Perguruan Tinggi Luar Negeri di Indonesia: PTKIN dan Tantangan ke Depan
OpiniGenderang kompetisi dan pertarungan bagi Perguruan Tinggi (PT) sudah ditabuh. Sesuai dengan Undang-Undang No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka perguruan tinggi dari luar negeri dapat membuka cabangnya di Indonesia melalui persetujuan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi. Artinya, bahwa perguruan-perguruan tinggi di luar negeri yang telah memiliki reputasi internasional, tentunya dapat membuka cabangnya di Indonesia.
Dibanding dengan beberapa negara lain, misalnya China dan India, maka Indonesia tergolong lebih lambat dalam memberikan akses PT luar negeri untuk beroperasi di Indonesia. Keuka College di Amerika Utara telah melakukan kerja sama untuk membuka cabangnya di China dan India. Cabang ini dipimpin oleh Dekan, yang secara operasional menjalankan PT dimaksud di luar negeri.
Tantangan PTKI tersebut adalah kehadiran PT luar negeri. Dewasa ini, sekurang-kurangnya telah terdapat enam PT luar negeri yang beroperasi di Indonesia. PT tersebut adalah Deakin College-University Australia. PT ini masuk peringkat 42 Universitas muda terbaik. Telah masuk dalam peringkat lima terbaik untuk riset pendidikan, top 100 untuk ilmu social dan 5% sekolah bisnis dunia. Kemudian Lasalle College Kanada. PT ini mendidik mahasiswa untuk dunia kerja dan memiliki koneksi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) internasional. Lalu, Monash University Australia. Kampus ini menjadi bagian dari delapan universitas terkemuka di dunia dan yang keren, bahwa alumninya menjadi CEO dari 500 perusahaan ternama di dunia. Berikutnya, Raffles Design Institute Singapura. PT ini focus dalam program desain dan diakui oleh dunia sebagai lembaga pendidikan desain terhebat di dunia. Juga berdiri Deakin University Lancaster, Australia dan UK. Keduanya akan membangun kampus di Bandung. Dengan reputasi risetnya yang sangat terkenal, tentu akan menjadi daya tarik bagi mahasiswa Indonesia.
Tantangan PTKI berikutnya adalah semakin besarnya penerimaan mahasiswa baru PTN-BH. Tantangan dari dalam negeri juga tidak kalah menarik untuk dicermati. Sedang tumbuh dengan perkembangan yang cepat adalah PT yang membuka program studi agama. Misalnya Universitas Terbuka (UT) yang sudah membuka kelas-kelas di setiap kabupaten di Indonesia. Tidak hanya program studi umum tetapi juga program studi agama, seperti Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Prodi Ekonomi Syariah (ES). Dua prodi ini memang menjadi prodi yang banyak diminati di PTKI. Bahkan juga PTU-PTU dalam PTN-BH yang membuka prodi ilmu agama, terkhusus prodi PAI. Prodi-prodi PAI dan ES yang dibuka di UT menawarkan kemudahan dalam mengakses pendidikan tinggi, sebab menggunakan system pembelajaran Jarak Jauh atau distance learning. Sangat fleksibel. Tetapi yang sungguh patut dicermati bahwa banyak mahasiswa masuk prodi agama (PAI) di PTN-BH. Ini sebuah fenomena menarik, sebab selama ini PAI dan juga ES itu identic dengan PTKI di Indonesia.
Hal yang tidak kalah menarik, juga tantangan jumlah mahasiswa baru yang diterima di PTN-BH, misalnya UNESA yang menerima mahasiswa baru sebanyak 21.020 untuk jenjang pendidikan diploma, sarjana, strata dua dan strata tiga. UI Jakarta menerima total mahasiswa baru sebanyak 10.900 terdiri dari program diploma, sarjana, strata dua dan strata tiga. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jumlah mahasiswa baru mencapai angka 10.181 untuk program sarjana, strata dua dan strata tiga. UIN Sunan Ampel menerima mahasiswa sebanyak 6.072 orang. Kebanyakan PTS mengeluh sebab rendahnya penerimaan mahasiswa baru. Apalagi PTKIS tentu sangat menurun penerimaan mahasiswa barunya.
Di Tengah arus semakin menguatnya persaingan atau kompetisi PT dimaksud, maka ada beberapa hal yang kiranya perlu mendapatkan perhatian, yaitu:
Pertama, memperkuat kualitas PTKI baik secara institusional maupun akademis. Secara kelembagaan sesungguhnya beberapa PTKIN sudah terakreditasi unggul, artinya antara UIN dan UI sudah memiliki kesetaraan. Antara UINSA dengan UNESA juga sudah setara, sebab keduanya sudah memiliki AIPT yang sama, unggul. Yang membedakannya adalah status kelembagaannya. UNESA dapat menerima mahasiswa yang sangat besar karena memiliki beberapa kampus, termasuk kampus di daerah dan juga dapat membuka berbagai prodi dengan sendirinya karena status PTN-BH. Sementara UINSA atau kampus PTKIN lainnya tidak seheboh itu karena statusnya sebagai PK-BLU.
Kedua, Kementerian Agama telah memiliki Asta Protas atau Delapan Program Prioritas dan salah satu di antara yang mendasar adalah upaya untuk menghadirkan pendidikan unggul, ramah dan terintegrasi. Sebagai sasaran strategisnya di bidang pendidikan adalah pemerataan akses pendidikan, meningkatnya hasil belajar pendidikan anak usia dini, dasar dan menengah, meningkatnya pemerataan pendidikan dan tenaga kependidikan berkualitas, menguatnya pendidikan tinggi berkualitas dan meningkatnya kualitas tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel. Isu pentingnya adalah perluasan akses pendidikan, baik dasar, menengah dan tinggi, isu peningkatan kualitas pendidikan, dan meningkatnya kualitas layanan pendidikan.
Ketiga, isu strategis pendidikan ini yang semestinya dijadikan sebagai pijakan dalam merumuskan kebijakan pendidikan khususnya menghadapi tantangan kehadiran pendidikan tinggi asing dan juga semakin merebaknya penerimaan mahasiswa dari PTN-BH yang tidak terkendali. Jawabannya hanya peningkatan kualitas pendidikan. PTKIN tentu tidak bisa bersaing dengan PTN-BH dalam penerimaan mahasiswa baru. PTKIN tetap harus menjaga rasio pembelajaran, perbandingan antara dosen dan mahasiswa, ruang pembelajaran dan kapasitas pembelajaran. Untuk mempertahankan kualitas PTKIN tentu harus terus berupaya untuk mempertahankan akreditasi unggul yang didapatkan sambil terus berbenah diri untuk memasuki WCU. Akreditasi harus unggul baik AIPT maupun prodi dan kemudian bergerak menuju pengakuan internasional. Renstra PTKIN harus jelas menuju arah menjadi PTKIN yang unggul dan kompetitif, selain ramah dan terintegrasi. Integrasi keilmuan, integrasi tridarma PT, dan integrasi pelayanan. Di antara ciri khas pendidikan tinggi di Indonesia adalah bagaimana mengintegrasikan antara pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Keempat, isu yang dibawa oleh pendidikan tinggi luar negeri di Indonesia adalah isu kualitas pendidikan, jejaring internasional dan persiapan tenaga kerja untuk memasuki dunia usaha dan dunia industry (DUDI). Oleh karena itu PTKIN harus memasuki ruang yang tidak dijadikan sebagai distingsi dan ekselensi PT luar negeri di Indonesia, misalnya jejaring pengabdian masyarakat, jejaring riset institusional dan pendidikan berbasis digital yang seimbang antara konteks kearifan local dan global.
Dengan demikian, penguatan atas soft skilled menjadi sasaran utama dalam program pembelajaran. Kurikulum untuk hard skilled harus direkonstruksi sesuai dengan tuntutan zaman, dan juga penguatan soft skilled melalui keahlian yang jelas. Setiap lulusan PTKIN harus menyajikan keahlian soft skilled yang dapat menjadi penyambung bagi peningkatan kualitas kehidupan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

