Tasawuf dan Islam Indonesia: Dinamika, Peranan & Tantangan
HorizonOleh: Fahmi Rizal Mahendra
(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)
Sebagaimana yang sudah dijabarkan oleh beberapa sarjana dan beberapa peneliti sejarah Islam. Tasawuf telah menyebar dan menjadi salah satu instrumen islamisasi di berbagai wilayah Islam. Begitupun di Indonesia, tasawuf juga menjadi salah satu alat islamisasi di Nunsantara. Memiliki latar belakang yang hampir sama dengan wilayah anak benua India, yang memiliki latar belakang agama Hindu, Islamisasi di wilayah Nusantara juga tidak menabrak ajaran-ajaran Hindu atau Buddha sebelumnya. Sehingga, orang Nusantara juga sangat tertarik dengan agama yang baru datang ini.
Berbagai cara dilakukan oleh beberapa wali di Indonesia, misalnya dengan menanamkan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan Hindu sebelumnya, misalnya yang sering kita dengar Sunan Kalijaga dahulu menggunakan instrumen wayang sebagai sarana dakwah yang memasukkan nilai-nilai dan ajaran tasawuf dalam cerita pewayangan tersebut. Lalu juga misalnya, dahulu sebelum menampilkan pentasnya, Sunan Kalijogo mempersilahkan orang menonton wayang secara gratis, dan hanya disuruh untuk membaca kalimosodo atau secara harfiah merupakan kalimat syahadat. Dengan cara tersebut, orang-orang jawa dahulu yang masih menganut dinamisme, animisme atau pemeluk hindu-buddha sudah terislamkan, meskipun belum menjalankan syariat secara sepenuhnya.
Martin Van Buineesen sebagaimana yang dikutp oleh Alwi Shihab menjelaskan, "Sesungguhnya wajah Islam Indonesia bervariasi. Seberapa juah perbedaan tersebut, sebesar itu pula variabel praktik pelaksanaan ajaran agama, namun ciri utama dan warna tersendiri sepanjang sejarah Indonesia sampai kini adalah kecenderungan tasawuf. (Shihab, 2001: 174)".
Perkembangan dan pertumbuhan tarekat di Indonesia berjalan sejalan dengan perkembangannya di wilayah-wilayah Islam. Setiap orang Indonesia yang kembali dari menuntut ilmu di Makkah dapat dipastikan membawa ajaran dari syaikhnya untuk mengajarkan tarekat tertentu di Indonesia. Hamzah Fansuri misalnya, merupakan syaikh dari tarekat Qadiriyah, Nuruddin Al-Rainy merupakan syeikh tarekat Rifaiyah, Abd Rauf Singkel merupakan syaikh tarekat Syattariyah, dan Abdul Samad al-Palembani meruapakn syaikh tarekat Sammaniyah dan mengarang kitab khusus untuk menjelaskan kadiah dan syarat-syarat untuk menjadi pengikut Sammaniyah.
Dalam banyak penelitian, ditemukan banyak tarekat yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, antara lain: Khalwatiyah, Syattariyah, Qadiriyah, Alawiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, Idrisiyah, Sanusiyah, Tijaniyah, Adirusiyah dan Naqsyabandiyah. Naqsyabandiyah merupakan yang terbesar dengan beberapa cabangnya seperti Naqsyabandiyah Madzhariyah, Naqsyabandiyah, dan Qadiriyah Naqsyabandiyah yang biasanya disingkat dengan TQN. Qadiriyah-Naqsyabandiyah merupakan dua gabungan dari dua tarekat yang dilakukan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas di Makkah pada 1875 M. Dia kemudian yang berjasa dalam meperkenalkan tarekat ini di Indonesia dan Melayu hingga wafat. Di Makkah dia menjadi guru bagi sebagian besar ulama Indonesia modern dan mendapatkan ijazah. Sekembalinya ke Indonesia mereka memimpin tarekat dan mengajarkannya sehingga tarekat ini tersebar di seluruh Indonesia, di antaranya adalah Syaikh Nawai al-Bantani (w. 1887), Syaikh Khalil (w. 1918), Syailh Mahfud Termas (w. 1923) dan Syaikh Muhammad Hasyim Asy\'ari, yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama juga berguru pada Syaikh ini.
Sebagaimana yang disebutkan di atas, bahwa tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah merupakan tarekat terbesar, baik pengikut maupun pengaruhnya di Indonesia. Kekuatan tarekat ini timbul setelah membuktikan kemampuan melakukan pergerakan perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M.
Baca Juga : Para Pengabdi Surga
`Menurut Belanda orang Islam Indonesia dan tarekat Indonesia tidak mempunyai kekuatan yang signifikan karena mereka menganggap bahwa orang Indonesia hanya menjalankan Islam secara normatif, mereka puasa ya sekedar puasa, dan merayakan berbagai hari raya. Namun kenyataanya berbeda, di sejumlah pecah beberapa revolusi yang dimotori oleh beberapa tarekat, terutama tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Di Banten pecah sebuah revolusi petani yang terkenal dengan "jihad akbar" melawan kafir penjajah Belanda. Pemimpin tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah berperan aktif dalam pemberontakan tersebut. Lalu di Sidoarjo pada 1903 pecah revolusi yang dipimpin oleh Syaikh Hassan Mukmin. Dia mengobarkan perang melawan Be;anda. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah juga ditemukan terlibat dalam perang ini, karena pemimpinnya merupakan murid dari Syaikh Hasaan Tafsir seorang khalifah tarekat di Jawa (Shihab, 2001:179).
Dalam konteks modern, pengajaran atau pengamalan tasawuf menjadi terlembagakan. Biasanya para pengamal tasawuf akan mencari guru atau syaikh yang menjadi salah satu mursid dari para tarekat. Mereka berbondong-bondong untuk datang kepada mursid tersebut untuk melantunkan zikir atau ratib secara bersama-sama dan mendengarkan beberapa nasihat dari seorang mursid.
Pengajaran tarekat juga biasanya dilakukan di lembaga pondok pesantren. Misalnya beberapa pondok pesantren tersebut mempunyai zikir atau ratib tarekat yang sudah dibaca secara turun temurun sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Salah satu contoh pondok pesantren yang mengamalkan tasawuf adalah Pondok Suryalaya di Tasikmalaya, Jawa Barat yang mempunyai affiiliasi dengan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Beberapa kitab tasawuf juga diajarkan di pondok pesantren, misalnya salah satu kitab tasawuf yang terkenal adalah Ihya Ulum al-Din karya monumental dari Imam al-Ghazali diajarkan, dan kitabnya yang lainnya Minhajul Abidin juga diajarkan di beberapa pondok pesantren bagi santri yang sudah mencapai tingkatan lanjut.
Pada masa sekarang, pengajaran tasawuf ditekankan pada aspek tentang moderasi, ini sebagai respon untuk Islam yang kaku, literalistik yang mengakibatkan aksi-aksi intoleransi, terorisme yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia. Dengan Islam yang bercorak tasawuf atau esoterik, para pengamal tasawuf mununjukkan bahwa tasawuf bisa menjadi solusi alternatif penafsiran Islam yang kaku atau rigid.
Dengan menekankan salah satu dari aspek sufisme yaitu, cinta, para dai yang bercorak sufistik berusaha melawan narasi-narasi Islam yang bersifat legalistik-formalistik dengan sufistik. Umumnya para dai-dai ini menargetkan anak muda yang sekiranya dikira rentan terhadap faham keagmaan yang eksklusif. Para dai-dai yang bercorak sufistik mendakwahkan Islam yang ramah, penuh kasih dan cinta sehingga bisa dipahami dan rasional oleh beberapa kaum muda Islam.
Salah satunya adalah dengan memasuki salah satu aspek yang menjadi perdebatan tentang hukum musik. Dengan masuk ke wilayah-wilayah yang dianggap haram oleh sebagian orang, misalnya musik yang dianggap haram oleh sebagian orang Islam. Para sufi mencoba untuk membuat \'musik yang halal\' dengan cara memasukkan unsur-unsur agama atau tasawuf, sehngga dakwah Islam atau pesan Islam dapat tersampaikan kepada kaum muda lebih khususnya.

