(Sumber : Gramedia)

Integrasi Sains dan Agama: Antropologi Transendental

Kelas Sosiologi

Kajian antropologi pada awalnya dilakukan oleh Orang Eropa di dalam perjalanannya ke negara-negara di Timur, misalnya di Turki, Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur dan kepuluan Polinesia dan Amerika Latin. Dari perjalanan tersebut, kemudian dicatat dan dibukukan, sehingga menghasilkan catatan perjalanan, dan di dalam perkembangan berikutnya menghasilkan satu ilmu yang dikenal sebagai antropologi. Sebuah ilmu baru yang kemudian berkembang jauh, misalnya mengkaji tentang antropologi fisik, antropologi social dan antropologi budaya.

  

Ilmu ini berkembang dengan berbagai paradigma, metodologi dan teorinya. Bahkan juga cara mendeskripsikan berbasis analisis yang berciri khas, misalnya etnografi, thick description yang di dalam karya Geertz, Islam Jawa  (1981) sedemikian tampak. Deskripsi rinci kemudian mempengaruhi banyak ahli dalam kajian antropologi social dan budaya. Kemudian saya mencoba untuk memberikan alternatif baru dalam deskripsi antropologis, yang saya sebut sebagai thin description atau deskripsi ringan. (Nur Syam, Perjalanan Etnografis lima Benua, (2014) dan Perjalanan Etnografis Spiritual, 2020). 

  

Dari perspektif paradigma, maka diketahui ada lima mazhab, yaitu: Antropologi evolusionisme, yang mengkaji perubahan budaya, antropologi kognitif yang mempelajari relasi antara bahasa, budaya dan kognisi manusia, antropologi fungsional yang mengkaji mengenai fungsi kebudayaan, antropologi structural yang mengkaji kesamaan budaya dalam struktur social kemasyarakatan, dan antropologi interpretif yang mengkaji tentang makna kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. (Nur Syam, Madzhab-Madzhab Antropologi, 2010).

  

Jika kita akan mengkaji tentang budaya Islam dalam perspektif antropologi, maka yang penting dipahami adalah apa yang disebut sebagai budaya. Ada ratusan pengertian mengenai budaya. Tetapi saya ingin memberikan pemahaman yang mendasar saja, bahwa kebudayaan adalah seperangkat pengetahuan yang dijadikan sebagai penginterpretasi di dalam tindakan. Dengan demikian ada tiga  komponen di dalam pengertian ini, yaitu: seperangkat pengetahuan, yang berisi tentang pedoman dan seperangkat pengetahuan tentang pedoman tersebut dijadikan sebagai panduan  untuk melakukan tindakan. Lalu tindakan merupakan wujud actual dari pemahamannya.  Berdasarkan atas hal ini, maka dikenal dua konsep mendasar, yaitu kebudayaan sebagai pattern for behavior dan kebudayaan sebagai pattern of behavior. Jadi kebudayaan sebagai pola bagi tindakan atau sebagai pedoman, dan kebudayaan sebagai pola dari tindakan atau realitas tindakan. 

  

Agama berdasarkan atas pengertian di atas, dapat dipahami sebagai seperangkat pengetahuan tentang ajaran  yang dapat dijadikan sebagai penginterpretasi di dalam tindakan. Jadi, ada seperangkat pengetahuan tentang ajaran agama yang dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam melakukan tindakan. Sama dengan di atas, maka ada pattern for  religious actions atau seperangkat ajaran agama yang dijadikan sebagai pedoman dalam bertindak, dan ada seperangkat tindakan beragama yang dilakukan oleh individu atau masyarakat atau pattern of religious actions. 

  

Semua ini yang akan dijadikan sebagai sasaran kajian di dalam studi budaya keagamaan. Ada yang di dalam corak what is religion atau makna agama bagi kehidupan umat manusia dan ada yang dalam corak what does religion do for other. Ada yang mengkaji pengaruh agama terhadap perilaku umat beragama dan ada yang akan memahami tentang makna agama. Peneliti boleh memilih mana yang dianggap urgent dan menarik untuk dikaji. Bagi yang memiliki kecenderungan atas penelitian kuantitatif dengan analisis statistiknya, maka silahkan memilih sasaran kajian terkait dengan what does religion do for others, dan bagi yang bertalenta untuk mengkaji pemaknaan, maka dapat melakukan penelitian terkait dengan what is religion dalam konteks penelitian kualitatif.

  

Sesungguhnya ada banyak teori yang dapat digunakan dalam perspektif antropologi. Terkait dengan teori perubahan budaya, misalnya dapat digunakan teorinya, misalnya teori difusi budaya, yaitu teori yang dapat digunakan untuk menggambarkan tentang proses penyebaran budaya dari satu wilayah ke wilayah lain. Penyebaran budaya tersebut dapat dilakukan oleh individu atau komunitas yang melakukan interaksi. Teoritikus besar dalam perubahan budaya yang bercorak evolusionisme adalah Edward Burnett Tylor, yang mengungkapkan metode pengkajian budaya melalui pendekatan diakronik dan sinkronik. Pendekatan sinkronik digunakan untuk meneliti perubahan budaya melalui perbandingan di masa lalu dan masa sekarang. Sedangkan dalam pendekatan diakronik, maka perubahan budaya dilihat di masa sekarang berdasarkan atas kesaksian para pelakunya. (Nur Syam, Madzhab-Madzhab Antropologi, 2010).

   

Selain itu juga didapati misalnya Marshal Sahlin yang mengkaji tentang perubahan budaya dalam relasi antara struktur social dan perubahan budaya. Struktur social memiliki kontribusi dalam perubahan budaya, misalnya struktur birokrasi mempengaruhi terhadap perubahan budaya. Birokrasi di zaman Orde Baru berbeda dengan birokrasi di zaman Reformasi dalam tradisi kebirokrasian. Korupsi di zaman Orde baru berbeda dengan korupsi di zaman reformasi dalam tradisi korupsi, yaitu tradisi korupsi berjamaah.

  

Dari perspektif teori simbolik interpretif, maka ada beberapa teori yang dapat dicabar sebagaimana diungkapkan Clifford Geertz. Teori ini berupaya untuk mempelajari makna kebudayaan dalam suatu komunitas atau masyarakat. Melalui simbol-simbol yang diobservasi secara terlibat dan wawancara mendalam, maka simbol-simbol tersebut dapat dimaknai. (Clifford Geertz, The Javanese Religion, 1981). Di dalam agama Jawa dikenal ada tiga tipologi budaya Jawa dalam kaitannya dengan penggolongan social, yaitu Abangan, Santri dan Priyayi. Pusat ritual terdapat pada slametan. 

  

Di dalam karya Nur Syam, Islam Pesisir (2005) juga dapat dikategorikan sebagai bagian dari teori simbolik interpretive. Karya yang berasal dari disertasi ini menjadikan tradisi Islam local Pesisiran sebagai subyek kajiannya dan menggunakan teori kontruksi social Peter Berger dan Thomas Luckman. Jadi termasuk dalam cabang kajian sosiologi budaya. Konsep yang ditemukan dalam jajaran labeling atas keberagamaan Masyarakat Jawa adalah Islam Kolaboratif, yaitu pemahaman dan tindakan beragama Islam hasil kolaborasi antara wong abangan, wong Muhammadiyah dan wong NU dalam medan budaya masjid, sumur dan makam sehingga membentuk Islam berciri khas yaitu Islam dalam tradisi local. 

  

Kemudian teori antropologi fungsional, yang mempelajari tentang fungsi dan peran kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan dalam suatu masyarakat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dimaksud. Ada banyak tokoh di dalam konteks teori ini, akan tetapi ada beberapa yang sangat fenomenal misalnya Branislaw Malinowski yang mengkaji mengenai peran kebudayaan dalam masyarakat di Trobrian Inggris. Yang dikaji terkait dengan fungsi magi dalam masyarakat, dengan proposisi jika dalam batas akal masyarakat tidak dapat menyelesaikan persoalan hidupnya, maka mereka akan mengambil jalan magi untuk menuntaskannya. (Nur Syam, Madzhab-Madzhab Antropologi, 2010). 

   

Lalu juga A.R. Radcliffe Brown yang mengkaji tentang  teori structural fungsional dalam kebudayaan. Teori ini dapat digunakan untuk membaca mengenai bagaimana struktur social dalam suatu masyarakat dapat ditentukan oleh kebudayaannya. Kebudayaan memiliki sejumlah kontribusi di dalam struktur social. Misalnya tradisi cium tangan kyai dan meneguhkan strata social pada suatu pesantren. Nilai-nilai kebudayaan di dalam pesantren menentukan atas penguatan struktur kekyaian pada pesantren.

  

Jika dianalisis sedikit saja tentu akan menggambarkan bagaimana nilai-nilai kepesantrenan memiliki relevansi dengan struktur atau hirarkhi kekyaian dan juga relasi social yang terjadi pada suatu pondok pesantren. Jadi integrasinya adalah budaya Islam dengan struktur social di dalam suatu wilayah tertentu. Kemudian, misalnya makna kyai dalam perubahan social, maka kyai sebagai pimpinan pesantren tentu merupakan bagian dari studi  keislaman, kemudian perubahan budaya merupakan bagian dari kajian antropologi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.