(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Perkuat PTKI Impactfull: Harlah ADP IV di UIN Kediri (Bagian Satu)

Opini

Saya tentu saja merasa terhormat diberi peluang oleh Ketua Umum Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP), Prof. Abdurrahman Mas’ud, PhD., untuk bertemu dengan para rector  dan para Profesor  PTKI di UIN Kediri Jawa Timur, 16/05/2025. Sungguh acara yang luar biasa sebab dihadiri oleh para pejabat Kemenag, Prof. Sahiron, Dirdiktis, dan jajarannya, Para Rektor PTKIN dan para Professor dari PTKI dari seluruh Indonesia. Hadir dari Sumatera Utara, Aceh, Palembang, Padang, Palangkaraya, Samarinda, bahkan dari Indonesia Timur. Tentu saja hadir para Rektor dan Guru Besar PMII dari PTKIN di Jawa. Jajaran Pengurus Pusat ADP dan daerah juga hadir. Saya terkesan. Acara yang penuh dengan gelak tawa. Yang serius pun bisa dijadikan bahan lelucon. Era post truth.

  

Ada empat pembicara yang dihadirkan oleh ADP dalam kerja sama dengan Kemenag dan UIN Kediri. Prof. Sahiron, Dirdiktis, Prof. Abdurahman Mas’ud, PhD., Ketua Umum ADP, Prof. Dr. Ida Umami, Rektor UIN Metro dan saya. Sementara itu Rektor UIN Kediri, Prof. Wahidul Anam sebagai moderator. Saya berani menyatakan sebagai UIN sebab Surat Keputusan Transformasi dari 10 IAIN Ke UIN sudah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto, dan tinggal menyampaikan kepada para Rektor. 

  

Kita tentu bersyukur sebab nyaris seluruh IAIN sudah berubah menjadi UIN. Saya kira hal ini adalah berkah dari relasi antara negara, institusi pendidikan Islam dan Masyarakat yang sangat baik. Sekarang  sudah merupakan era simbiosis mutualisme dan bukan lagi nuansa antagonistic apalagi konflik. Pemerintah, Pendidikan Islam dan Masyarakat Islam sudah menjadi satu kesatuan yang sistemik. Di masa lalu pernah ada kecurigaan dan kekhawatiran pemerintah atas menguatnya peran Masyarakat Islam termasuk dengan pendidikannya, sedangkan sekarang bahkan Masyarakat Islam, Pendidikan Islam dan Pesantren bahkan didorong untuk maju. Ada rekognisi, fasilitasi dan akselerasi.

  

Saya menyampaikan dua  hal di dalam artikel ini berbasis pada pertemuan yang sangat prestisius, yaitu: pertama, saya mengkritisi atas Mars PMII yang saya kira sudah saatnya  untuk direkonstruksi. Diubahlah. Tidak secara keseluruhan karena liriknya sudah sangat bagus. Akan tetapi hanya satu bait  saja yang perlu diganti ialah “tangan terkepal dan maju ke muka”. Saya kira perlu diubah menjadi “tangan terbuka dan maju ke muka”. Tentu saja ada filosofinya, bahwa sekarang eranya sudah berubah. Era komunikasi dan kolaborasi. Era kerja sama dalam kesetaraan. Maka tangan harus “terbuka” untuk melambangkan kesiapan warga PMII untuk menerima inovasi baru dan kolaborasi dengan berbagai segmen masyarakat. Sedangkan tangan terkepal itu melambangkan masa perjuangan yang harus menggunakan otot dan bukan rasionalitas. Selain juga tangan terkepal itu melambangkan sebuah kompetisi yang tertutup. Saya kira era sekarang sudah tidak lagi menggambarkan hal tersebut. ADP, PBPMII dan IKA PMII perlu duduk bersama untuk merealisasikan gagasan ini. 

  

Kedua, tantangan para pejabat di Ditjen Pendidikan Islam, Rector dan Guru Besar PMII tentu sangat besar. Di antara tantangan tersebut yang utama adalah menghadapi gelombang pengangguran terdidik atau lulusan PT. Data yang kita dapatkan menggambarkan atas kontribusi prodi dan mahasiswa sosial humaniora dan agama (soshumag), akan kenaikan cepat angka pengangguran dari para sarjana. Data bahwa jumlah prodi dan mahasiswa soshumag lebih besar dibandingkan dengan prodi dan mahasiswa soshumag.  Perbandingan prodi tersebut adalah 43 persen saintek dan 57 persen soshum dan perbandingan prodi dan mahasiswa 33 persen saintek dan 67 persen soshum. Melalui commonsense bahwa lapangan kerja dari alumni soshumag tentu tidak sebanyak lapangan kerja untuk lulusan saintek. Percepatan kenaikan pengangguran terdidik di antaranya tentu dapat dikaitkan dengan besaran jumlah prodi dan mahasiswa soshumag, yang memang besar jumlahnya  dibandingkan dengan peluang kerja yang tersedia.  Di sinilah tantangan pimpinan PTKIN dalam membangun kerja sama kelembagaan dengan dunia usaha dan dunia industry (DUDI) dan kerja sama kelembagaan formal dan non formal dalam merealisasikan visi penguatan lulusan dan peluang bekerja. 

  

Gagasan tentang Outcome Based Education (OBE) tentu sangat baik. Yaitu untuk penguatan pada focus hasil belajar, peningkatan kualitas keterampilan dan kerja sama atau kolaborasi. Dalam konsep sudah baik tetapi problemnya adalah menerjemahkan OBE di dalam realitas empiris sesuai dengan kekhasan masing-masing PT. UIN  sudah bertebaran di mana-mana dengan mandat utamanya adalah pengembangan Islamic studies dan ilmu pendukungnya. Ilmu social, humaniora, sains dan teknologi, serta ilmu formal dan terapan. Pengembangan kolaborasi dan penguatan lulusan tentu dimaksudkan agar lulusan PTKI bisa terserap oleh dunia pasar kerja. Bolehlah hard skilled-nya ilmu agama tetapi harus memiliki kemampuan soft skilled yang mendukung DUDI dan pasar kerja nasional dan internasional, baik di bidang agama maupun bidang keahlian lainnya. Setiap pimpinan PTKI harus memiliki tim “kasak kusuk” utuk mendesain tentang penguatan lulusan dalam mekanisme kerja sama dimaksud. 

  

Dipastikan bahwa Ditjen Pendis sudah memiliki desain tentative mengenai bagaimana harus mengembangkan kemampuan lulusan, tidak hanya relevan antara program studi, mata kuliah dan RPS dan alat ukur evaluasi, akan tetapi merupakan desain yang relevan untuk memberikan bekal kepada lulusan tentang apa yang akan dan dapat dilakukannya di tengah kompetisi kehidupan yang semakin ketat. Diperlukan rekonstruksi atas  kurikulum agar relevan dengan tuntutan pekerjaan baik yang linear maupun unlinear. Di sinilah juga diperlukan pengabsahan soft skilled yang mendukung atas terwujudnya gagasan membangun keterampilan dalam berbagai variasinya.   PTKIN sudah memiliki Surat Keterangan Pendamping ijazah (SKPI) yang dirasakan perlu juga untuk direkonstruksi sesuai dengan kebutuhan kehidupan. 

  

Menjadi Rektor di era sekarang tentu tidak mudah. Di satu sisi dituntut untuk memenuhi standarisasi internasional dalam berbagai Lembaga Pemeringkatan Internasional dan juga memenuhi standart administrasi dan implementasi atas rekognisi nasional atau akreditasi yang juga dirasa sangat penting. Akan tetapi juga tidak salah jika kemudian dipertanyakan apakah relevansi antara akreditasi dengan kualitas lulusan yang dapat mengakses kehidupan.

  

Rasanya, para pimpinan PTKIN tidak harus bangga dengan peringkat internasional dan  jumlah mahasiswa yang besar di  PT-nya.   Jumlah  mahasiswa yang besar memang  akan menghasilkan generate income yang besar, tetapi yang jauh lebih mendasar adalah apakah para lulusannya  akan terserap di dalam kehidupan riil masyarakat yang memerlukannya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.