(Sumber : Taufanyanuar)

Pendidikan, AI dan Masa Depan Pembelajaran

Opini

Sebuah kegembiraan di dalam persahabatan adalah di kala mendapatkan kiriman  pesan lewat WhatsApp yang sangat bernilai di dalam dunia pendidikan. Beberapa hari yang lalu, saya dikirimi pesan lewat WA oleh Sahabat saya, Prof. Dr. Agus M. Hatta, Wakil Rektor Bidang Kerjasama pada ITS Surabaya. Pesan tersebut bertitel “Evolusi Orang Pintar.” Pak Hatta, begitu saya memanggilnya, terlibat di dalam acara di Manila tentang “11th ADB International Education and Skills Forum”. Tulisan yang sangat inspiratif bagi para pelaku pendidikan dan juga pemerhati Pendidikan.

  

Menjelang acara penutupan, acara diakhiri dengan sebuah sessi yang sangat menarik bertemakan “The Future of Education: Learning Beyond the Classroom”. Yang menyampaikannya adalah seorang enfluencer pendidikan, Lyca Maravila. Sebagai seorang enfluencer, Maravilla berhasil menohok para pendengarnya dengan ungkapan-ungkapan yang menarik dan penuh pesona. Di dalam tulisannya, Prof.  Agus menyatakan bahwa ada satu slide yang membuatnya terhenyak yaitu di kala membicarakan tentang evolusi belajar. 

   

Ada beberapa evolusi  cara belajar, yaitu: pertama, belajar untuk menghafal. Disebut sebagai deep work. Seseorang  harus tekun dan telaten untuk menghafal apa yang dipelajarinya. Tanpa ketekunan dan kesungguhan jangan pernah berpikir akan bisa menghafalkan apa yang seharusnya dihafalkan. Di dunia pesantren, seorang santri dianggap sangat baik kemampuan ilmu Bahasa Arabnya jika telah hafal Kitab Alfiyah, sebuah kitab yang berisi 1000 matan tentang kaidah dalam bahasa Arab. Jika seorang santri telah menghafalnya, maka dianggap sudah memenuhi standart tinggi di dalam dunia pesantren. 

  

Kedua, era searching atau era kita mencari jawaban atas berbagai pertanyaan dari mesin pencari misalnya Google Search tentang apa yang kita inginkan. Mesin pencari itu seperti pasar raya yang menyajikan berbagai barang dagangan atau informasi apa saja sesuai dengan yang dibutuhkan oleh manusia. Kita bisa bertanya apa saja. Mulai dari kebutuhan dapur, kebutuhan rumah tangga, keperluan bepergian, kebutuhan menginap di hotel sampai kebutuhan beragama. Jika kita berada di daerah lain, maka kita bisa bertanya kapan waktu shalat, mana arah kiblat, mana masjid terdekat dan sebagainya. Bahkan kita juga bisa bertanya tentang hukum-hukum agama, acara ritual dan juga panduan relasi social. Semua bisa disajikan dengan cepat, dalam hitungan detik, sehingga semua clear. Jelas. 

  

Ketiga, era algoritma, yaitu era di mana semua infomasi disajikan agar kita menyantapnya. Di HP kita semuanya tersedia. Mau apa saja tersedia. Bukan kita yang harus mencari dan menemukan,  tetapi mereka yang menjajakannya. Konten di media sosia, seperti Youtube, TikTok, Facebook, Instagram semua berebut untuk menyajikan informasi terkini dan  hiburan yang memenuhi selera para netizen. Konten music, entertainment,  pendidikan, social, budaya dan agama tersaji dengan eksplosifnya. 

  

Melalui media social, maka akan memunculkan figur-figur yang sangat dikenal. Juga  muncul enfluencer yang merajai blantika media social. Siapa yang tidak mengenal nama-nama youtuber seperti Ria Ricis, Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Deddy Corbuzier dan lain-lain. Apa yang diupload di media social akan bisa dilihat oleh jutaan penggemarnya. Bahkan juga didapati pendakwah media social. Melalui berbagai macam akun yang didirikannya, maka banyak netizen yang memburunya. Misalnya Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdus Shomad, Gus Baha’ dan Ustadz Hanan Attaqi. Belum lagi misalnya Felix Siaw, Firanda, Mamah Dedeh, Oki dan lain-lain. Di dalam dunia keagamaan dikenal konsep Algoritme Religious. Yakni penyebaran informasi keagamaan yang mengikuti system computer yang terinspirasi dari nilai-nilai atau ajaran agama sebagaimana disampaikan oleh para da’i dengan menggunakan media social. 

  

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Saya kira sudah banyak kanal  yang mengedepankan berbagai konten pendidikan, misalnya tentang kurikulum, pembelajaran fisika, matematika, kimia, biologi dan juga ekonomi, ilmu social, serta Sains dan Teknologi. Hanya sayangnya bahwa konten pendidikan tersebut masih kalah pamor dengan konten media social lain seperti unggahan entertainment, peristiwa kemanusiaan dan  video music dalam berbagai genre. Misalnya, penayangan lagu-lagu Melayu dalam berbagai versi dan yang terakhir misalnya Bolliwood Nusantara, Cover Dangdut India, music klasik, pop, slow rock dan bahkan Qur’anic Song. 

  

Jika dicermati, maka di dalam dunia pendidikan masih berkutat pada penggunaan searching atas program-program pendidikan. Misalnya di kala mahasiswa mencari jawaban atas tugas yang dibebankannya. Dengan mengakses ChatGPT, DeepSeek, Cloud, dan model AI lainnya, maka dengan mudah para mahasiswa dapat mengerjakan tugas-tugasnya. Bahkan anak-anak SD sekarang sudah menggunakan ChatGPT untuk menemukan jawaban-jawaban atas bahan-bahan ujian yang akan diikutinya. 

  

Ikhwal penggunaan AI itulah yang sesungguhnya diperlukan upaya untuk memahaminya secara benar. Perlu ada literasi tentang penggunaan AI. Jangan sampai kita menggantungkan AI untuk kepentingan semuanya. Tetapi harus ada pemikiran kritis. Jika kita menggunakan konsepsi Alvara Research Center tentang para pengguna AI, misalnya AI Antusias dengan prosentase terbesar, maka tetap diperlukan AI Antusias-Kritis. Gen Z tidak bisa tertinggal dari dinamika penggunaan AI untuk kepentingan pendidikan, tetapi harus tetap mempertimbangkan dimensi pentingnya  berpikir. 

  

Jangan sampai AI lalu mematikan kecerdasan manusia. Saya pernah menyatakan bahwa penggunaan AI yang berlebihan akan dapat mematikan rasionalitas kita. Killing thinking: The Death of Rationality. Bahkan jika berlebihan akan dapat menyebabkan matinya keahlian atau matinya kepakaran. Killing Thinking: The Death of Expertise. Kita, para pendidik, sudah diingatkan oleh Tom Nicols tentang The death of Expertise (2017). Di sini arti penting etika AI atau di dalam Bahasa Agama disebut sebagai Fiqih AI.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.