Pengembangan PTKIN: Perlu Extra Ordinary
OpiniTidak bisa dipungkiri bahwa ke depan PTKIN harus terus berpacu dengan waktu untuk mengejar “ketertinggalan” dengan dunia perguruan tinggi yang juga berlari untuk meningkatkan kualitasnya. Dewasa ini merupakan era pendidikan berkualitas sebagaimana tercantum di dalam RPJMN 2019-2024, dan kelihatannya pemerintah sangat serius untuk mengejar keterkaitan pendidikan dengan perkembangan di sektor lain, misalnya Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) yang juga berkembang pesat, terutama industri digital. Misalnya, block chain, industri halal, digital economy dan sebagainya.
Perguruan Tinggi Umum (PTU) yang sudah lama berkecimpung dengan Fakultas Sains dan Teknologi atau Fakultas Ekonomi dan Bisnis, maka perubahan ini tidaklah menyesakkan, sebab mereka telah menguasai banyak aspek, misalnya teori di bidang sains dan teknologi dan juga teori ekonomi baik mikro maupun makro serta berpengalaman dalam praktik pengembangan sains dan teknologi serta ekonomi dan bisnis. Selain itu juga penguasaan teknologi informasi yang telah tertata dengan baik. Di Indonesia mungkin yang bisa disebut telah memiliki kekuatan di bidang ini adalah PTU yang baik adalah UI, UGM, ITB, UB, UA, dan yang PTS adalah Bina Nusantara University, President University, Ma Chung University, Prasetya Mulya University, Pelita Harapan dan sebagainya.
Sebagai contoh misalnya, FISIP terbaik di Indonesia adalah UI, UGM, UA, UIN Syahid (data universitas123, 19/08/2021). FISIP terbaik versi Times Higher Education Word University Ranking (THE-WUR) adalah UI, UA, Binus University, UB, Universitas Diponegoro, UGM, Universitas Pajajaran. (Kompas.com 14/10/2021). Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang terbaik berdasarkan data THE-WUR adalah UA, ITB, Binus University, UB, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret, Telkom University. Berdasarkan THE WUR, terdapat lima indikator untuk pemeringkatan, yaitu: Sitasi (citation), pendapatan industri (Industrial income), pandangan internasional (international outlook), riset (research) dan pengajaran (Learning process). (Kompas.com 21/10/2021).
PTKIN memang masih jauh dari ukuran THE-WUR disebabkan oleh beberapa “kelemahan”. Citasi kita masih rendah sebab belum mentradisi budaya menulis yang kuat di antara para dosen. Dosen kita masih cenderung budaya retoris dibanding budaya tulis. Misalnya perlu digagas “one year one article one book” melalui program gerakan dosen menulis. Perubahan mindset dosen menulis ini merupakan tantangan yang sangat besar bagi PTKIN agar citasi PTKIN bisa terangkat. Tanpa “pemaksaan” seperti ini, maka akan sulit mengejar target peningkatan citasi di PTKIN. Berdasarkan data Google Scholar Citation (GSC), Jumlah citasi di UGM sebanyak 175.609 artikel, UI sebanyak 136.774 artikel. Bandingkan dengan UIN Syarif Hidayatullah 55.580 artikel, lebih baik dibandingkan dengan UA sebesar 47.309 artikel, USU 47.309 artikel, UM 36.218 artikel. (testlpm.uinjakarta.ac.id 16/07/2019).
Cara yang digunakan untuk mendorong terhadap peningkatan citasi adalah dengan memperkuat tulisan di jurnal, yaitu jurnal terindeks di Scopus dengan memperhitungkan quartilnya, artikel jurnal non terindeks di Scopus, jumlah citasi di Scopus, jumlah citasi di Google Scholar, dan jumlah artikel di jurnal terakreditasi Sinta 1 sampai 6. Program yang dikembangkan UI adalah dengan mendorong budaya publikasi, mendorong publikasi ilmiah, mendorong publikasi artikel ilmiah berkualitas.
Tantangan kerja sama dengan DUDI juga masih rendah. Di tengah MBKM, maka sesungguhnya PT diberikan kelonggaran untuk membangun kolaborasi dengan DUDI dalam kerangka pemenuhan kewajiban MBKM. Program MBKM sebenarnya juga relevan dengan konsep program link and match, yaitu upaya untuk membangun dunia pendidikan yang memiliki relevansi dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Mari kita perhatikan upaya Kemendikbudristek dalam MBKM, yaitu: Lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak, mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus, dosen berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar di dalam kampus, program studi berstandar internasional, kelas yang kolaboratif dan partiispatif, dan program studi bekerjasama dengan mitra kerja kelas dunia. Semua ini berbasis pada tiga yaitu: kualitas lulusan, kualitas kurikulum dan kualitas dosen & pengajar. Berdasarkan survey terhadap para pimpinan PT atas manfaat MBKM 99 persen puas, dosen 98 persen puas dan 98 persen mahasiswa puas. (Implementasi Kebijakan Kampus Merdeka, Mei 2021).
Diperlukan upaya untuk membangun ekosistem publikasi, ekosistem kerja sama atau kolaborasi dan ekosistem program pembelajaran berbasis konvergensi tri dharma Perguruan Tinggi. Di PTKIN diperlukan beberapa hal, yaitu pertama, Ekosistem publikasi bisa dilakukan dengan upaya untuk memperbanyak penelitian berkualitas. Misalnya ada model penelitian guru besar non kompetitif tetapi melalui penyaringan yang ketat (terdapat tim ekselen sebagai reviewer) dengan pemihakan anggaran sesuai dengan kapasitas agar bermanfaat untuk konsorsium ilmu dan pembimbingan penelitian untuk para calon doctor. Kemudian terdapat penelitian kompetitif untuk para dosen berbasis pada ARKAN 2019-2028, dan penelitian kebijakan PT yang dialokasikan pada dana PNBP institusi. Melalui penelitian tersebut, maka kemudian diarahkan agar bisa terpublikasi menjadi buku dan diekstrak menjadi artikel untuk publikasi di jurnal apapun statusnya.
Kedua, Hal ini dilakukan dalam kerangka untuk mengembangkan konvergensi Tri Darma PT, yaitu untuk kepentingan pembelajaran sebagaimana yang dilakukan oleh UNESA dengan konsep “ajar, teliti, abdi”, kemudian “teliti, abdi, ajar”, atau “abdi, ajar, teliti”. Perlu dirumuskan satu konsep yang seragam untuk seluruh PTKIN dalam konteks konvergensi tri darma perguruan tinggi.
Ketiga, Mengembangkan ekosistem kerja sama atau kolaborasi melalui keaktifan PTKIN untuk mengembangkan jejaring. Dimulai dari kerja sama antar PT, antar institusi dan kemudian jejaring internasional. Jejaring internasional diperlukan untuk penguatan akreditasi, selain hal-hal lain yang harus dipenuhi. Kerja sama antar universitas di luar negeri tentu bisa dilakukan, misalnya untuk studi-studi keislaman dengan PT di Timur tengah melalui kerja sama aktif. Bukan kerja sama dalam kertas. Sedangkan untuk studi umum tentu dapat bekerja sama dengan PT di Asia atau lainnya. Kerja sama bisa dilakukan dalam program pembelajaran, misalnya proses pembelajaran, riset dan pengabdian masyarakat. Di masa lalu, pemerintah Kanada dan Australia aktif menyelenggarakan kerja sama di bidang pembelajaran dan pengabdian masyarakat.
Tiga konsep ini harus dilakukan secara simultan sebagai langkah percepatan, sebagaimana yang saya nyatakan sebagai kerja exstra ordinary. Melalui cara-cara seperti ini kiranya kita bisa “membuntuti” PT yang sudah maju di tengah persaingan yang semakin ketat di era yang akan datang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

