Perjalanan Umrah: Menjaga Haramain (Bagian Kedua Belas-Terakhir)
OpiniAda banyak orang yang bertanya-tanya: “kenapa Arab Saudi tidak memasuki kawah candradimuka perang Timur Tengah melawan Israel demi membela Palestina”? Atau pertanyaan: “andainya Arab Saudi terlibat perang di dalam perang Timur Tengah antara Palestina dan Israel, maka Israel akan kalah dan Palestina akan menang dan perang akan segera berakhir”? Jawabannya: “nanti dulu”. Tidak mudah menjawab hal ini.
Tetapi saya berusaha untuk memahami mengapa Arab Saudi tidak berkeinginan terlibat di dalam peperangan antara Israel dan Palestina dan apa yang menjadi dasarnya kenapa hal tersebut tidak dilakukannya. Bukan karena takut terhadap Israel yang didukung oleh negara-negara Barat, khususnya Inggris dan Amerika, bukan pula takut tidak mendapatkan dukungan dari dunia Islam, akan tetapi Arab Saudi harus menyelamatkan asset terbesar umat Islam, yaitu Kota Mekah dan Madinah, yang menjadi situs penting dalam masyarakat Islam.
Kota Mekkah harus diselamatkan dari serangan negara lain, termasuk Israel. Demikian pula Madinah juga harus diselamatkan dari serangan negara lain, termasuk negara-negara Barat. Dua kota ini harus menjadi kota yang aman dan damai. Kota yang menjadi tempat bagi peribadatan umat Islam dan pusat ritual umat Islam. Bisa kita bayangkan kota dengan pendatang, para jamaah Haji dan Umrah, dalam jumlah jutaan lalu terlibat di dalam perang yang selalu bermakna penghancuran.
Jika kita baca perang antara Israel dan Palestina, maka yang ada hanya kehancuran. Pemenang juga akan hancur apalagi yang kalah. Bisa jadi Arab Saudi akan menang karena infrastruktur perangnya lebih hebat atau banyak, akan tetapi siapa yang bisa menjaga akan kelestarian bangunan megah berupa Masjid Nabawi dan Masjidil Haram beserta seluruh insfrastruktur pendukungnya. Ada hotel-hotel sebagai sarana akomodasi jamaah haji dan umrah dan juga mall-mall dan tempat perbelanjaan lainnya yang mendukung atas terselenggaranya ibadah haji dan umrah.
Dari pengalaman melaksanakan umrah awal tahun 2025 itulah akhirnya saya pada kesimpukan bahwa Saudi Arabia memang tidak boleh terlibat di dalam peperangan negara-negara tetangganya. Perang Irak dengan Amerika, Perang Iran dan Irak, perang Israel dan Palestina dan sebagainya. Iran bisa terlibat, Uni Emirat Arab, dan Irak boleh terlibat tetapi Arab Saudi harus berhitung sangat teliti atas hal tersebut. Pilihan tidak terlibat di dalam perang adalah pilihan rasional dalam konflik Timur Tengah.
Melihat jumlah jamaah umrah yang berada di kota Mekah sedemikian banyak mencapai angka dua jutaan, dan jamaah umrah yang berziarah ke Kota Madinah untuk berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW dan shalat wajib di Masjid Nabawi, maka kita harus membenarkan pilihan rasional pemerintah Arab Saudi atas hal ini. Sebagai penjaga haramain, maka dua tempat suci tersebut harus aman dari gangguan negara lain. Saudi harus damai sebagai bentuk pertanggung jawaban atas keamanan dua tanah haram.
Bergetar hati kita saat melihat jumlah jamaah umrah yang sedemikian membanjiri Makkah Al Mukarramah dan Madinatun Nabi. Ada rasa di dalam batin kita bahwa mereka semua adalah orang-orang yang ikhlas untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah orang yang ingin datang ke Arab Saudi dalam kedamaian. Mereka adalah orang yang ingin mengabdikan diri kepada Allah melalui upacara ritual haji, umrah dan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ratusan ribu orang yang mengelilingi Ka’bah dengan satu tujuan mengabdikan diri kepada Allah SWT. Jutaan orang yang shalat di masjid dan pelataran Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, yang semuanya harus berada di dalam kedamaian, ketenteraman dan keselamatan.
Bayangkan di kala berkumpul jutaan orang lalu terdapat rudal yang terjatuh di wilayah itu, maka kita tidak membayangkan akan korban yang berjatuhan. Memang terdapat radar dan senjata sebagai penangkal rudal musuh, tetapi tidak dapat dijamin bahwa semua rudal akan dapat ditangkal. Dipastikan ada rudal yang luput dari tangkalan rudal sendiri, sehingga berpeluang meledak di wilayah jamaah yang berada di Masjid atau di halaman Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Akhirnya harus dinyatakan bahwa pilihan untuk tidak terlibat di dalam perang adalah pilihan yang sangat tepat sebagai penjaga rumah Allah di Masjidil Haram dan penjaga makam Nabi di Masjid Nabawi. Sebagai umat Islam tentu kita akan membenarkan atas pilihan ini sebagai konsekuensi atas keterpilihan Pemerintah Arab Saudi di dalam menjaga situs umat Islam. Terlalu mahal harga yang harus terbeli jika pemerintah Arab Saudi memilih perang.
Sebagai umat Islam tentu kita meyakini bahwa Allah akan menjaga dengan kekuasaannya atas situs penting di dua kota ini. Sebagaimana kala Raja Abrahah akan menghancurkan Ka’bah di kota Mekah tempo dulu, maka Allah SWT menurunkan burung Ababil yang membawa kerikil-kerikil dari neraka untuk menghancurkan tentara Abrahah. Kita meyakini Allah akan menjaganya. Akan tetapi tentu juga akan ada campur tangan manusia untuk menjaganya. Dan yang berkewajiban untuk menjaganya adalah umat Islam sendiri melalui washilah pemerintah Arab Saudi.
Cara untuk merealisasikan doa Nabi Ibrahim yang berharap menjadikan kota Mekkah yang aman dan damai, maka diperlukan pilihan yang tepat untuk menjaganya. Dan pilihan itu adalah ketidakterlibatan Arab Saudi atas konflik di Timur Tengah. Sebuah pilihan yang tepat memang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

