Palestina Vs Israel: David Versus Gholiat
OpiniCerita tentang Dawud melawan Jalut dalam episode sejarah Thalut memang menjadi contoh tentang yang besar belum tentu menang dan yang kecil belum tentu kalah. Digambarkan bahwa Dawud yang berbadan kecil melawan raksasa Jalut dengan badan yang besar bak raksasa dengan kekuatan yang sangat besar. Jalut menggambarkan kekuatan raksasa, sedangkan Dawud menggambarkan orang yang lemah dan tidak berdaya.
Di dalam cerita tersebut digambarkan bahwa Jalut atau Gholiat bersenjata lengkap dengan pakaian baju besi, senjata khas pada masa itu, dan dengan Langkah yang menggambarkan kedigdayaan dan kekuatan yang hanggegirisi atau menakutkan. Siapa yang berani melawannya dipastikan akan dikirim ke alam kubur. Bahkan Thalut, Sang Rajapun gemetar mendengar namanya. Ciut nyalinya menghadapi Jalut yang superkuat tersebut. Untunglah ada Dawud, si manusia biasa yang memiliki keberanian seperti dewa. Berbekal senjata ketapel maka Dawud menantang Jalut. Cukup ketapel.
Tentu kita paham bagaimana cara kerja ketapel. Tetapi jangan lupa bahwa Dawud dibekali dengan senjata ketapel dengan butiran batu yang berasal dari neraka, sehingga batu kecil tersebut dapat menembus kekuatan besi sekalipun. Jalut dengan besi penutup kepala dan rompi besipun tembus oleh batu-batu kecil yang dilontarkan dengan ketapel. Jalut pun tersungkur dan mati dalam melawan Dawud. Pada masa berikutnya Dawud menjadi raja dan menurunkan Nabi Sulaeman yang memiliki banyak mu’jizat, di antaranya mampu berbicara dengan binatang. Di dalam tayangan televisi pemuda-pemuda Palestina melawan tantara Israel bersenjata lengkap hanya dengan ketapel. Tentu mereka meniru apa yang dilakukan oleh Dawud kepada Jalut.
Hari-hari ini, dunia sedang disibukkan dengan serangan Milisi Hamas kepada Israel. Milisi Hamas berhasil melakukan serangan mendadak dan rapi atas tentara Israel. Israel sebagai negara kecil adidaya dengan radar-radar modern ternyata dapat ditembus oleh serangan Milisi Hamas dengan menggunakan rudal dan drone yang mematikan. Sungguh Israel yang sedang bersuka cita karena peringatan Hari Raya Sabath Yahudi menjadi luluh lantak. Rakyat Israel tiba-tiba menjadi panik dengan serangan bak siluman tersebut. Serangan kilat yang dilakukan oleh Milisi Hamas tersebut terjadi pada Sabtu, 07/10/2023. Setelah terlelap tidur karena menyelenggarakan Hari Raya Sabath, maka pada pagi hari, Milisi Hamas menghujani Israel dengan roket dan serangan drone berisi bom. Dan kemudian tentara Israel membalas dengan menjatuhkan bom mematikan ke jalur gaza. Ribuan orang yang meninggal karena serangan kedua belah pihak.
Kekejaman Israel memang tak tertandingi. Derita rakyat Palestina juga tidak tertahankan. Selama ini, masyarakat Palestina di jalur Gaza selalu dinyatakan sebagai kaum teroris terutama oleh Amerika Serikat dan Inggris serta negara Barat lainnya. Amerika dengan double speaks-nya selalu menganggap Palestina sebagai teroris dan Israel sebagai korban tindakan teroris. Jika Israel menyerang jalur Gaza dianggap sebagai jalan untuk menangkap para teroris sedangkan serangan Palestina untuk mempertahankan diri dan wilayahnya dinilainya sebagai tindakan kaum teroris. Jika kita menggunakan kaca mata yang jernih, bahwa sesungguhnya yang teroris itu adalah Israel, bahkan bisa dinyatakan sebagai State Terrorism.
Pendukung Israel adalah negara-negara adidaya, dengan kekuatan senjata dan diplomasinya. Sementara itu pendukung Palestina adalah negara-negara berkembang dengan hanya mengandalkan diplomasi dan kutukan. Misalnya Indonesia yang mendukung Palestina tetapi sekedar memberikan kutukan jika tentara Israel berbuat kejam atas rakyat Palestina. Hanya inilah yang memang mampu dilakukan atau sejauh-jauhnya adalah memberikan bantuan bahan pangan atau donasi yang bertujuan meringankan beban kehidupan rakyat Palestina. Berbeda dengan negara-negara Barat yang terus membordir berita dengan menyatakan bahwa rakyat Palestina adalah kaum teroris, dan juga tindakan dukungan diplomasi dan persenjataan canggih.
Beberapa tahun terakhir, Palestina juga nyaris tidak mendapat dukungan dari negara-negara Islam di Timur Tengah. Arab Saudi dan juga UEA terikat kerja sama bilateral dengan Israel untuk kepentingan strategi pertahanan dan juga teknologi, sementara Mesir juga tidak memberikan dukungan yang memadai. Ibaratnya, Palestina itu sebuah negara yang terisolir di tengah sahabat-sahabatnya di negara-negara Islam di Timur Tengah. Mungkin hanya Iran yang memberikan dukungan untuk perjuangan melawan Israel karena Iran memang tidak sebagaimana negara-negara Arab lain yang sudah menjalin kerja sama dimaksud. Bahkan juga ada asumsi bahwa dibalik keberanian Milisi Hamas untuk menyerang Israel adalah Iran. Strategi melawan dan menembus benteng pertahanan Israel di perbatasan-perbatasan adalah cara kerja Iran dalam mendukung perjuangan Palestina.
Israel sungguh sudah dipermalukan oleh Milisi Hamas. Tidak hanya kewibawannya yang hancur tetapi juga rakyatnya banyak meninggal dunia. Maka Israel juga dipastikan akan melakukan tindakan bumi hangus atas wilayah-wilayah Palestina khususnya di Jalur Gaza. Dan itu sudah terbukti dengan serangan yang tidak lagi memperhitungkan area apa saja. Masjid, tempat ibadah, sekolah dan rumah sakit juga diluluhlantakkan. Israel dengan dukungan Amerika dan sekutu Barat akan terus mendukung upaya Israel untuk menghilangkan peta Palestina di Timur Tengah.
Bagi Israel memang tidak berlaku, strategi perang ala Rasulullah, jangan merusak tempat ibadah, jangan merusak tanaman dan kebun-kebuh kurma, jangan bunuh orang lemah, orang tua, anak-anak dan wanita. Bagi Israel semua adalah musuh dan semua berhak untuk dihancurkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

