Pesantren Jarinabi dan Pentingnya Ilmu Ke-Islam-an
InformasiOleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Ada yang sungguh saya kagumi dari pengasuh Pesantren Jarinabi, Dr. KH. Syukron Ma’shum, yaitu beliau masih sangat muda, usia 37 tahun, masih tergolong generasi milenial, akan tetapi Beliau adalah penghafal Alqur’an 30 juz, penulis yang andal, sudah 80 buku yang diterbitkannya, dan memiliki mimpi yang besar untuk mengembangkan Pendidikan, baik Pendidikan tinggi dan Pendidikan agama. Dan yang terpenting Beliau adalah generasi muda ahlu sunnah wal jamaah, yang konsisten dan berkomitmen untuk berada di dalam pemahaman dam pengamalan agama seperti ini.
Baru dua tahun mendirikan pesantren ini dan sekarang santrinya sekitar 500 orang yang datang dari Jambi dan sekitarnya. Sebagai ajang pertemuan antara santri dan orang tuanya, maka setiap Ahad Legi diselenggarakan pengajian umum, dan banyak wali santri yang hadir di dalam acara ini. Sebulan sekali orang tua diperkenankan untuk bertemu putra putrinya. Selain KH. Syukron Ma’shum yang mengisi acara rutin juga sekali waktu mendatangkan penceramah agama dari Jawa atau dari Sumatera. Pada hari Ahad Legi 3 Oktober 2022, saya yang dimintai untuk memberikan ceramah agama.
Sebagaimana biasa, maka saya menyampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, ucapan selamat kepada para orang tua atau wali murid yang sudah mempercayakan Pendidikan bagi anak-anaknya pada pesantren yang prospektif, Pondok Pesantren Jarinabi, Tanjung Jabung Timur, Jambi. Kepercayaan ini penting sebab dengan begitu maka orang tua atau wali santri menganggap bahwa anaknya kelak akan dapat menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa anak yang shaleh yang kelak akan bisa mendoakan orang tuanya adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Amalan yang tidak akan terputus sampai kapanpun meskipun kita telah meninggal adalah anak saleh.
Berbahagialah Bapak dan Ibu semua yang sudah mempercayakan Pendidikan anaknya pada Pendidikan pesantren, yang insyaallah akan bisa menjadi washilah bahwa amalan kita tidak akan pernah terputus selamanya. Selama masih ada anak yang mendoakan orang tuanya, maka meskipun kita di dalam alam barzakh tetapi kita akan tetap bahagia, bisa tersenyum manis karena perilaku anak kita tersebut. Semoga Kyai dan seluruh jajaran pendidik di Pesantren ini diberikan kekuatan untuk mengemban Amanah Allah mendidik anak bangsa untuk kebaikan di dalam agama, nusa dan bangsa.
Kedua, marilah kita bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan kekuatan, kesehatan dan kemampuan untuk bisa terus beribadah dan mengamalkan ajaran agama Islam hingga hari ini. Ada banyak orang yang diberikan kekayaan, kesehatan, kesejahteraan secara ekonomi tetapi tidak mampu bersyukur kepada Allah SWT. Diberi harta yang cukup tetapi tidak memberikan bekal agama kepada anaknya. Mereka ini adalah orang yang merugi kelak di alam barzakh dan juga alam akhirat. Kita semua harus bersyukur diberi hidayah Allah menjadi orang Islam, kita bersyukur kepada Allah diberi petunjuk untuk mempercayakan pendidikan anak-anak kita di pesantren. Saya sungguh berkeyakinan bahwa pesantrenlah yang akan menjadi tempat untuk mencetak anak Indonesia yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Yang bermanfaat bagi masyarakat dan khususnya keluarganya. Subhanallah sungguh luar biasa nikmat Allah kepada kita. Maka marilah terus menerus kita mengucapkan syukur alhamdulillan baik di lesan dan hati kita.
Ketiga, salah satu amalan yang sangat penting adalah membaca shalawat. Tidak diragukan dalilnya tentang pentingnya membaca shalawat. Allah dan seluruh malaikat saja membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan hal yang aneh, jika Allah SWT itu mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW karena Allah sangat menyayanginya. Sama dengan kita jika kita menyanyangi anak kita, maka nama anak itu akan sering kita sebutkan, apa saja yang menjadi keinginannya akan dikabulkan. Demikian juga Allah SWT. Saking sayangnya kepada Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad SAW dipanggilnya untuk bisa bertemu dengan Allah. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang memiliki peluang dan kesempatan bisa bertemu Allah SWT. Malaikat Jibril AS, yang menjadi humasnya Allah SWT, sebagai makhluk yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW tidak diberi kekuasaan oleh Allah SWT untuk menemui-Nya. Tetapi Nabi Muhammad SAW dipanggil langsung, diajak bertemu langsung dan diajari langsung oleh Allah SWT. Pada waktu Rasulullah Muhammad SAW dipanggil oleh Allah SWT pada peristiwa Mi’raj, maka Malaikat Jibril hanya bisa sampai di Sidratul Muntaha, dan Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan untuk memenuhi undangan Allah SWT. Subhanallah. Betapa mulianya Nabi Kita Muhammad SAW. “Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”.
Oleh karena itu, mari jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai washilah kita untuk berbuat kebaikan, menjadi washilah kita agar kita selamat di dalam kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun kehidupan di dalam alam akhirat. Mari kita terus lantunkan membaca shalawat berapapun jumlahnya. Allah SWT melipatgandakan pahala bacaan Shalawat kita. Jika kita baca satu shalawat akan dilipatgandakan menjadi 10, jika kita membaca 100 kali akan dilipatkan 10 kali. Ya Allah berikan kekuatan untuk kami bisa mendawamkan membaca shalawat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

