Perlu Sinergi dengan Dunia Usaha untuk Atasi Stunting
Opini“Orang yang sedang lapar jangan diceramahi. Orang yang yang sedang kekurangan gizi jangan diceramahi tentang menjaga kesehatan”. Inilah yang saya nyatakan di dalam acara Halaqah Nasional dalam Pelibatan Penyuluh Agama, Da’i dan Da’iyah untuk Percepatan Penurunan Stunting di Istana Wakil Presiden RI, Kamis, 6 Oktober 2022.
Acara ini diselenggarakan atas kerja sama Sekretariat Wakil Presiden RI, Kementerian Agama dan BKKBN dan dihadiri oleh Wakil Presiden, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, dan sejumlah Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi, dan sejumlah Penyuluh Agama. Selain itu juga diikuti oleh seluruh Penyuluh Agama melalui system daring. Sebagai narasumber di dalam halaqah adalah Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP (Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Setwapres), Dr. Maria Endang S., M.PH, (Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes), Prof. Dr. Kamaruddin Amin (Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag), Prof. Dr. Nur Syam, MSi (Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel), Dr. KH. Cholil Nafis, MA (MUI Pusat) dan moderator Abdul Muis (Asdep Penanggulangan Kemiskinan Setwapres).
Acara dimulai dengan sambutan Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, yang menyatakan bahwa tugas untuk menanggulangi stunting tidak hanya pada BKKBN, dan Kementerian Agama akan tetapi juga seluruh kementerian/Lembaga yang terkait. Tentu termasuk pemerintah daerah. Apalagi di dalam strategi nasional yang salah satu pilarnya adalah komunikasi dan sosialisasi stunting kepada masyarakat. BKKBN sudah bekerja sama dengan Kementerian Agama dalam rangka untuk membekali para calon pengantin agar mereka memahami tentang kesehatan keluarga, termasuk masalah menjaga agar tidak memiliki keturunan stunting.
Menteri Agama selanjutnya menyatakan bahwa Allah menyukai seorang mukmin yang kuat dibandingkan dengan orang mukmin yang lemah. Maknanya bahwa menjadi orang Islam atau orang beriman yang kuat merupakan bagian ajaran Islam. Orang mukmin yang kuat ditandai dengan fisiknya yang sehat dan jiwanya yang sehat. Fisik yang sehat diindikatori dengan ketercukupan gizi. Makanya stunting harus dieliminasi karena stunting merupakan bagian dari kegagalan masyarakat untuk menjaga kualitas gizinya.
Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden, menyatakan bahwa para ulama Islam sudah 100 tahun yang lalu berpikir tentang pentingnya pemenuhan gizi keluarga. Terutama anak usia balita. Anak usia balita harus memperoleh asupan gizi yang cukup. Terutama masa 1000 hari pasca kelahirannya. Air susu ibu itu penting bagi anak-anak yang baru lahir. Air susu ibu merupakan sumber gizi utama bagi seorang bayi yang belum memperoleh asupan gizi lainnya. Pada usia 0 sampai enam bulan maka bayi harus memperoleh air susu eksklusif. Hal ini didasarkan pada Surat Al Baqarah, ayat 233, yang intinya bahwa seharusnya ibu-ibu menyusui anak bayinya selama dua tahun penuh.
Dr. Suprayoga Hadi menyatakan bahwa secara konseptual pemerintah sudah memiliki regulasi dan kebijakan yang terkait dengan penurunan angka stunting. Sementara itu sudah terdapat kerja sama antar kementerian dan Lembaga termasuk juga pemerintah daerah. Di antaranya adalah kerja sama antara BKKBN dan Kemenag. Kerja sama itu harus semakin kuat karena tuntutan untuk menyelesaikan penurunan angka stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024. Masa akhir pemerintahan Pak Jokowi harus terkejar angka dimaksud. Sementara itu, Dr. Maria Eka S., menguraikan mengenai bagaimana peran keluarga dalam perbaikan gizi keluarga. Lalu bagaimana untuk memenuhi kebutuhan gizi untuk kesehatan. Stunting dapat ditanggulangi dengan perbaikan gizi keluarga.
Di dalam kesempatan ini, saya menyampaikan beberapa hal yang saya rasa sangat penting yaitu: perlunya kerjasama antara tokoh agama/ulama yang memiliki otoritas secara formal atas ajaran agama dengan para penyuluh agama. Sebagai penafsir agama para ulama dapat didayagunakan untuk memberikan justifikasi atas kesahihan upaya untuk pencegahan dan penurunan angka stunting, melalui penyusunan fikih kesehatan, fikih gizi, dan fikih stunting.
Sinergi kemenag (SDM/ASN) dan tokoh agama/ulama/aktivis organisasi keagamaan dapat dilakukan untuk mengampanyekan gerakan pencegahan dan penurunan angka stunting. Jika secara teologis dan fiqih bahwa stunting bukan takdir dan dapat diupayakan perbaikannya, maka diperlukan perumusan program kebersamaan dimaksud. Makanya, diperlukan perencanaan yang matang dan akurat atau tepat sasaran untuk upaya pencegahan stunting.
Agar kampanye atau komunikasi dakwah dalam kerangka menurunkan angka stunting dapat dicapai dengan baik, maka tugas dan fungsi penyuluh agama dapat disinergikan dengan para da’i yang memiliki fungsi penyebar agama dalam kehidupan masyarakat. Para da’i, da’iyah dan penyuluh agama memiliki kesamaan tugas dan fungsi, maka mereka bisa saling menyapa dalam program kebersamaan untuk menanggulangi dan mengurangi stunting. Jika di antara mereka bisa saling bersinergi, maka diyakinkan bahwa penurunan angka stunting sesuai dengan ancangan pemerintah sebesar 14 persen untuk tahun 2024 akan bisa dicapai.
Yang tidak kalah mendasar adalah kerja sama dengan dunia usaha. Para pengusaha dan pengelola philantropi seharusnya memiliki kepedulian dalam problem ekonomi keluarga, terutama masalah stunting. Ada banyak skema yang bisa dilakukan, misalnya melalui skema zakat, infaq dan shadaqah. Kemudian juga wakaf uang atau cash waqf. Perusahaan seharusnya terlibat untuk memberikan donasinya bagi kepentingan program pemerintah yang penting ini. Di antara yang bisa dikerjasamakan adalah: perbaikan gizi keluarga (intervensi gizi), pemenuhan jaminan kesehatan (pola hidup sehat), perbaikan gizi ibu hamil, perbaikan gizi ibu hamil dan anak-anak, perbaikan gizi remaja dan sebagainya.
Sementara itu Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam menyatakan bahwa Kemenag memiliki 50.000 penyuluh agama yang terkonek langsung dengan Kemenag Pusat. Mereka diangkat oleh Kemenag dan bertugas sebagai garda depan kemenag dalam melaksanakan sebagian tugas-tugas kemenag. Mereka telah terkonek dengan elektronik Penyuluh Agama, sehingga apa yang telah digariskan dan direncanakan oleh Ditjen Bimas Islam akan dengan mudah dapat dilaksanakan oleh para penyuluh agama. Meskipun honornya hanya Rp1.000.000 perbulan, akan tetapi pekerjaan mereka sungguh sangat padat. Ada sekurang-kurangnya 12 tugas dan fungsi yang diemban oleh Penyuluh agama. Mulai dari peningkatan pemahaman agama sampai stunting. Selain itu Kemenag juga sudah mensertifikasi terhadap sejumlah 10.200 mubaligh. Mereka telah dibekali dengan program moderasi beragama dan juga masalah-masalah social keagamaan.
Dr. KH. Cholil Nafis menggambarkan tentang pentingnya membangun keluarga sakinah. Ada banyak factor yang menjadi bagian dari keluarga sakinah, di antaranya adalah keluarga yang sehat. Akar dari keluarga sakinah adalah bagaimana sebuah keluarga dapat menerapkan kehidupan yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan fisik yang berupa gizi yang cukup sehingga bisa menjadi sehat dan juga pemenuhan kebutuhan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan rohaniyah.
Satu catatan penting dari halaqah nasional adalah perlunya dukungan kebijakan pemerintah, kerja sama antar kelembagaan, baik pemerintah dan non pemerintahan serta supporting dana dari kaum bisnis, baik pengusaha maupun aktivitas pilantropi. Hal ini harus dilakukan untuk menjawab tantangan Presiden Jokowi bahwa stunting tahun 2024 harus tinggal 14%.
Wallahu a’lam bi al shawab.

