(Sumber : Dokumentasi Peneliti)

Meningkatkan Human Capital: IAIN Palangkaraya dan Masa Depan

Horizon

Begitu mendengarkan hymne IAIN Palangkaraya yang dilantunkan setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, maka saya nyatakan bahwa Hymne ini menggambarkan tentang Keindonesiaan, Keislaman dan Kemoderenan. Trilogi Kebangsaan tersebut muncul dalam syair Hymne yang dibawakan oleh mahasiswa IAIN Palangkaraya. Jadilah orang Indonesia yang beragama Islam dan modern. Boleh saja orang memakai peci hitam, kopyah putih, celana panjang sempurna atau celana panjang cingkrang, akan tetapi semua harus menjadi orang Indonesia yang beragama Islam dan modern. 

  

Saya sungguh sangat berbahagia melihat antusiasme mahasiswa di dalam mengikuti acara Studium General yang diselenggarakan oleh IAIN Palangkaraya. Aula IAIN tersebut penuh dengan dosen dan mahasiswa. Tidak kurang dari 1000 mahasiswa yang hadir di acara ini. Hal tersebut menandakan bahwa para mahasiswa antusias untuk memperoleh pembekalan ilmu dari para akademisi. Jum’at, 05/10/2023 menjadi hari yang membahagiakan  bagi saya sebagai narasumber utama di dalam acara ini. 

  

Para mahasiswa juga sangat antusias untuk bertanya. Ada sebanyak empat mahasiswa yang bertanya terkait dengan materi yang saya bawakan dengan judul “Human Capital, Pendidikan dan Indonesia di Masa Depan.” Ada beberapa pertanyaan menarik dari para mahasiswa. Sayangnya nama-nama mereka tidak cukup terekam dengan baik. Di antara pertanyaan tersebut adalah bagaimanakah sikap kita terkait dengan banyaknya para ahli ilmu pengetahuan yang tidak mau kembali ke Indonesia dan terus menetap di luar negeri, apakah itu bermakna ketiadaan sikap nasionalisme di dalam dirinya? Lalu pertanyaan yang juga menarik terkait dengan harapan di masa depan, bahwa generasi muda harus mampu bersaing dengan generasi muda lainnya. Sedangkan yang kita pelajari adalah ilmu keislaman yang tentu saja yang dipelajari adalah ilmu-ilmu agama. Apa yang bisa dilakukan? Lalu pertanyaan lainnya, kita harus menjadi orang Indonesia yang beragama Islam dan modern. Sementara itu banyak generasi muda yang belajar di luar negeri dan kemudian tatkala pulang lalu mengembangkan ideologinya. Apakah hal ini tidak membahayakan NKRI?

  

Pertanyaan ini merupakan hasil refleksi para generasi muda tentang bangsa dan negaranya. Suatu pertanyaan yang bisa menghidupkan asa di masa depan. Pada sessi tanya jawab ini saya jelaskan tentang bagaimana seharusnya kita menghargai pilihan-pilihan rasional dari para akademisi dan bagaimana sikap yang seharusnya diambil untuk Indonesia ke depan. Beberapa saat yang lalu saya berkesempatan untuk menonton tayangan Kick Andy di Youtube. Ada yang menarik dari tayangan tersebut, yaitu ada dua orang anak kolong (anak tentara) yang sukses dalam dunia akademik di Jepang. Sayang saya lupa namanya dan temuannya yang spektakuler. Yang jelas keduanya menemukan inovasi baru di dalam bidangnya. Yang satu menemukan radar untuk pesawat terbang dan satunya menemukan desain kapal. Di dalam sessi wawancara tersebut dinyatakannya bahwa berkarir di luar negeri, khususnya perguruan tinggi  di Jepang tidak melunturkan semangatnya untuk mencintai Indonesia. Melalui inovasi itu, maka juga dapat didarmabhaktikan untuk dunia penerbangan di Indonesia bahkan di dunia. Termasuk juga temuan di bidang desain perkapalan. Artinya bahwa meskipun bekerja di Perguruan Tinggi Jepang, tetapi yang penting bahwa ada semangat keindonesiaan dan kemanusiaan yang luar biasa. Dan itu adalah orang Indonesia. Menjadi diaspora tidak serta merta menghilangkan keindonesiaannya.

  

Generasi muda Indonesia harus memiliki kapasitas dengan keahlian yang khas. Tetapi keahlian tersebut akan bisa diwujudkan jika generasi muda memiliki kemampuan untuk berkolaborasi. Era yang akan datang ditandai dengan era kolaborasi. Siapa yang mampu berkolaborasi, maka dialah yang akan menguasai dunia. Kita ambil contoh Mas Menteri Nadim Makarim. Dia bisa mengembangkan GOJEK, karena kemampuannya berkolaborasi, sebab pasti ada ahli teknologi aplikasi, ahli teknologi jaringan, ahli keuangan digital, ahli ekonomi digital dan sebagainya, yang kemudian bekerja sama untuk menggusur perusahaan transportasi yang semula harus memiliki armada dan akhirnya diganti dengan aplikasi GOJEK,  dan kemudian merambah ke GOPAY, GOFOOD, GOSEND dan sebagainya. Bolehlah kita ahli tafsir, tetapi harus memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan ahli di bidang teknologi digital, sehingga ilmu tafsir akan dapat dikenal lebih luas. 

  

Ada contoh yang menarik. Anak pesantren Nurul Jadid yang selama 10 tahun belajar di China. Dari program sarjana sampai doctor. Namanya Novi Basuki. Di dalam wawancara tersebut digambarkan tentang bagaimana nasionalisme dan keislaman Novi Basuki meskipun sudah belajar ilmu pengetahuan di China yang dikenal sebagai negara komunis. Menurut Pak Dahlan, bahwa Novi Basuki ini tidak hanya memahami kehidupan sehari-hari masyarakat China tetapi sudah khatam filsafat China. Orang yang bisa menulis dengan huruf China,  apalagi seperti disertasi, maka tentu sudah memahami secara mendasar tentang filsafat China. Novi Basuki menyatakan bahwa kecintaannya kepada Indonesia yang menyebabkannya kembali ke Indonesia dan akan mendarmabaktikan ilmunya untuk pendidikan di Indonesia. Dan yang lebih hebat bahwa Novi Basuki menyatakan akan terus menjaga Pancasila dan  NKRI.

  

Jadi, anak muda Indonesia boleh belajar di mana saja, di belahan bumi mana saja, tetapi yang penting mereka tidak akan melupakan keindonesiaannya. Kacang jangan lupa lanjaran. Dan hal tersebut sudah ditunjukkan oleh para diaspora kita dan juga Novi Basuki yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di PT di China. Alangkah hebatnya orang Indonesia itu.

  

Wallahu a'lam bi al shawab.