Persepsi Sosial Positif Kinerja Pemerintah: 100 Hari Kepemimpinan Prabowo
OpiniAda rasa optimis yang diberikan kepada Pemerintahan Prabowo-Gibran dalam penilaian kinerjanya. Rasa optimis tersebut tentu dikaitkan dengan capaian kinerja 100 hari pemerintahannya. Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh Kompas, bahwa masyarakat menilai capaian kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran dengan angka yang sangat meyakinkan, 80,9%. Artinya, bahwa masyarakat mempersepsikan bahwa Pemerintahan Prabowo-Gibran dapat melahirkan optimisme yang sangat besar. Survey dilakukan pada 04-10 Januari 2025 dengan 1.000 responden yang dipilih secara acak melalui metode sampling sistematis bertingkat di 38 Provinsi di Indonesia dengan standart kepercayaan 95 % dan standart error 3,10 %.
Namun kita belum bisa untuk terlalu optimis, sebab ini baru capaian 100 hari. Tampak bahwa masyarakat masih terkesan dengan berbagai pidato dan manuver Prabowo dalam memimpin Indonesia. Jika dihitung dalam masa jabatan presiden, maka masih ada empat tahun dan 265 hari lagi. Pada saat akhir jabatan tersebut, maka akan diketahui bahwa Prabowo berhasil atau tidak. Tentu yang kita harapkan bahwa Prabowo akan dapat menyelesaikan tugasnya sebagai presiden Indonesia dengan capaian gemilang, yang ditandai paling dominan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan survey tersebut diketahui bahwa 84,7 % kalangan bawah mengaku puas atas kinerja pemerintah, 81,4 % kalangan menengah bawah mengaku puas, 75,3 % kalangan menengah atas mengaku puas, dan 67 % kalangan atas mengaku puas atas kepemimpinan Prabowo-Gibran. Data ini juga mengungkap bahwa semakin tinggi status social ekonomi semakin rendah persepsi social atas kinerja pemerintah.
Citra kepemimpinan Prabowo berdasarkan skala kesetujuan, maka didapatkan angka sangat baik sebesar 15,7 %, baik 78,4 %, buruk 3,7 %, sangat buruk 0,5 % dan tidak tahu 1,7 %. Sedangkan bagi Gibran diperoleh angka sangat baik 9,3 %, baik 70 %, buruk 14 %, sangat buruk 2,3 % dan tidak tahu 3,6 %. Jika kita amati secara selintas, maka ada relevansi antara pandangan public atas kesetujuan kepemimpinan Prabowo-Gibran dengan penilaian atas kinerjanya. Terdapat relevansi sikap atas kepemimpinan dalam persepsi public dan capaian kinerjanya.
Survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey sesungguhnya berada di dalam konteks menghasilkan persepsi atau potensi. Misalnya survey tentang indeks persepsi korupsi (IPK), atau survey tentang Indeks Kerukunan Beragama (IKB), dan sebagainya. Maka, survey tentang kinerja presiden juga merupakan angka persepsi public tentang bagaimanakah kinerja presiden dan wakil presiden. Oleh karena itu, angka 80,2 persen kepuasan kinerja juga merupakan persepsi public atas kinerja yang dilakukan pemerintah.
Berdasarkan teori persepsi social, maka dipahami bahwa persepsi social adalah pandangan atau persepsi social tentang lingkungan sosialnya. Memahami kinerja pemimpin dalam berbagai levelnya adalah pemahaman tentang bagaimana persepsi mereka tentang kepemimpinan tersebut. Jadi, persepsi social berbicara tentang bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan tentang obyek atau kejadian, fenomena, fakta dan realitas social berbasis pada pengamatan, komunikasi dan interaksi social di antara mereka.
Persepsi social terjadi melalui proses pengamatan atau observasi, yaitu proses untuk mengumpulkan berbagai informasi yang didapatkan dan dipadukan dengan sejumlah pengetahuan yang terdapat di dalam sensory storage. Kemudian diolah untuk dijadikan sebagai bahan pengetahuan yang dapat membentuk persepsi dan berikutnya dianalisis berdasarkan pengetahuan, nilai-nilai dan pengalaman yang relevan dengan kepentingannya. Orang yang berbeda pengetahuan dan pengalaman akan berbeda pula persepsinya terhadap obyek atau subyek persepsi.
Dewasa ini, masyarakat sudah melek tehnologi informasi. Nyaris seluruh masyarakat Indonesia sudah menggunakan internet. Bahkan di kalangan GenZ dikenal konsep internetholic, dan rasanya nyaris semua masyarakat Indonesia sudah berada di dalam kawasan literasi media social. Tayangan-tayangan pidato dan tindakan Prabowo dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat. Di era media social sebagai raja dan pasar raya informasi, maka masyarakat dapat menggunakannya secara aktif. Dari factor inilah sesungguhnya media social dapat menjadi factor penyebab atas tingkatan persepsi social dimaksud.
Teori yang dapat digunakan untuk menganalisis persepsi social atas kinerja Prabowo dalam 100 hari adalah teori Persepsi Kognitif (Festinger, 1957), dengan proposisi bahwa individu mempersepsikan dan menafsirkan informasi social berdasarkan proses kognisi. Teori ini termasuk dalam jajaran psikhologi kognitif. Jadi persepsi social itu tergantung pada bagaimana individu-individu menafsirkan atas informasi social berdasarkan proses kognisi. Sedangkan proses kognisi adalah proses yang dilalui dari menerima informasi, menyaring informasi, memasukkan informasi yang positif dan menyimpannya di gudang inderawi dan membuang atas informasi negative. Bisa juga informasi negative yang terkait dengan diri seseorang justru akan disimpan dalam waktu yang lama dan akan diingat jika terdapat stimulus yang mengenainya. Ada fenomena yang dinyatakan sebagai architype atau pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam jangka panjang dan jika terdaoat stimulus yang mengingatkannya, maka pengetahuan atas fenomena itu akan muncul kembali.
Seseorang akan bisa mengingat kembali atas pidato-pidato politik Prabowo dan kemudian membandingkannya dengan tindakan politiknya. Jika ada kesesuaian, maka akan menghasilkan persepsi positif atau kesetujuan atas tindakannya, dan jika kemudian terjadi gap di antaranya, maka akan menimbulkan persepsi negative.
Jika kemudian Prabowo memperoleh nilai sebesar 80,2 % dalam pandangan public atas kinerjanya, maka berarti bahwa masyarakat menilai ada kesesuaian antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

