Orang Tuban adalah sumeh. Di dalam tradisi Tubanan maka orang harus bersikap ramah kepada orang lain. Jika ada hal-hal yang mengganjal di dalam hati, maka harus tetap bersikap ramah. Sumeh itu sesungguhnya merupakan sikap yang menghargai persahabatan, persaudaraan di atas masalah-masalah pribadi. Inilah yang saya tangkap dari acara halal bihalal. Makanya, jika tema Halal bihalal adalah guyub, rukun, seduluran maka tema ini sungguh cocok untuk menggambarkan watak orang Tuban.
Saya diminta untuk memberikan taushiyah dan doa. Tidak banyak yang saya sampaikan. Tiga hal saja yaitu hakikat hidup adalah untuk menemukan kebahagiaan. Biarkan saja survey tentang World Happiness Report (WHR) menyatakan peringkat kebahagiaan kita berada pada level 80 dari 180 negara, tetapi kita telah menemukan kebahagiaan. Orang Barat mengukur kebahagiaan dengan ukuran materi, kekayaan dan asset, sedangkan kita mengukur kebahagiaan itu dari “Roso”. Ada orang yang kaya tetapi tidak bahagia. Dia hanya sejahtera saja. Tetapi ada orang yang kekayaannya hanya cukup saja tetapi bisa menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan adalah rasa di dalam hati. Bukan hanya di dalam fisik. Kesejahteraan terkait dengan fisik atau jasad, sedangkan kebahagiaan terkait dengan rasa atau hati.
Baca Juga : Film “Tuhan Izinkan Aku Berdosa” : Kritik Atas Ekspektasi Manusia
Untuk mencapai kebahagiaan tersebut terdapat tiga hal mendasar, yaitu: pertama, rasa iman di dalam diri. Iman kepada yang Akaryo Jagad atau dzat yang menciptakan alam dan seluruh isinya. Iman merupakan dasar atas kebahagiaan atau rasa bahagia. Seseorang meyakini bahwa rasa bahagia tersebut datang dari Tuhan yang Maha Kuasa, Allah SWT.
Kedua, karena kita yakin bahwa kebahagiaan itu datang dari Tuhan, maka kita harus pasrah kepadanya. Manut miturut lan mituhu atau legowo atas karunia Tuhan. Kepada Tuhan semata kita berserah diri atas kepastian yang datang kepada kita semua. Tidak ada sesuatu yang menjadi kejadian atau peristiwa kecuali semuanya karena sudah ada catatannya. Tetapi manusia harus berusaha untuk menerima atau pasrah dan legowo sehingga akan menimbulkan kedamaian di dalam hati dan diri.
Ketiga, terus berpikir positif dengan doa tiada henti. Setiap yang kita usahakan harus dibarengi dengan doa kepada yang menciptakan peluang atas sesuatu kepada kita. Jangan lelah berdoa karena Tuhan memberikan peluang keberhasilan lebih besar kepada orang yang mau berdoa kepada-Nya. Sekali lagi kebahagiaan bukan hanya urusan fisik atau jasad tetapi lebih kepada urusan hati atau rasa.
Untuk menutup ceramah ini saya menyampaikan dua pantun:
Dari Tuban ke Surabaya, Naik mobil beroda empat.
Kawan-kawan semua sudah jaya, Alhamdulillah semuanya sehat.
Kare dan gulai rasanya lezat, Paguyuban Ronggolawe memang hebat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

