Para Pengabdi Surga
OpiniKali ini saya memang tidak khutbah Salat Idul Fitri, sebab ada kesalahan membaca jadwal. Padahal naskah khutbah sudah disiapkan. Tetapi ini adalah kehendak Allah SWT. Memang saya harus menjadi makmum dalam shalat idul fitri tahun 1446 H atau 2025 Masehi. Hari raya ini juga “ketepatan” dilakukan bareng antara NU, Muhammadiyah dan Pemerintah. Itu semata-mata kebaikan hilal, sehingga awal puasa dan mengakhiri puasa bisa bersama-sama. Senang juga.
Saya diajak anak-anak dan cucu-cucu saya untuk shalat jamaah Idul Fitri di Masjid Al Akbar. Saya langsung iya saja. Sudah sangat lama saya tidak shalat jamaah, khususnya shalat idul fitri atau idul adha di masjid nasional ini. Tahun 2011, rasanya saya pernah khutbah di masjid ini. Waktu itu masih di IAIN Sunan Ampel dan belum menjadi UIN Sunan Ampel. Seingat saya, Pak De Karwo dan Gus Ipul, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Hadir.
Kali ini saya hadir sebagai bagian dari jamaah Masjid Al Akbar, Masjid Nasional, yang jamaah shalat Idul Fitrinya sangat banyak. Sayang tidak didapatkan data yang lengkap tetapi perkiraan ada sekitar 1000an jamaah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jamaah shalat idul fitri maupun idul adha selalu membeludak. Shalat jamaah idul fitri dan shalat jamaah idul adha memang di mana-mana dibanjiri oleh umat Islam.
Kali ini saya tertarik dengan para pengabdi masjid. Mereka adalah panitia penyelenggara shalat Idul Fitri, bukan pada level pimpinannya akan tetapi para pelaksana yang sibuk mengatur tempat para anggota jamaah. Mereka adalah orang-orang yang mengabdi tanpa referensi politik, tanpa kepentingan dan tanpa keinginan untuk mendapatkan pujian. Mereka bekerja dengan tenaga yang lebih besar dibandingkan dengan pikiran. Yang berpikir biasanya para pimpinan dengan instruksi sana-sini dengan tata cara ini dan itu. Para pimpinan lebih sibuk mengatur para pejabat yang datang, siapa saja mereka, di mana tempatnya dan sebelum pelaksanaan shalat di mana tempat singgahnya. Ini pekerjaan para pimpinan. Mereka terkadang lebih sibuk untuk pelayanan-pelayanan yang sesungguhnya bercorak profan. Saya tentu punya pengalaman seperti itu.
Tetapi yang saya amati ini benar-benar orang yang melakukan pengabdian kepada masjid. Mereka adalah orang yang memiliki sejumlah keikhlasan dalam pengabdian. Mereka menempati tempat yang vital di dalam masjid sambil terus menerus mengarahkan para jamaah pada umumnya yang akan mengikuti shalat id dan khutbah shalat id. Sesungguhnya mereka inilah yang mengabdikan diri untuk masjid-masjid yang dijadikan sebagai tempat ibadah.
Mereka memang disediakan baju yang khas. Melihat keseragamannya pasti biayanya dari proyek pengadaan baju dari takmir masjid. Mereka memakai sarung, dalamannya pakaian putih dimasukkan dalam lipatan sarung dan dipadukan dengan jas warna abu-abu dan kopyah hitam. Sungguh serasi. Pintar juga para pimpinan atau takmir masjid memilih warnanya. Tidak berwarna biru atau hijau yang selama ini menjadi ciri khas pakaian takmir dan anggota takmir masjid.
Mereka berdiri misalnya di pintu-pintu yang jamaah akan masuk di dalam ruangan dalam masjid, atau menempati tempat yang terdapat banyak kerumunan, misalnya pintu masuk halaman masjid. Tangannya terus bergerak mengarahkan para jamaah yang baru datang. Hal itu terus dilakukan sampai ada aba-aba bahwa shalat idul fitri akan dimulai. Shalat jamaah idul fitri dimulai pada pukul 06.06 WIB. Demikianlah pengumuman dari protocol yang kita dengar melalui loudspeaker.
Kala shalat saja mereka berhenti tidak mengarahkan para jamaah. Semua tentu ikut shalat berjamaah. Begitu khutbah dimulai, maka mereka kembali ke tugas semula untuk mengatur jamaah. Maklumlah kala khutbah diberlangsungkan ternyata sudah ada jamaah masjid yang keluar. Mereka memanfaatkan waktu khutbah untuk bergeser lebih keluar untuk menghindari kemacetan. Memang crowded di sekitar Masjid Al Akbar.
Dalam sejarah penyebaran Islam, maka selalu ada orang-orang yang memiliki tugas khusus seperti ini. Di Masjid Sunan Ampel, pada waktu kanjeng Sunan Ampel menyebarkan Islam di tanah Jawa dan sekitarnya juga terdapat seorang yang menjadi murid kesayangannya Kanjeng Eyang Ampel. Beliau adalah Mbah Bolong. Bagian dari wali Allah yang makamnya di dekat pintu masuk makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel.
Di masjid Nabawi Madinah juga terdapat sebanyak 200-an orang yang bekerja untuk menjaga kebersihan dan perawatan Masjid Nabawi. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Di Madinah mereka bekerja dengan tenaga kerja dari Bangladesh, India, Pakistan dan juga orang Arab. Bisyarahnya sebanyak 750 riyal sebulan, dengan durasi waktu bekerja selama delapan jam. Mereka bekerja secara bergiliran. Tidak hanya lelaki yang bekerja tetapi juga perempuan. Berdasarkan data pada tahun 2016 terdapat sebanyak 977 orang Indonesia yang bekerja di Timur Tengah.
Di dalam Sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW juga memiliki sahabat yang luar biasa. Sebelumnya adalah budak, lalu dibebaskan dan kemudian menjadi pengikut setia Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sahabat Bilal namanya. Dunia mengenalnya sebagai muadzin Rasulullah. Bilal dan lainnya adalah para sahabat yang bekerja untuk mengabdi kepada Allah SWT dengan instrument bekerja di masjid. Mereka adalah orang yang mendarmabaktikan dirinya untuk Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.

