Film “Tuhan Izinkan Aku Berdosa” : Kritik Atas Ekspektasi Manusia
InformasiOleh Eva Putriya Hasanah
Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa yang sebelumnya telah diputar di berbagai festival, dan akhirnya tayang di seluruh bioskop Indonesia sejak 22 Mei 2024. Pada akhir tahun lalu, film ini sudah diputar di Jakarta Film Week 2023 dan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
Tuhan Izinkan Aku Berdosa merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2005) karya Muhidin M Dahlan. Diproduseri oleh Raam Punjabi dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo, jalan cerita dalam film ini erat dengan cerita kekerasan seksual yang membuat film ini dapat memicu trauma ataupun rasa tidak nyaman.
Film ini berusaha membongkar segala bentuk kemunafikan yang ada di masyarakat. Selain itu, kelompok-kelompok agamis di tempat ini ditampilkan sebagai anarkis dan eksploitatif, yang dapat menimbulkan kemarahan dari berbagai pihak. Tim produksi akhirnya menekankan bahwa apapun ukurannya, hal ini nyata dan dapat terjadi di sekitar kita.
Sinopsis Film
Tuhan Izinkan Aku Berdosa mengikuti kehidupan Kiran, seorang mahasiswi religius yang pintar dan berasal dari keluarga miskin di desa. Dia adalah gadis yang kritis terhadap kemunafikan yang dia temui. Ketika dia bergabung dengan kelompok agama garis keras yang dipimpin oleh Abu Darda, hidupnya berubah total. Melalui jihad yang ekstrem, kelompok ini menuntut pengabdian penuh kepada Allah.
Setelah bergabung dengan kelompok tersebut, Kiran awalnya merasa lebih baik secara pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal yang mengganjal mulai terjadi. Kiran mengalami banyak kesulitan daripada hidayah. Ini dimulai dengan niat Abu Darda untuk menjadikan Kiran sebagai istri keempatnya, sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya.
Karena berani mengkritik hal itu, Kiran dituduh menyebarkan fitnah terhadap sang imam, yang mengakibatkan ancaman fisik terhadapnya. Bahkan orang tuanya di desa menganggapnya sebagai anak durhaka karena berani melawan ulama karena tuduhan ini.
Penderitaan Kiran semakin berat ketika dia mengalami pelecehan seksual dari dosen pembimbingnya dan juga dari teman kuliah yang selama ini dikenal alim dan taat. Tak mampu lagi menahan derita, Kiran akhirnya mulai mempertanyakan keadilan Tuhan.
Kritik Moral
Dalam film itu, setelah masalah yang ia alami, Kiran memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada dunia gelap dengan menjadi pelacur. Dia bertekad untuk mengungkap orang-orang munafik yang menipu umat dengan janji-janji palsu. Kiran ingin membuka mata banyak orang, termasuk ibunya, yang terjebak dalam kepercayaan buta terhadap para pemimpin agama tersebut.
Filmnya tidak hanya mengangkat masalah agamis, tetapi juga mengkritik wakil rakyat. Bagaimana para penguasa dan orang-orang di kalangan atas menggunakan kekuasaan mereka untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Selain itu, hal ini mengurai jumlah kasus yang terjadi di negeri ini yang ingin ditampilkan di film ini. Akhir kata, meskipun film ini bersifat fiksi dan setiap karakternya berasal dari tulisan, masalah yang diangkat terasa nyata karena sangat dekat dengan kehidupan.
Akhirnya film ini dibuat untuk kembali menyadarkan manusia secara menyeluruh tanpa ada batasan agama atau jabatan orang tersebut. Semua orang bisa berbuat salah namun film ini mengajak kita untuk berkontemplasi agar tidak menjadi serupa dengan karakter-karakter yang ada di filmnya. Pemuka agama haruslah mengajarkan agamanya dengan benar, dan pejabat negara harus menaungi rakyatnya dengan baik.
Dalam kesimpulannya, manusia tetaplah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Tidak peduli seberapa besar dia di mata manusia, bagaimana ia tampak religius, seberapa tinggi jabatannya, tak peduli betapa pintar dan cerdasnya, ia tetaplah manusia yang bisa berbuat salah. Maka tak sepatutnya kita menaruh ekspektasi besar dan menaruh rasa percaya penuh.

